Ada waktu di mana hidup terasa abadi—ketika tawa bergema, ketika cahaya matahari jatuh lembut di wajah orang-orang tercinta. Namun sejatinya, semua ini hanyalah persinggahan. Hari ini, mereka ada di sisimu. Esok, mungkin bayangnya pun telah raib. Hari ini, kamu bisa berkata, mencinta, memeluk, meminta maaf. Esok, barangkali lidahmu kelu, dan dunia menjadi terlalu sunyi untuk menjawab.
Ini bukan dongeng yang dibisikkan para pujangga. Bukan pula gagasan sentimental yang disulam oleh hati yang melankolis. Ini adalah kenyataan yang tak bisa ditawar: hidup kita terbatas. Seperti senja yang tak bisa menolak malam, kita semua akan tenggelam dalam waktu. “We are all visitors to this time, this place. We are just passing through,” kata pepatah Aborigin. Dan karena itu, setiap detik menjadi suci.
Yang sering membuat kita lupa bukan keburukan, melainkan kelalaian. Kita menunda untuk mencintai. Kita mengira esok masih punya ruang. Kita menyangka hidup bisa diulang. Dan ketika kita lupa bahwa kita akan mati, kita pun hidup seolah tak perlu berarti.
Tapi, coba renungkan: andai setiap hari dijalani dengan kesadaran bahwa ini bisa menjadi yang terakhir, betapa lembutnya tuturmu, betapa penuh perhatian tatapanmu, betapa tulusnya caramu hadir untuk yang lain. Bukan demi pujian, bukan demi dikenang, tapi karena kamu tahu—ini satu-satunya waktu yang kamu punya.
“Kematian bukan lawan dari kehidupan, tapi bagian darinya,” tulis Haruki Murakami. Dalam kesementaraan itulah, justru makna lahir. Dalam kefanaan, keindahan mendapatkan nyawanya. Bukankah bunga sakura menjadi begitu indah justru karena ia lekas gugur?
Maka marilah, dengan kesadaran yang utuh akan batas waktu, kita hadir sepenuhnya untuk diri sendiri dan bagi siapa pun yang tengah berjalan bersama. Tak perlu hal besar—senyum yang tak ditahan, uluran tangan yang tak ditunda, maaf yang diberi tanpa syarat. Hal-hal kecil itulah yang menjahit makna ke dalam hidup kita yang singkat ini.
Jika kita mengerti betapa sebentarnya perjalanan ini, kita takkan membuang waktu pada hal yang remeh. Kita takkan mengisi dada dengan dendam, atau hari-hari dengan penyesalan. Kita akan memilih untuk menjadi cahaya, meski kecil, bagi siapa pun yang sempat melihat kita.
Karena kita fana, maka kita harus berarti.
Karena kita singkat, maka kita harus bersinar.
Dan selagi masih ada waktu, mari kita jadikan hidup ini sebuah karya yang tak perlu abadi, asal sepenuh hati.
@ali.syarief01 Disuatu Hari Nanti
♬ suara asli – Ali Syarief – アリ・シャリーフ – Ali Syarief – アリ・シャリーフ





