Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Kita Hanya Persinggahan: Maka Tinggalkan Jejak yang Lembut

munira by munira
July 22, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ada waktu di mana hidup terasa abadi—ketika tawa bergema, ketika cahaya matahari jatuh lembut di wajah orang-orang tercinta. Namun sejatinya, semua ini hanyalah persinggahan. Hari ini, mereka ada di sisimu. Esok, mungkin bayangnya pun telah raib. Hari ini, kamu bisa berkata, mencinta, memeluk, meminta maaf. Esok, barangkali lidahmu kelu, dan dunia menjadi terlalu sunyi untuk menjawab.

Ini bukan dongeng yang dibisikkan para pujangga. Bukan pula gagasan sentimental yang disulam oleh hati yang melankolis. Ini adalah kenyataan yang tak bisa ditawar: hidup kita terbatas. Seperti senja yang tak bisa menolak malam, kita semua akan tenggelam dalam waktu. “We are all visitors to this time, this place. We are just passing through,” kata pepatah Aborigin. Dan karena itu, setiap detik menjadi suci.

Yang sering membuat kita lupa bukan keburukan, melainkan kelalaian. Kita menunda untuk mencintai. Kita mengira esok masih punya ruang. Kita menyangka hidup bisa diulang. Dan ketika kita lupa bahwa kita akan mati, kita pun hidup seolah tak perlu berarti.

Tapi, coba renungkan: andai setiap hari dijalani dengan kesadaran bahwa ini bisa menjadi yang terakhir, betapa lembutnya tuturmu, betapa penuh perhatian tatapanmu, betapa tulusnya caramu hadir untuk yang lain. Bukan demi pujian, bukan demi dikenang, tapi karena kamu tahu—ini satu-satunya waktu yang kamu punya.

“Kematian bukan lawan dari kehidupan, tapi bagian darinya,” tulis Haruki Murakami. Dalam kesementaraan itulah, justru makna lahir. Dalam kefanaan, keindahan mendapatkan nyawanya. Bukankah bunga sakura menjadi begitu indah justru karena ia lekas gugur?

Maka marilah, dengan kesadaran yang utuh akan batas waktu, kita hadir sepenuhnya untuk diri sendiri dan bagi siapa pun yang tengah berjalan bersama. Tak perlu hal besar—senyum yang tak ditahan, uluran tangan yang tak ditunda, maaf yang diberi tanpa syarat. Hal-hal kecil itulah yang menjahit makna ke dalam hidup kita yang singkat ini.

Jika kita mengerti betapa sebentarnya perjalanan ini, kita takkan membuang waktu pada hal yang remeh. Kita takkan mengisi dada dengan dendam, atau hari-hari dengan penyesalan. Kita akan memilih untuk menjadi cahaya, meski kecil, bagi siapa pun yang sempat melihat kita.

Karena kita fana, maka kita harus berarti.
Karena kita singkat, maka kita harus bersinar.

Dan selagi masih ada waktu, mari kita jadikan hidup ini sebuah karya yang tak perlu abadi, asal sepenuh hati.

@ali.syarief01

Disuatu Hari Nanti

♬ suara asli – Ali Syarief – アリ・シャリーフ – Ali Syarief – アリ・シャリーフ

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Restoran Salah Pesan, Tapi Tepat dalam Kemanusiaan

Next Post

Ketika Tuhan Ditemukan di Tengah Ketidaktahuan

munira

munira

Related Posts

Cinta Tanpa Penilaian

by munira
April 28, 2026
0

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni dan paling jujur, sering kali menuntut sesuatu yang terasa berlawanan dengan naluri kita: keberanian...

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Next Post

Ketika Tuhan Ditemukan di Tengah Ketidaktahuan

Mengukur Hidup, Menimbang Sunyi

Mengukur Hidup, Menimbang Sunyi

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Cinta Tanpa Penilaian
  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira