Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Manusia, Hayawan yang Pandai Bermimpi

munira by munira
December 17, 2024
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Hidup manusia memang njlimet, rumit dalam keangkuhan dan penuh teka-teki. Meski dalam klasifikasi ilmu pengetahuan, ia hanyalah bagian dari *hayawan*, penghuni lapisan bumi yang masuk dalam golongan primata. Terhitung lebih cerdas daripada simpanse, tetapi tetap bersaudara dalam keluarga yang sama — satu garis darah dengan mereka yang menggantung di pohon, mencari buah-buahan di belantara. Namun, manusia istimewa: bukan karena tubuhnya, bukan pula karena ketangkasannya, melainkan karena satu hal yang menjadikannya *maha* berbahaya: kemampuan menciptakan ilusi.

Manusia, makhluk dengan akal budi yang justru kadang melampaui batas kesadaran. Dari akalnya lahir akal-akalan, dari kepintarannya muncul tipu daya. Dalam kerumitan nalar, ia memahat suatu mahakarya semu — *ilusi tuhan*. Sebuah dusta yang begitu dahsyat, begitu halus membuai, hingga tak hanya diyakini, tapi diwariskan dengan kebanggaan dari generasi ke generasi. Tuhan, bagi manusia, bukan sekadar gagasan; ia menjelma harapan, ketakutan, sekaligus pegangan ketika nalar tak sanggup lagi menjawab segala keterbatasan.

Bukankah ini ironi yang menakjubkan? Makhluk yang dianggap paling cerdas justru mahir menciptakan fantasi. *Tuhan*, yang semula lahir sebagai jawaban atas kegelapan, kemudian menjadi raksasa yang menutupi cahaya itu sendiri. Manusia membangun altar-altar pengharapan dan kepercayaan, mengukuhkan hukum-hukum *langit* yang tak pernah benar-benar menyentuh bumi. Di satu sisi, ia mengagungkan kebesaran ilmu pengetahuan, di sisi lain ia bertekuk lutut pada cerita-cerita mitos.

Kecerdasan primata ini memang tiada tanding, tetapi kebijaksanaannya menjadi pertanyaan. Apakah manusia sungguh lebih unggul dari simpanse ketika sebagian hidupnya terjerat ilusi ciptaannya sendiri? Ataukah perbedaan terbesar manusia dan hayawan lainnya adalah: manusia mampu berbohong pada dirinya sendiri?

Di ujung perenungan, dunia ini hanya panggung sandiwara. *Manusia* sang primata ulung, sutradara sekaligus pemainnya. Dengan bahasa, dengan budaya, ia merangkai realitas yang hanya nyata di kepalanya. Di sanalah *tuhan* dilahirkan — bukan dari langit, melainkan dari pergulatan akal yang mencari makna.

Manusia pun berjalan, menjelajahi kehidupan yang tak kunjung terjawab, sembari memeluk ilusi yang diciptakannya sendiri. Ia percaya bahwa ilusi itu *abadi*, meski sejatinya ia fana. Begitulah manusia: primata yang tidak hanya bermimpi, tetapi juga percaya pada mimpinya sebagai kenyataan. Dan mungkin, di situlah letak keagungannya sekaligus kelemahannya.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hidup Bukan Tentang Berapa Lama Berjalan, Tapi Bagaimana Menari Di Sepanjang Perjalanan Itu.

Next Post

Menelusuri Jejak Tuhan dalam Labirin Akal

munira

munira

Related Posts

Cinta Tanpa Penilaian

by munira
April 28, 2026
0

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni dan paling jujur, sering kali menuntut sesuatu yang terasa berlawanan dengan naluri kita: keberanian...

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Next Post
Menelusuri Jejak Tuhan dalam Labirin Akal

Menelusuri Jejak Tuhan dalam Labirin Akal

Langit Tak Pernah Terlalu Tinggi Untuk Disentuh, Samudra Tak Pernah Terlalu Luas untuk Dijelajahi.

Langit Tak Pernah Terlalu Tinggi Untuk Disentuh, Samudra Tak Pernah Terlalu Luas untuk Dijelajahi.

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Cinta Tanpa Penilaian
  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira