Ada sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi diam-diam mengguncang cara kita memandang kehidupan:
**Mengapa kita begitu membenci setan, tetapi pada saat yang sama mencintai penciptanya?**
Kita menyebut nama setan dengan penuh kebencian. Kita mengutuk godaannya, menjauhi bisikannya, dan memohon perlindungan Tuhan darinya. Tetapi Tuhan yang menciptakan setan itu justru kita cintai, kita sembah, kita puji dalam setiap doa.
Bukankah di sana ada sebuah paradoks?
Mungkin jawabannya terletak pada satu hal yang sering kita lupakan: **Tuhan tidak menciptakan kejahatan sebagai kejahatan.**
Setan, dalam kisah keagamaan, bukanlah makhluk yang sejak awal diciptakan untuk menjadi jahat. Ia memiliki kehendak. Ia memiliki pilihan. Dan justru dari pilihan itulah pembangkangan lahir.
Tuhan menciptakan manusia dengan kebebasan memilih. Demikian pula makhluk yang diberi kehendak. Ada jalan menuju cahaya, ada pula jalan menuju kegelapan.
Karena itu, membenci setan tidak berarti membenci ciptaannya. Kita membenci **kesombongan, pembangkangan, tipu daya, dan kejahatan** yang dipilihnya.
Seperti kita membenci racun, tetapi tidak membenci orang yang menciptakan alam tempat racun itu ada.
Atau kita membenci api ketika membakar rumah, tetapi tidak serta-merta membenci Sang Pencipta yang menjadikan api sebagai bagian dari hukum alam.
Barangkali kehidupan memang tidak pernah hanya terdiri dari putih dan hitam. Di antara keduanya terdapat ruang yang disebut **pilihan**.
Setan menggoda, tetapi tidak memaksa.
Manusia tergelincir, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk kembali.
Dan di situlah cinta kepada Tuhan menemukan maknanya.
Kita mencintai Tuhan bukan karena dunia selalu baik. Bukan karena hidup selalu mudah. Bukan karena tidak ada penderitaan, godaan, kejahatan, atau ketidakadilan.
Kita mencintai Tuhan karena di tengah semua itu, **Dia masih memberi kita jalan untuk memilih.**
Setiap kali kita menolak keserakahan, kita sedang memilih.
Setiap kali kita menahan amarah, kita sedang memilih.
Setiap kali kita mengembalikan hak orang lain, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat, kita sedang memilih.
Dan setiap kali kita jatuh lalu berkata, *“Ya Allah, aku ingin kembali,”* sebenarnya kita sedang mengetuk pintu yang tidak pernah tertutup.
Mungkin karena itu, persoalan terbesar manusia bukanlah keberadaan setan.
Persoalan terbesar adalah **ketika manusia mulai mencintai apa yang dibisikkan setan.**
Ketika kesombongan dianggap harga diri.
Ketika kerakusan disebut kesuksesan.
Ketika korupsi disebut kesempatan.
Ketika kebohongan disebut strategi.
Ketika menyakiti orang lain dianggap sebagai kemenangan.
Pada titik itu, manusia tidak lagi membutuhkan setan untuk melakukan kejahatan. Ia sudah mampu menjadi setan bagi sesamanya.
Maka barangkali pertanyaan kita perlu dibalik:
**Bukan hanya, “Mengapa aku membenci setan?”**
Tetapi:
**“Mengapa aku masih mengikuti sesuatu yang sebenarnya aku benci?”**
Kita sering memusuhi setan dalam doa, tetapi memberinya tempat dalam hati.
Kita mengutuk kejahatan, tetapi kadang berkompromi dengannya ketika kejahatan itu menguntungkan kita.
Kita meminta Tuhan menjauhkan kita dari godaan, tetapi diam-diam memelihara pintu menuju godaan itu.
Di situlah ironi manusia.
Kita ingin surga, tetapi kadang mencintai jalan yang menuju sebaliknya.
Maka mencintai Tuhan sesungguhnya bukan sekadar mengucapkan nama-Nya.
**Cinta kepada Tuhan harus menemukan bentuknya dalam akhlak.**
Dalam kejujuran ketika berbohong lebih menguntungkan.
Dalam keadilan ketika berlaku zalim terasa lebih mudah.
Dalam kesederhanaan ketika kesombongan sedang dipuja.
Dalam kasih sayang ketika kebencian terasa begitu nikmat.
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak sedang mencari manusia yang hanya pandai menyebut nama-Nya.
Tuhan mencari manusia yang, ketika diberi pilihan antara menjadi cahaya atau menjadi api bagi orang lain, **memilih untuk menjadi cahaya.**
Dan mungkin itulah jawaban paling sederhana dari pertanyaan tadi:
**Kita membenci setan karena ia memilih menjauh dari Tuhan. Kita mencintai Tuhan karena Dia selalu memberi kesempatan kepada manusia untuk kembali kepada-Nya.**
Setan mungkin membisikkan:
*”Tidak ada jalan pulang.”*
Tetapi Tuhan seakan berkata:
*”Selama engkau masih mau kembali, pintu itu belum tertutup.”*
Di antara dua suara itulah manusia menjalani hidupnya.
Dan setiap hari, kita memilih.
**Menjadi manusia yang dikuasai bisikan setan—atau manusia yang memilih untuk tetap mencintai Sang Pencipta.**






