Langit malam tak lagi sekadar gelap, tetapi menyimpan bisikan-bisikan dusta yang bergema di lorong-lorong kekuasaan. Istana berdiri megah, namun di dalamnya, janji-janji yang pernah dilontarkan kini gugur satu per satu, mengering seperti daun yang kehilangan musim.
Di balik tirai yang menjuntai, wajah-wajah tersenyum menyembunyikan kebusukan. Raja duduk di singgasananya, mahkotanya berkilau, tetapi cahaya itu tak lebih dari pantulan kosong. Tangannya terulur, seolah ingin menggenggam kepercayaan rakyatnya, tetapi yang tersisa hanyalah angin hampa. Ia berbicara tentang kesejahteraan, tentang masa depan yang gemilang, tetapi kata-katanya melayang seperti asap, menghilang sebelum sempat mengakar di tanah kenyataan.
Di sekelilingnya, para pujangga istana merajut kisah-kisah penuh tipu daya. Dengan lidah yang lihai, mereka melukis dunia yang tak pernah ada, membangun harapan yang tak berpondasi. Sementara itu, di luar dinding megah itu, rakyat menahan lapar. Mereka menanti keadilan yang dijanjikan, menunggu uluran tangan yang tak pernah datang.
Tapi sandiwara ini tak bisa bertahan selamanya. Ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan, seperti bara dalam abu yang siap menyala. Rakyat mulai menyadari bahwa dongeng yang mereka dengar hanyalah omong kosong yang diulang-ulang. Perlahan, suara mereka meninggi, mengalir seperti sungai yang tak bisa dibendung.
Ketika tembok istana mulai retak, ketika mahkota raja kehilangan sinarnya, tibalah saatnya kebenaran mengambil alih panggung. Kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan tak akan bertahan selamanya. Dan sejarah akan mencatat—bukan mereka yang bertahta dalam dusta, tetapi mereka yang berani menggenggam keadilan.






