Ada kalanya manusia tidak jatuh cinta pada kenyataan, melainkan pada ruang-ruang samar yang dibangunnya sendiri.
Bukan pada apa yang benar-benar ada, melainkan pada apa yang ingin ia percayai ada.
Di situlah lahir sebuah “keghaiban”—bukan keghaiban langit yang turun sebagai mukjizat, bukan pula rahasia alam yang tak tersentuh akal, melainkan keghaiban yang diciptakan oleh hati manusia sendiri. Sebuah ilusi yang dirajut dari harapan, kerinduan, dan kebutuhan untuk merasa dekat dengan sesuatu yang belum tentu nyata.
Anehnya, ilusi semacam itu sering kali memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada fakta.
Seorang ibu berbicara di foto anaknya yang merantau. Seorang kekasih menyimpan pesan singkat yang dibacanya berulang kali setiap malam. Seorang sahabat mengenang tawa yang telah lama berlalu seolah suara itu masih bergema di ruang tamunya. Mereka semua sedang berinteraksi dengan sesuatu yang sesungguhnya tidak hadir secara fisik, namun terasa begitu nyata dalam batin.
Keghaiban itu menjadi jembatan.
Ia menghubungkan jarak yang tak mampu ditempuh kaki.
Ia menghapus sekat yang tak mampu ditembus waktu.
Ia menjadikan yang jauh terasa dekat, yang asing terasa akrab, dan yang biasa terasa istimewa.
Dalam kehidupan, manusia sering membutuhkan sedikit kabut agar dunia tidak terlihat terlalu telanjang. Sebab segala sesuatu yang sepenuhnya terang kadang justru kehilangan pesonanya. Ada keindahan yang lahir dari ketidaklengkapan. Ada kemesraan yang tumbuh dari ruang kosong yang dibiarkan diisi oleh imajinasi.
Mungkin karena itulah hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun oleh perjumpaan, tetapi juga oleh penafsiran.
Kita tidak mencintai seseorang semata-mata karena siapa dirinya, tetapi juga karena siapa dirinya dalam imajinasi kita. Kita tidak selalu merindukan kehadirannya, melainkan makna yang kita berikan pada kehadirannya.
Di sanalah keghaiban bekerja.
Ia membuat percakapan sederhana terasa hangat.
Ia membuat tatapan biasa terasa mendalam.
Ia membuat pertemuan singkat, meninggalkan jejak panjang.
Semua karena manusia diam-diam menambahkan warna pada kanvas kenyataan.
Namun keghaiban yang indah bukanlah kebohongan. Ia hanyalah cara hati memperluas makna. Seperti cahaya senja yang membuat pepohonan tampak lebih anggun daripada siang hari, padahal pohonnya tetap sama. Yang berubah hanyalah sudut pandang dan permainan cahaya.
Demikian pula keakraban dan kemesraan sering tumbuh dari kemampuan manusia menciptakan ruang-ruang makna yang tak kasatmata. Sebuah dunia kecil yang hanya dipahami oleh dua hati yang saling menyapa.
Barangkali itulah sebabnya manusia tidak pernah benar-benar hidup hanya dengan kenyataan. Ia selalu menyisakan sedikit ruang bagi keghaiban yang diciptakannya sendiri.
Karena dalam ruang itulah kehangatan menemukan rumahnya.
Dalam ruang itulah kerinduan memperoleh bahasanya.
Dan dalam ruang itulah keakraban serta kemesraan tumbuh perlahan, seperti bunga yang mekar bukan karena dilihat mata, melainkan karena dirawat oleh rasa.



