Hari ini saya berulang tahun.
Usia bertambah satu tahun lagi. Tetapi yang menarik bukan angka yang bertambah, melainkan sebuah kenyataan kecil yang justru membuat saya berpikir panjang: tidak ada ucapan selamat ulang tahun dari saudara-saudara yang paling dekat, bahkan dari anak-anak saya sendiri.
Bukan karena mereka tidak menyayangi saya. Bukan pula karena mereka lupa.
Alasannya sederhana: ulang tahun dianggap bukan ajaran Islam.
Saya tidak ingin memperdebatkan keyakinan itu. Setiap orang berhak menjalankan agamanya sesuai pemahaman yang diyakininya. Tetapi sebagai seseorang yang telah melewati perjalanan hidup cukup panjang, saya justru bertanya: sejak kapan sebuah ucapan kasih sayang harus terlebih dahulu mendapatkan legitimasi agama?
Bukankah mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Ayah. Semoga sehat, panjang umur, dan bahagia,” pada dasarnya hanyalah ungkapan cinta seorang anak kepada ayahnya?
Apakah ucapan itu otomatis menjadi sebuah ritual agama?
Di sinilah saya mulai melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar persoalan ulang tahun.
Ketika budaya dan agama bercampur
Banyak hal dalam kehidupan umat Islam yang hari ini dianggap begitu melekat dengan agama, padahal sebenarnya merupakan hasil perjalanan sejarah dan kebudayaan.
Islam mengenal shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an, dzikir dan berbagai bentuk ibadah yang memiliki dasar dalam ajaran agama.
Tetapi kehidupan seorang Muslim tidak hanya terdiri dari ibadah.
Kita makan dengan sendok. Naik kendaraan. Memakai pakaian tertentu. Tinggal di rumah dengan bentuk arsitektur tertentu. Menggunakan kalender Masehi untuk bekerja dan bersekolah. Merayakan hari kemerdekaan. Mengadakan pesta pernikahan. Memberikan hadiah. Mengucapkan selamat atas kelulusan. Bahkan menggunakan teknologi yang seluruhnya lahir dari peradaban manusia.
Tidak semuanya berasal dari teks agama.
Dan memang tidak harus demikian.
Karena **agama dan kebudayaan bukanlah dua hal yang selalu harus saling meniadakan.**
Di Indonesia, bahkan banyak praktik masyarakat Muslim merupakan hasil perjumpaan Islam dengan kebudayaan yang telah hidup jauh sebelum Islam datang.
Ziarah kubur, misalnya, memiliki dasar dalam Islam. Tetapi berbagai bentuk ritual di sekitar makam berkembang menjadi tradisi lokal yang sangat beragam.
Tahlilan dan kenduri kematian berkembang menjadi tradisi masyarakat Muslim di berbagai daerah, dengan bentuk yang tidak selalu ditemukan dalam praktik generasi awal Islam.
Maulid Nabi sendiri baru berkembang beberapa abad setelah masa Nabi Muhammad.
Masjid-masjid tua di Jawa tidak selalu berbentuk kubah seperti yang sekarang sering dianggap sebagai simbol universal Islam. Atap bertingkat pada banyak masjid justru memperlihatkan bagaimana Islam beradaptasi dengan arsitektur Nusantara.
Tasbih pun bukan benda yang eksklusif dimiliki umat Islam. Penggunaan untaian manik-manik untuk menghitung doa dikenal dalam berbagai tradisi keagamaan.
Pakaian pun demikian. Gamis, jubah, sorban dan berbagai pakaian Timur Tengah bukanlah satu-satunya bentuk pakaian Muslim yang ditentukan agama.
Artinya, dalam sejarahnya, umat Islam selalu hidup melalui proses perjumpaan antara wahyu dan kebudayaan.
Lalu, apakah ulang tahun adalah ibadah?
Tidak.
Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa ulang tahun adalah ibadah.
Justru persoalannya adalah: **mengapa sebuah tindakan yang bukan ibadah harus selalu diukur sebagai ibadah?**
Mengucapkan selamat ulang tahun tidak harus berarti menganggap ulang tahun sebagai hari suci.
Saya bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepada seseorang tanpa menganggap hari kelahirannya sebagai hari raya agama.
