Ada satu wajah yang paling tidak saya sukai dalam hidup ini.
Bukan wajah musuh.
Bukan wajah orang yang pernah menyakiti saya.
Bukan pula wajah mereka yang mengecewakan harapan-harapan saya.
Wajah itu adalah wajah saya sendiri ketika sedang marah.
Setiap kali amarah mengambil alih, ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Nada suara menjadi lebih keras. Kata-kata menjadi lebih tajam. Hati menjadi lebih sempit. Dan pikiran yang biasanya jernih perlahan tertutup oleh kabut emosi.
Pada saat-saat seperti itulah saya merasa kehilangan bagian terbaik dari diri saya.
Saya pernah bercermin setelah kemarahan reda. Bukan pada cermin kaca, melainkan pada cermin kesadaran.
Di sana saya menemukan seseorang yang berbeda.
Seseorang yang begitu yakin dirinya benar.
Seseorang yang begitu sibuk melihat kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa dirinya sendiri.
Dan dari sanalah saya memahami satu hal:
Sejelek-jelek muka saya bukan ketika rambut mulai memutih.
Bukan ketika keriput mulai muncul.
Bukan ketika waktu perlahan meninggalkan jejak pada tubuh.
Sejelek-jelek muka saya adalah ketika sedang marah.
Marah adalah bagian dari fitrah manusia.
Tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas darinya.
Bahkan orang-orang saleh pun pernah merasakan marah.
Namun yang membedakan manusia bukanlah ada atau tidak adanya kemarahan.
Yang membedakan adalah bagaimana ia memperlakukan kemarahannya.
Apakah ia menjadi tuan atas amarahnya?
Ataukah justru menjadi budaknya?
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali Imran: 134)
Ayat ini selalu terasa begitu menyejukkan.
Allah tidak memuji orang yang tidak pernah marah. Sebab itu mustahil.
Yang dipuji Allah adalah mereka yang mampu menahan marah ketika mereka memiliki alasan untuk meluapkannya.
Mereka yang mampu meredam api ketika api itu sedang membesar.
Mereka yang mampu memaafkan ketika sebenarnya mereka mampu membalas.
Semakin banyak pengalaman hidup yang saya jalani, semakin saya menyadari bahwa kemarahan hampir selalu lahir dari ego yang terluka.
Kita marah karena merasa tidak dihargai.
Kita marah karena tidak dipahami.
Kita marah karena kenyataan tidak berjalan sesuai harapan.
Padahal hidup memang tidak pernah berjanji untuk selalu mengikuti keinginan kita.
Sering kali, yang terluka bukanlah hati kita.
Yang terluka adalah kesombongan kita.
Dan kesombongan yang terluka selalu pandai mencari alasan untuk marah.
Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat yang sangat singkat kepada seorang sahabat:
“Jangan marah.”
Sahabat itu mengulang permintaannya beberapa kali, dan Rasulullah tetap menjawab:
“Jangan marah.”
(HR. Bukhari)
Dua kata yang sederhana.
Namun mungkin membutuhkan waktu seumur hidup untuk mengamalkannya.
Karena mengendalikan amarah jauh lebih sulit daripada mengalahkan lawan dalam perdebatan.
Lebih sulit daripada memenangkan pertarungan fisik.
Lebih sulit daripada meraih kedudukan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengubah definisi kekuatan.
Ternyata kekuatan sejati tidak terletak pada otot.
Tidak pula pada jabatan.
Tidak juga pada kekuasaan.
Kekuatan sejati adalah kemampuan menundukkan diri sendiri.
Ada sebuah ungkapan Arab yang sangat indah:
“Awwalul ghadabi junun wa akhiruhu nadam.”
“Awal kemarahan adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan.”
Betapa sering ungkapan ini terbukti benar.
Saat marah, kata-kata meluncur tanpa penjagaan.
Saat marah, keputusan lahir tanpa pertimbangan.
Saat marah, hubungan yang dibangun bertahun-tahun bisa retak hanya dalam hitungan menit.
Kemudian ketika emosi mereda, yang tersisa hanyalah penyesalan.
Kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali.
Luka yang tidak mudah disembuhkan.
Dan kenangan yang terus membekas.
Saya belajar bahwa tidak semua pertempuran harus dimenangkan.
Tidak semua kritik harus dibalas.
Tidak semua penghinaan harus dijawab.
Kadang-kadang diam adalah bentuk kebijaksanaan.
Kadang-kadang memaafkan adalah bentuk keberanian.
Kadang-kadang mengalah adalah bentuk kemenangan yang tidak terlihat.
Bukankah lautan tetap luas meskipun menerima ribuan sungai yang membawa lumpur?
Bukankah langit tetap lapang meskipun setiap hari menerima awan gelap?
Mungkin hati manusia juga harus belajar menjadi seperti itu.
Lebih luas.
Lebih teduh.
Lebih sabar.
Hari ini saya masih belajar.
Belajar menahan lidah ketika hati sedang panas.
Belajar menundukkan ego ketika ingin menang sendiri.
Belajar memahami bahwa tidak semua kesalahan orang lain harus dibayar dengan kemarahan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling sering menang dalam perdebatan.
Hidup adalah tentang siapa yang paling mampu menjaga hatinya tetap jernih di tengah badai.
Dan jika suatu hari nanti orang mengenang saya, saya berharap mereka tidak mengingat wajah saya ketika sedang marah.
Saya berharap mereka mengingat senyum yang pernah saya berikan.
Kata-kata baik yang pernah saya ucapkan.
Dan kesabaran yang terus saya perjuangkan, meski belum sempurna.
Sebab pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain.
Melainkan mengalahkan diri sendiri.
“Ya Allah, ketika amarah datang mengetuk pintu hati kami, anugerahkanlah kesabaran. Ketika ego ingin berbicara lebih keras daripada nurani, kuatkanlah kami untuk memilih diam. Dan ketika kami tergelincir dalam kemarahan, tuntunlah kami kembali kepada kelembutan yang Engkau cintai.”
“Saya tidak takut kepada orang yang membenci saya. Saya lebih takut kepada diri saya sendiri ketika amarah mulai mengambil alih akal sehat.”


