Dalam samudera tak terbatas bernama Islam, ayat-ayat suci Al-Qur’an ibarat bintang gemintang di langit malam. Cahaya yang memandu setiap jiwa, tak lekang oleh waktu, tak terpengaruh oleh zaman. Firman itu turun langsung dari langit, melalui lisan mulia Rasulullah SAW, menjadi cahaya yang meluruskan jalan. Namun, ada yang bertanya dengan getir, “Apakah cahaya itu cukup terang untuk membedakan semua jalan yang benar?”
Kemudian datanglah Hadis, rekaman dari sabda, perbuatan, dan ketetapan Nabi SAW yang baru disusun ratusan tahun setelah wafatnya. Ia seperti mosaik: penuh warna, namun disusun tangan manusia. Para perawi dan imam besar seperti Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya, menjadi penjaga atas khazanah ini. Namun, karya mereka terletak dalam ruang dan waktu tertentu, dengan segala keterbatasan manusiawi.
Dari dua sumber hukum ini, Al-Qur’an dan Hadis, lahirlah mazhab, pemikiran, dan tafsir yang beragam. Seperti sungai-sungai kecil yang bermuara ke lautan, setiap aliran membawa air dengan rasa dan warna berbeda. Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali—semua memiliki dalil yang kuat. Namun, mengapa aliran ini kadang tak hanya berbeda, tetapi saling bertentangan?
“Ajaran yang benar itu yang mana?”
Pertanyaan ini bagaikan pedang bermata dua: ia menantang untuk mencari kebenaran, tetapi juga berisiko melukai persatuan. Dalam filsafat, kita mengenal istilah relativisme epistemologis. Apakah kebenaran selalu mutlak, ataukah ia tergantung pada sudut pandang? Al-Qur’an sering mengingatkan, “Wahai manusia, jika engkau berbeda pendapat, kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya.” Tapi bagaimana caranya, jika tafsir tentang Allah dan Rasul itu pun berbeda?
Ada yang berkata, “Islam yang benar adalah yang sesuai dengan Al-Qur’an semata.” Namun, tanpa Hadis, bagaimana kita melaksanakan shalat, puasa, atau haji? Di sisi lain, ada pula yang mendewakan Hadis hingga lupa bahwa Al-Qur’an adalah sumber primer. Bahkan, ada yang berpegang pada mazhab tertentu seolah-olah ia adalah satu-satunya jalan menuju surga.
Di tengah keragaman ini, muncul fenomena saling menyalahkan. Seperti dalam fabel Aesop, di mana dua orang buta memegang seekor gajah dan menggambarkannya berbeda. Yang memegang belalai berkata, “Ini ular!” Sementara yang memegang kaki berseru, “Ini tiang!” Dalam Islam, perbedaan sering kali bukan tentang kebenaran hakiki, melainkan keterbatasan perspektif manusia.
Dalam tradisi sufistik, ada istilah wahdatul wujud—kesatuan eksistensi. Mereka yang mendalami konsep ini percaya bahwa segala perbedaan hanyalah ilusi duniawi. Seperti pelangi yang berwarna-warni, sejatinya ia adalah satu: cahaya yang dibiaskan. Bukankah Al-Qur’an juga berkata, “Sesungguhnya, umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”?
Lalu, di mana jalan keluarnya?
Mungkin jawabannya bukan pada mencari siapa yang paling benar, tetapi pada mencari kerendahan hati untuk memahami. Dalam setiap aliran, ada kearifan; dalam setiap tafsir, ada usaha untuk mendekat pada Yang Maha Benar. Seperti kata pepatah Arab, “La nadri man daakhil al-jannah, wa laakin nadri man ahlu al-tawaadhu.” Kita tak tahu siapa yang akan masuk surga, tetapi kita tahu bahwa kerendahan hati adalah kuncinya.
Pada akhirnya, Islam bukanlah sekadar tentang benar atau salah, tetapi tentang perjalanan menuju Tuhan. Dalam perjalanan itu, kita bukan hakim untuk menilai jalan orang lain, tetapi pelancong yang berusaha agar langkah kita sendiri tetap lurus. Sebagaimana Al-Qur’an menutupnya dengan doa yang penuh harap, “Ihdinash-shiratal mustaqim”—Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
Dan jalan itu, sungguh, adalah jalan menuju cinta-Nya.









