Sudah tujuh belas tahun sejak Januari 2007, aku berdiri dengan payung hitam menghadap ke Istana. Setiap Kamis sore, aku hadir untuk menyampaikan pesan agar kejahatan HAM masa lalu, termasuk peristiwa Mei 1998, diselesaikan.
Kenangan tentangmu, kekasihku yang mati tertembak dalam peristiwa Trisakti 1998, membuatku bertekad untuk tetap berada di depan Istana. Kisah cinta kita yang abadi membuatku mengambil keputusan untuk tidak menikah seumur hidup, membingkai seluruh kenangan cinta kita dalam perjuanganku sebagai aktivis. Aku mendirikan yayasan yang bergerak di bidang pembelaan hukum, membela hak-hak rakyat yang mengalami diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan.
Masih kuingat perdebatan kita satu hari sebelum kematianmu—perdebatan panjang antara harapan, kecemasan, dan kekhawatiran akan keselamatanmu. Sebagai aktivis kampus dan jajaran BEM pada Januari-Mei 1998, tekanan serta ancaman penembakan dan penjemputan paksa menghantui. Aku mengkhawatirkanmu. Aku mengingatkan bahwa kita akan menikah tiga bulan lagi setelah wisudamu bulan depan. Masa pacaran kita yang panjang, sejak SMA hingga hampir delapan tahun, membuatku sangat berharap bisa melihat pernikahan kita terwujud dan anak-anak kita tumbuh besar bersama.
Ketika aku membicarakan kekhawatiranku dan memintamu mengurangi aktivitas berdemo serta pengorganisasian massa karena meningkatnya intimidasi terhadap aktivis, jawabanmu mengejutkanku hingga aku menangis.
“Novi, sejak kapan kamu berubah menjadi manusia oportunis dan munafik yang hanya mementingkan dirimu dan masa depanmu sendiri?” tanyamu dengan nada tinggi.
“Kamu mengkhawatirkan masa depan kita, tetapi mengabaikan anak-anak dan perempuan lain yang kehilangan ayah mereka tanpa tahu keberadaannya, tanpa menemukan jasadnya—seperti Wiji Thukul. Egois sekali caramu berpikir,” lanjutmu dengan ketus.
Aku terdiam. Lalu kau mengutip pidatomu dalam demonstrasi:
“Tidak ada kemerdekaan jika penjajahan dalam bentuk feodalisme dan fasisme masih menjadi wajah rezim hari ini. Fasisme adalah ideologi absolut yang memposisikan perintah pemimpin laksana titah raja. Ia tumbuh subur dalam kultur feodalistik, disemai dalam budaya hamba yang membungkuk kepada majikan secara berlebihan. Feodalisme menjauhkan rakyat dari cita-cita kesetaraan dan keadilan, sekaligus meminggirkan hak mereka untuk mengaktualisasi dirinya. Feodalisme bahkan mengundang masuk fasisme, membuka jalan bagi kebencian antar-etnis dan agama.” (Sjahrir, 1994: 11-12)
Aku ingin menolak kata-katamu, tetapi aku tahu itu benar. Lalu kau melanjutkan:
“Sudahkah kau memahami apa yang aku pidatokan hari ini, Novi? Apa yang diperjuangkan mahasiswa, buruh, dan masyarakat akar rumput adalah keadilan dan kesetaraan. Karena itulah cara kita memanusiakan manusia. Apa gunanya perayaan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus jika esensinya—mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan mencerdaskan rakyat, terutama pemuda—tidak terwujud?”
Itulah percakapan dan perdebatan terakhir kita.
Keesokan harinya, pukul lima sore, aku dan ibumu berdiri di kamar mayat rumah sakit. Kau anak tunggal. Ayahmu telah tiada sejak kau kecil. Kami hanya bisa menangis pilu di hadapan jasadmu.
Hari-hari setelahnya adalah hari-hari yang penuh luka, kenangan, dan kebanggaan. Luka karena kehilanganmu. Kenangan akan cinta kita. Kebanggaan karena kau adalah simbol perjuangan rakyat.
Keputusanku untuk tidak menikah adalah wujud kesetiaanku padamu dan bentuk penghormatan terhadap perjuanganmu. Selama tujuh tahun, aku dan ibumu berdiri setiap Kamis sore di depan Istana, menyerukan penyelesaian kasus pelanggaran HAM 1998. Sepuluh tahun terakhir, aku berdiri sendirian karena ibumu telah menyusulmu.
Aku mengabdikan hidupku untuk perjuangan mencerdaskan rakyat melalui pembelaan hukum. Aku menolak setiap jabatan yang ditawarkan untuk membungkam suaraku yang kritis. Di meja kerjaku dan di depan kantor yayasan hukum yang kudirikan, terpajang fotomu. Itu menjadi pengingat bahwa perjuanganmu tetap abadi.
Rasa cintaku kepadamu terwujud dalam kerja nyata—membela rakyat miskin, mereka yang mengalami diskriminasi, intimidasi, dan ketidakadilan. Aku menjalani hari-hariku dengan wajah yang menua dan rambut yang memutih, mengenang semua yang telah kita lalui. Aku mengarsipkan pidato-pidatomu dan fotomu dalam buku. Setiap kali aku merindukanmu, aku membuka album itu, mengingatmu sebagai aktivis pergerakan kampus sekaligus cinta abadiku.
Selesai
Hikmah: Kesetiaan pada perjuangan dan cinta adalah bukti dari komitmen sejati.
Cerita ini tidak mewakili siapa pun.
Cerpen Kesetianku Mencintaimu Sampai Akhir merupakan karya Novita Sari Yahya yang menjadi karya terpilih dalam Lomba Nasional yang diselenggarakan oleh Mahirnulis dan dipublikasikan dalam buku Ketika Cinta Menyapa. Karya ini juga mendapatkan sertifikat penulis terpilih dari berbagai Lomba Nasional dan diterbitkan dalam buku antologi cerpen berjudul Romansa Cinta.
Tentang Penulis: Novita Sari Yahya adalah ibu dari dua putra dan satu putri. Sehari-hari, ia beraktivitas sebagai penulis, peneliti, model platform digital internasional, serta National Director Indonesia.




