Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Ajaran Islam Itu yang Mana?

munira by munira
December 28, 2024
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam samudera tak terbatas bernama Islam, ayat-ayat suci Al-Qur’an ibarat bintang gemintang di langit malam. Cahaya yang memandu setiap jiwa, tak lekang oleh waktu, tak terpengaruh oleh zaman. Firman itu turun langsung dari langit, melalui lisan mulia Rasulullah SAW, menjadi cahaya yang meluruskan jalan. Namun, ada yang bertanya dengan getir, “Apakah cahaya itu cukup terang untuk membedakan semua jalan yang benar?”

Kemudian datanglah Hadis, rekaman dari sabda, perbuatan, dan ketetapan Nabi SAW yang baru disusun ratusan tahun setelah wafatnya. Ia seperti mosaik: penuh warna, namun disusun tangan manusia. Para perawi dan imam besar seperti Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya, menjadi penjaga atas khazanah ini. Namun, karya mereka terletak dalam ruang dan waktu tertentu, dengan segala keterbatasan manusiawi.

Dari dua sumber hukum ini, Al-Qur’an dan Hadis, lahirlah mazhab, pemikiran, dan tafsir yang beragam. Seperti sungai-sungai kecil yang bermuara ke lautan, setiap aliran membawa air dengan rasa dan warna berbeda. Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali—semua memiliki dalil yang kuat. Namun, mengapa aliran ini kadang tak hanya berbeda, tetapi saling bertentangan?

“Ajaran yang benar itu yang mana?”

Pertanyaan ini bagaikan pedang bermata dua: ia menantang untuk mencari kebenaran, tetapi juga berisiko melukai persatuan. Dalam filsafat, kita mengenal istilah relativisme epistemologis. Apakah kebenaran selalu mutlak, ataukah ia tergantung pada sudut pandang? Al-Qur’an sering mengingatkan, “Wahai manusia, jika engkau berbeda pendapat, kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya.” Tapi bagaimana caranya, jika tafsir tentang Allah dan Rasul itu pun berbeda?

Ada yang berkata, “Islam yang benar adalah yang sesuai dengan Al-Qur’an semata.” Namun, tanpa Hadis, bagaimana kita melaksanakan shalat, puasa, atau haji? Di sisi lain, ada pula yang mendewakan Hadis hingga lupa bahwa Al-Qur’an adalah sumber primer. Bahkan, ada yang berpegang pada mazhab tertentu seolah-olah ia adalah satu-satunya jalan menuju surga.

Di tengah keragaman ini, muncul fenomena saling menyalahkan. Seperti dalam fabel Aesop, di mana dua orang buta memegang seekor gajah dan menggambarkannya berbeda. Yang memegang belalai berkata, “Ini ular!” Sementara yang memegang kaki berseru, “Ini tiang!” Dalam Islam, perbedaan sering kali bukan tentang kebenaran hakiki, melainkan keterbatasan perspektif manusia.

Dalam tradisi sufistik, ada istilah wahdatul wujud—kesatuan eksistensi. Mereka yang mendalami konsep ini percaya bahwa segala perbedaan hanyalah ilusi duniawi. Seperti pelangi yang berwarna-warni, sejatinya ia adalah satu: cahaya yang dibiaskan. Bukankah Al-Qur’an juga berkata, “Sesungguhnya, umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”?

Lalu, di mana jalan keluarnya?

Mungkin jawabannya bukan pada mencari siapa yang paling benar, tetapi pada mencari kerendahan hati untuk memahami. Dalam setiap aliran, ada kearifan; dalam setiap tafsir, ada usaha untuk mendekat pada Yang Maha Benar. Seperti kata pepatah Arab, “La nadri man daakhil al-jannah, wa laakin nadri man ahlu al-tawaadhu.” Kita tak tahu siapa yang akan masuk surga, tetapi kita tahu bahwa kerendahan hati adalah kuncinya.

Pada akhirnya, Islam bukanlah sekadar tentang benar atau salah, tetapi tentang perjalanan menuju Tuhan. Dalam perjalanan itu, kita bukan hakim untuk menilai jalan orang lain, tetapi pelancong yang berusaha agar langkah kita sendiri tetap lurus. Sebagaimana Al-Qur’an menutupnya dengan doa yang penuh harap, “Ihdinash-shiratal mustaqim”—Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Dan jalan itu, sungguh, adalah jalan menuju cinta-Nya.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bonenkai: Perayaan Melupakan Kesulitan dalam Jejak Budaya Jepang

Next Post

7 Kebiasaan yang Menghancurkan Otakmu

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
7 Kebiasaan yang Menghancurkan Otakmu

7 Kebiasaan yang Menghancurkan Otakmu

Pepatah Sunda: Filosofi Kehidupan yang Mendalam

Pepatah Sunda: Filosofi Kehidupan yang Mendalam

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira