Sandiwara Kedustaan di Istana
Di bawah langit kelam yang merintik dusta,
Istana berselimut janji yang mekar lalu layu.
Rakyat menggigil, tercekik dalam tawa palsu,
Sementara para pujangga istana merajut tipu.
Lihatlah raja, mahkotanya berkilau pudar,
Tangannya terjulur, tapi tak pernah menggapai.
Di balik dinding emas dan jubah yang mewah,
Hanya angin busuk yang berbisik sunyi.
Tukang ngibul bicara tentang masa depan,
Sementara perut rakyat kosong, kering kerontang.
Dongeng mereka lebih indah dari kenyataan,
Tapi esok tetap kelam, harapan jadi abu.
Hingar-bingar pesta berbaur dengan dusta,
Tirai istana menari dalam bayang-bayang nista.
Siapa yang bicara tentang kebenaran,
Akan dibungkam oleh tangan-tangan kekuasaan.
Namun, lihatlah cahaya kecil di sudut gelap,
Rakyat menggenggam nyala yang tak padam.
Mereka bangkit, menggugurkan sandiwara,
Menggulung tiran dalam gelombang yang bergemuruh.
Dan ketika istana akhirnya retak dan roboh,
Ketika mahkota jatuh dari kepala yang goyah,
Hanya satu pelajaran yang tertulis di dinding sejarah:
Kekuasaan tanpa keadilan hanyalah bayangan yang musnah.





