Mencintai berarti berkorban dan melakukan yang terbaik untuk yang dicintai. Itulah narasi yang bisa menggambarkan hubungan kita.
Pesonamu membuatku mencintaimu dalam diam. Aku, lelakimu yang selalu melindungimu dalam kondisi apa pun.
Kita bertemu saat itu. Kamu, ibu dari satu putra dengan status single parent. Aku, suami dan ayah dari dua orang putra, dengan status pisah ranjang dengan istriku.
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Pesonamu luar biasa, membuatku tak mampu melupakanmu. Tapi jalan pikirmu dan tindakan yang kamu ambil berbeda dari perempuan lainnya. Kamu keras kepala dengan prinsip yang kamu yakini.
Ketika aku mulai mendekatimu, justru kamu menghilang. Dalam kepergianmu tanpa berita, aku masih mendengar kisahmu—bahwa kamu terus bergerak, melawan kekuasaan. Kamu melawan dengan tulisan di media dan puisi.
“Terlalu berani perempuan itu,” ucap salah satu intel di lapangan dalam laporannya.
Kubaca laporan tentangmu di mejaku. Aku hanya terdiam, membaca hasil pemantauan di media sosial tentang langkah dan gerak-gerikmu. Perempuan yang pernah kucintai ini keras kepala, tak bisa dikendalikan, dan berani berseberangan dengan banyak kepentingan.
“Dia cuma perempuan, seberapa besar nyalinya?” balas seorang informan.
“Ditiduri juga diam,” timpal yang lain.
Tapi apakah benar setelah ditiduri kamu akan diam? Aku terdiam, merenungkan kembali hubungan satu malam kita sebelum kamu menghilang. Hubungan yang selama bertahun-tahun tak pernah bisa kulupakan. Kamu membangkitkan gairah liarku, memuaskanku dengan semua pesonamu di tempat tidur. Tatapan matamu, lekuk tubuhmu, desahan dan eranganmu masih terasa dalam tidur malamku.
Kamu adalah perpaduan kecantikan fisik, kecerdasan, dan kebinalan betina. Aku jatuh cinta pada seluruh pesonamu. Bahkan wanita-wanita setelahmu tak pernah bisa menghapus memori itu.
Setelah lima jam berbaring bersama, kamu bangkit, membalut tubuhmu, dan menatapku.
“Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi. Aku tahu siapa kamu, seorang informan.”
Aku terdiam.
“Aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan pria yang menyediakan dirinya untuk menghabisi aktivis dan memberangus pemikiran,” lanjutmu. “Demokrasi dibangun dari perdebatan dan dialektika pemikiran.”
Aku bangkit, memelukmu dari belakang.
“Coba kamu lihat dunia dari sudut pandang lain. Kamu perempuan. Kamu butuh pria, kehidupan nyaman, uang, dan hidup berkecukupan. Tinggallah bersamaku. Jadilah perempuanku,” bujukku.
Secara mengejutkan, kamu menolak tubuhku.
“Itu yang kalian tidak pahami tentang aku dan pergerakan kami,” jawabmu tajam. “Kalian tidak punya empati pada rakyat yang diusir, dirampas tanahnya, dan tak tahu harus makan apa hari ini. Kalian hanya peduli pada kekuasaan dan menyediakan diri menjadi jongos agar bisa hidup mewah, berfoya-foya di atas penderitaan rakyat.”
Aku terdiam. Kamu bangkit, mandi, lalu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
“Aku akan pergi. Jangan cari aku. Anggap saja aku sudah mati,” ucapmu sambil menepis tanganku.
Sepuluh tahun berlalu. Aku selalu mencoba mencarimu, tapi kamu selalu selangkah lebih maju, menghilang sebelum aku tiba. “Licin seperti belut. Tapi apakah dia juga selicin itu di tempat tidur?” candaan anak buahku tentangmu masih terngiang.
Hingga suatu hari, kamu akhirnya membalas pesanku dan setuju bertemu di sebuah tempat dekat danau.
Kamu datang tepat waktu.
Aku terpana. Kamu masih secantik dulu di usiamu yang ke-45. Namun, tatapan matamu dingin.
“Apa kabar?” sapamu, mengulurkan tangan.
“Baik,” balasku.
Setelah memesan makanan, kamu mulai berbicara dengan tenang.
“Aku bertemu denganmu hari ini mewakili suara rakyat di akar rumput dan pergerakan bawah tanah,” katamu. “Suara mereka harus kamu sampaikan kepada bos-bosmu. Kerusakan, pemiskinan, dan pembodohan rakyat harus segera dihentikan. Jika tidak, revolusi akan terjadi.”
Dan benar. Kondisi memburuk. Harga kebutuhan pokok melambung. Demo meledak setiap hari. Seruan revolusi menggema. Akhirnya, revolusi benar-benar terjadi.
Aku melihat pidatomu di televisi. Kamu, pemimpin revolusi yang menjanjikan pemilu demokratis secepatnya.
Saat aku dipanggil menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, yang melantikku adalah dirimu—presiden pertama di negara ini, perempuan pertama yang memimpin revolusi.
Saat melantikku, kamu berbisik, “Terima kasih karena tidak menembakku.”
Lima tahun berlalu. Pemilu demokratis kedua dilaksanakan. Dunia memujinya sebagai demokrasi terbaik. Kamu, dalam masa kepemimpinanmu, mewujudkan kesejahteraan rakyat. Subsidi makanan bagi perempuan dan anak, sekolah gratis, beasiswa, kabinet berisi orang-orang kompeten. Negara berubah dari sarang koruptor menjadi tanah keadilan.
Ketika wartawan bertanya bagaimana kamu mengubah negeri ini, jawabmu, “Kesungguhan bekerja untuk rakyat miskin dan melayani mereka. Itu jalan kemanusiaan kita.”
Di usiamu yang ke-51, kamu mengucapkan pidato terakhir sebagai presiden. Kamu menolak mencalonkan diri kembali meskipun konstitusi mengizinkan.
“Kemanusiaan kita abadi jika kita sungguh-sungguh bekerja untuk rakyat miskin dan melayani mereka,” ujarmu di panggung.
Enam bulan setelah melepas jabatan, kamu memilih hidup di daerah pertanian.
Di meja kerjamu, ada foto kita: aku, kamu, kedua putraku, dan putramu.
Setiap hari adalah masa yang bahagia, penuh cinta. Aku bangga menjadi lelakimu.
Sekarang aku mengerti apa yang kamu perjuangkan. Kamu adalah kesempurnaan perempuan yang sederhana dan anggun.
Aku bangga menjadi lelakimu.
Catatan: Nama dan cerita tidak mewakili negara atau individu mana pun.
Novita Sari Yahya
Cerpen Kesetiaan Lelakimu merupakan karya terpilih dalam Lomba Cerpen Nasional Oktober 2024 dan dibukukan dalam Romansa Tinggal Kenangan oleh penerbit CV Lingkar Penulis.
Cerpen ini juga merupakan bagian dari antologi Romansa Cinta karya Novita Sari Yahya.