Sama seperti saya mengucapkan:
*”Selamat atas kelulusanmu.”*
Kelulusan bukan ibadah.
“Selamat atas pernikahanmu.”
Pernikahan bukan sekadar ibadah dalam bentuk ucapan selamat.
*”Selamat menempuh hidup baru.”*
Itu pun bukan ritual agama.
Ucapan adalah bahasa manusia.
Dan bahasa manusia sering kali jauh lebih sederhana daripada perdebatan teologis yang kita bangun di atasnya.
Ada sesuatu yang hilang
Yang membuat saya sedih bukan karena saya membutuhkan sebuah kalimat *“selamat ulang tahun.”*
Pada usia 70 tahun, saya kira saya sudah cukup dewasa untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada ucapan orang lain.
Yang membuat saya merenung adalah **apa yang mungkin hilang ketika agama dipahami terlalu sempit.**
Kita bisa begitu sibuk mencari apakah sesuatu memiliki dalil, sampai lupa bertanya apakah sesuatu itu **memiliki kasih sayang.**
Kita bisa begitu hati-hati menghindari sesuatu yang dianggap *bid’ah*, tetapi pada saat yang sama tidak sadar bahwa hati seseorang sedang membutuhkan satu kalimat sederhana dari orang-orang yang paling dicintainya.
Padahal Islam sendiri datang membawa rahmat.
Bukankah salah satu ukuran keberagamaan justru bagaimana agama membuat manusia menjadi lebih baik dalam memperlakukan manusia lainnya?
Saya tidak membutuhkan anak-anak saya untuk menjadikan ulang tahun saya sebagai hari keagamaan.
Saya hanya ingin, kalau mereka ingat, mereka berkata:
“Ayah, selamat ulang tahun. Terima kasih sudah menjadi ayah kami.”
Sesederhana itu.
Jangan semua hal dijadikan wilayah haram dan halal
Mungkin kita perlu belajar membedakan tiga hal: apa yang merupakan ibadah, apa yang merupakan budaya, dan apa yang merupakan hubungan kemanusiaan.
Ibadah membutuhkan dasar.
Tetapi tidak setiap tindakan manusia adalah ibadah.
Ketika saya memeluk anak saya, apakah saya harus mencari dalil terlebih dahulu?
Ketika seorang anak memberikan bunga kepada ibunya, apakah bunga itu harus memiliki legitimasi syariat?
Ketika seorang sahabat berkata, “Semoga hidupmu bahagia,” apakah kita perlu bertanya apakah kalimat itu pernah diucapkan oleh Nabi?
Tentu tidak.
Karena manusia memiliki bahasa kasih sayang yang berkembang sepanjang sejarah.
Dan agama tidak hadir untuk menghapus kemanusiaan itu.
Pada akhirnya, saya tidak marah
Saya justru berterima kasih.
Karena ketidakhadiran ucapan itu memberi saya sebuah hadiah yang jauh lebih besar: kesempatan untuk melihat kembali hubungan antara agama dan kehidupan manusia.
Mungkin anak-anak saya merasa sedang menjaga agama.
Saya menghormati itu.
Tetapi saya berharap suatu hari mereka juga memahami bahwa **menjaga agama tidak harus dilakukan dengan mengurangi kasih sayang.**
Kalau suatu saat nanti mereka membaca tulisan ini, saya tidak ingin mereka merasa bersalah.
Saya hanya ingin mereka tahu:
Ayah tidak pernah meminta kalian menjadikan ulang tahun sebagai ibadah.
Ayah hanya berharap, di antara begitu banyak perdebatan tentang apa yang boleh dan tidak boleh, **jangan sampai kita kehilangan kemampuan untuk mengatakan kepada orang yang kita cintai: “Aku bahagia kamu ada dalam hidupku.”
Sebab pada akhirnya, setelah 70 tahun hidup, saya semakin percaya:
Agama semestinya membuat manusia semakin dekat kepada Tuhan—dan sekaligus semakin manusiawi kepada sesamanya.
Dan mungkin, justru di situlah letak kedewasaan beragama.
Bukan pada seberapa banyak hal yang kita larang,
melainkan pada seberapa luas kasih sayang yang mampu kita berikan.





