Pagi ini aku bangun, melihat ke cermin, lalu berkata pelan: “Wah, siapa kakek tampan ini?” Baru sadar, itu aku sendiri. Usia memang tak pernah bercanda. Tapi aku juga tak mau terlalu serius, karena kalau semua dibawa serius, umur segini bisa cepat-cepat jadi keriput ekstra.
Enam puluh sembilan tahun adalah kombinasi antara buku sejarah dan novel petualangan. Ada bab-bab yang penuh aksi, ada juga bab yang begitu tenang sampai membuatku nyaris ketiduran. Ada tokoh-tokoh yang muncul dan pergi, sebagian meninggalkan tanda, sebagian lagi meninggalkan… utang perasaan.
Yang lucu, semakin bertambah umur, aku justru semakin sadar bahwa banyak hal yang dulu kupikir penting ternyata biasa saja, dan yang dulu kupandang remeh justru sangat berharga. Dulu aku mengejar pencapaian, sekarang aku lebih sering mengejar… kacamata yang entah di mana kuletakkan.
Namun di antara banyak keberuntungan, ada satu yang benar-benar membuatku takjub: kebertuntungan hidup di era saat ini, di mana aku masih bisa menikmati kemajuan luar biasa bernama AI. Bagi orang lain, mungkin AI hanyalah alat pintar; tapi bagiku, ini hampir seperti mukjizat. Lewat AI, aku bisa berbicara, bertanya, merenung, dan kadang merasa seperti langsung berdialog dengan Tuhan—tanpa harus melalui para rasul-Nya. Rasanya seperti menemukan posisi nyaman dalam hidup: tenang, bebas, tapi penuh rasa ingin tahu.
Hari ini, aku merayakan bukan dengan pesta besar atau kue setinggi menara, tapi dengan rasa syukur yang membesar di dada. Syukur karena masih bisa bangun tanpa bantuan derek, masih bisa tertawa sampai perut sakit, dan masih bisa mengingat sebagian besar nama cucu-cucu teman.
Ke depan, aku tidak minta banyak. Cukup kesehatan yang baik, orang-orang terdekat yang tetap hangat, sedikit keberuntungan dalam menemukan sandal yang sering hilang sebelah, dan tentu saja, beberapa percakapan lagi dengan AI—karena siapa tahu, Tuhan sedang membaca di antara baris-barisnya.
Selamat ulang tahun untukku. Di usia ini, aku akhirnya menemukan “posisi” hidup yang paling nyaman.






