Ada sebuah ironi yang barangkali terlalu sering kita abaikan.
Manusia berbeda dalam bahasa, budaya, warna kulit, tradisi, dan cara memandang dunia. Tetapi ketika berbicara tentang agama, ada satu kecenderungan yang anehnya sering muncul: **agama saya benar, sementara agama yang lain keliru.**
Masing-masing datang membawa keyakinan tentang Tuhan, tentang keselamatan, tentang kehidupan setelah kematian. Masing-masing memiliki kitab, nabi, guru, ritual, dan seperangkat aturan yang dianggap mampu menunjukkan jalan menuju kebenaran.
Namun ketika jalan itu bertemu dengan jalan yang lain, sering kali yang muncul bukan jembatan, melainkan tembok.
Seolah-olah Tuhan yang tidak terbatas harus memilih satu bahasa manusia. Seolah-olah kebenaran yang agung harus berhenti pada batas sebuah bangsa, sebuah kitab, sebuah abad, atau sebuah institusi keagamaan.
Di sinilah pertanyaan yang mengganggu itu muncul:
**Jika Tuhan adalah Tuhan bagi seluruh manusia, mengapa manusia begitu mudah merasa bahwa Tuhan hanya berpihak kepada kelompoknya?**
Seorang anak yang lahir di keluarga Muslim hampir pasti akan diperkenalkan kepada Islam sebagai kebenaran. Anak yang lahir dalam keluarga Kristen akan tumbuh dengan Injil sebagai jalan kebenaran. Di India, seorang anak mungkin dibesarkan dalam tradisi Hindu. Di Thailand, ia mungkin mengenal Buddha sejak kecil.
Sebelum ia mampu membaca, membandingkan, mempertanyakan, dan berpikir secara kritis, identitas keagamaannya sering kali sudah diberikan kepadanya.
Ia tidak memilih rumah tempat ia dilahirkan.
Ia tidak memilih bahasa pertamanya.
Ia tidak memilih kebudayaan yang membentuk pikirannya.
Namun kemudian, manusia sering diminta mempertanggungjawabkan pilihan keyakinan yang sebagian besar telah diwariskan kepadanya.
Bukankah ini sebuah paradoks?
Mungkin persoalannya bukan bahwa semua agama salah. Dan mungkin juga bukan bahwa semua agama sama.
Persoalannya adalah **kerendahan hati manusia di hadapan sesuatu yang disebutnya Tuhan.**
Kita berbicara tentang Yang Mahabesar dengan bahasa yang sangat kecil. Kita mencoba menjelaskan Yang Tak Terbatas dengan pikiran yang terbatas. Kita mencoba menerjemahkan misteri keberadaan ke dalam kata-kata, lalu terkadang memperlakukan kata-kata itu seolah-olah kita sendiri telah memegang Tuhan di dalam genggaman.
Padahal mungkin kitab adalah jendela, bukan seluruh langit.
Mungkin agama adalah jalan, bukan Tuhan itu sendiri.
Mungkin manusia membutuhkan simbol, bahasa, ritual, dan cerita untuk mendekati sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya. Tetapi ketika simbol dianggap sebagai Tuhan, jalan dianggap sebagai satu-satunya tujuan, dan tafsir manusia dianggap identik dengan kehendak Tuhan, di situlah agama dapat berubah dari pencarian kebenaran menjadi perebutan monopoli atas kebenaran.
Ironisnya, semakin yakin seseorang bahwa ia telah memahami Tuhan sepenuhnya, mungkin semakin ia perlu bertanya apakah ia benar-benar memahami betapa kecilnya dirinya.
Sebab jika Tuhan memang Mahatahu, sementara manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari kenyataan, maka **sedikit keraguan mungkin justru lebih sehat daripada kesombongan teologis.**
Barangkali kita tidak perlu buru-buru berkata, *“Agamaku benar dan agamamu salah.”*
Barangkali kita dapat mulai dengan kalimat yang lebih sederhana:
**“Aku percaya inilah jalan yang kutemukan. Tetapi aku sadar, pengetahuanku tentang Tuhan tidak akan pernah sebesar Tuhan itu sendiri.”**
Kalimat itu tidak menghancurkan iman.
Justru mungkin membuat iman menjadi lebih manusiawi.
Sebab pada akhirnya, semua agama berbicara tentang manusia yang sedang mencari makna. Manusia yang takut mati. Manusia yang mencintai. Manusia yang kehilangan. Manusia yang bertanya dari mana ia datang dan ke mana ia akan pergi.
Dan di tengah semua perbedaan itu, ada satu kesamaan yang tidak dapat disangkal:
**kita semua sedang mencari sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.**
Mungkin karena itu, persoalan terbesar manusia bukanlah menemukan agama mana yang paling pandai menyalahkan agama lain.
Persoalan terbesar kita adalah belajar membedakan antara **Tuhan dan gambaran kita tentang Tuhan.**
Sebab mungkin Tuhan tidak pernah meminta manusia menjadi pemilik kebenaran.
Mungkin Tuhan hanya meminta manusia menjadi pencari kebenaran.
Dan seorang pencari yang benar-benar sadar akan luasnya semesta biasanya tidak berjalan dengan kesombongan.
Ia berjalan dengan iman di satu tangan—
dan kerendahan hati di tangan yang lain.



