Hampir setiap agama dan keyakinan menawarkan satu janji yang indah: syurga. Tempat di mana segala penderitaan selesai, segala keinginan terpenuhi, dan manusia akhirnya menemukan kebahagiaan yang sempurna.
Kalau begitu, izinkan saya berpikir dengan cara yang sederhana—bahkan mungkin agak nakal.
**Saya akan memilih syurga yang paling mudah didapat.**
Sebab kalau semua agama sama-sama menawarkan kebahagiaan abadi, mengapa saya harus memilih jalan yang paling berat?
Di satu jalan, untuk mendapatkan syurga, saya harus shalat lima waktu, bangun tengah malam untuk tahajud, berpuasa sebulan penuh, membayar zakat, berhaji bila mampu, menjaga ini dan itu, serta menghindari begitu banyak larangan.
Belum selesai di dunia, ternyata urusan masuk syurga pun masih harus melalui serangkaian ujian.
Maka muncul pertanyaan yang agak mengganggu: **apakah manusia beragama karena mencintai Tuhan, atau karena menginginkan imbalan dari Tuhan?**
Kalau tujuan akhirnya hanya syurga, agama bisa berubah menjadi semacam transaksi: saya melakukan ini, Tuhan memberikan itu. Saya beribadah, Tuhan membayar dengan keabadian.
Padahal mungkin inti keberagamaan justru bukan tentang seberapa mudah mendapatkan syurga, melainkan tentang menjadi manusia seperti apa selama hidup di dunia.
Sebab kalau seseorang berbuat baik hanya karena takut neraka dan berharap syurga, kebaikannya masih menyimpan kalkulasi.
Saya justru lebih tertarik pada kebaikan yang tidak menunggu hadiah.
Menolong karena memang ada yang perlu ditolong.
Memaafkan karena dendam hanya akan melelahkan.
Mencintai karena cinta tidak membutuhkan kuitansi.
Berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat—bahkan Tuhan sekalipun.
Barangkali, pada akhirnya, syurga bukanlah sesuatu yang perlu kita cari dengan menghitung berapa banyak pahala yang telah dikumpulkan.
Barangkali syurga adalah keadaan ketika hati kita sudah tidak lagi sibuk mencari keuntungan dari Tuhan.
Dan kalau ternyata Tuhan memang Maha Pengasih, saya ingin percaya bahwa Dia tidak sedang mencari manusia yang paling pandai menghitung ibadahnya.
Dia sedang mencari manusia yang paling sungguh-sungguh menjadi manusia.




