Kita datang ke sini untuk hidup. Tidak ada tujuan lain yang mesti diperdebatkan, tidak ada teka-teki yang perlu dipecahkan, tidak ada janji yang harus menunggu untuk ditepati. Hidup adalah sebuah perjalanan yang hadir di hadapan kita, seutuhnya, sepenuhnya.
Mereka yang berkata ada tempat yang lebih baik, surga yang lebih indah, kebahagiaan yang lebih sempurna—mengapa mereka menunggu? Jika memang benar tempat itu ada dan lebih baik dari dunia ini, mengapa menunda? Mengapa masih berpijak di tanah yang mereka anggap fana? Bukankah penundaan hanyalah bentuk dari ketidakyakinan? Atau barangkali, mereka pun tahu, bahwa hidup yang paling nyata hanyalah di sini, di bumi ini, di dunia yang sekarang kita jejaki.
Lihatlah, betapa seringnya manusia melupakan kehidupan karena menggantungkan asa pada dunia yang belum tentu nyata. Mereka memandang bumi ini seakan sebuah persinggahan sementara, bukan rumah sejati, lalu mereka menghancurkannya tanpa ragu. Hutan dibabat, sungai dicemari, laut ditumpahi limbah, udara dikotori kepulan keserakahan. Semua atas nama tempat yang lebih baik, yang entah di mana. Tidakkah ini sebuah kejahatan? Kejahatan terhadap kehidupan yang sesungguhnya telah diberikan kepada kita?
Ini adalah pesan yang paling penting bagi para pemuda: Jangan biarkan siapa pun mengatakan bahwa ada tempat yang lebih baik dari bumi ini, karena keyakinan semacam itu hanyalah dalih untuk mengabaikan keindahan yang sudah ada.
Kita datang ke sini untuk hidup. Untuk menghirup udara pagi dengan segala kesegarannya, untuk merasakan embun yang menetes di kulit, untuk melihat mentari menari di cakrawala, untuk mencintai, untuk bermimpi, untuk berjuang. Jika kita tak mampu menghargai hidup yang sekarang, apa jaminannya kita akan menghargai hidup di tempat lain?
Maka hiduplah, seutuhnya. Jangan tunduk pada janji-janji yang belum tentu nyata. Jangan menunggu surga ketika surga telah hadir di hadapanmu—di antara desir angin, di kelopak bunga yang mekar, di senyum seorang ibu, di genggaman tangan seorang kekasih, di dalam detak jantungmu sendiri.
Kita datang ke sini untuk hidup. Itu saja.






