Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Berpisah dari Tuhan: Generasi Baru, Keyakinan Baru

munira by munira
May 17, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di banyak negara, tempat ibadah tak lagi sesak oleh suara-suara muda. Barisan bangku kosong di gereja, kuil, atau vihara menjadi potret yang semakin umum. Ini bukan sekadar anekdot atau kecemasan para pemuka agama. Ini adalah data—data yang menyuarakan kenyataan baru: generasi muda, terutama Gen-Z dan milenial, tengah menjauh dari agama, bahkan melepaskannya sepenuhnya.

Laporan Pew Research Center terbaru, yang mengambil data dari 36 negara dan hampir 80.000 responden, mengungkapkan gelombang global yang pelan tapi pasti: fenomena perpindahan agama, atau bahkan penolakan atas agama itu sendiri. Mereka yang dulunya dibesarkan dalam tradisi Kristen atau Buddha, kini mengidentifikasi diri sebagai ateis, agnostik, atau tidak beragama sama sekali. Yang menarik, banyak dari mereka justru berasal dari keluarga yang sangat religius. Agama, dalam konteks ini, justru ditinggalkan bukan karena kurang dikenalkan, melainkan karena terlalu dipaksakan.

Fenomena ini paling kentara di Korea Selatan, di mana 50% orang dewasa kini tidak lagi memeluk agama masa kecilnya. Negara-negara Barat pun mengalami tren serupa: Spanyol (40%), Kanada (38%), hingga Belanda dan Inggris (masing-masing 36%). Di Amerika Serikat, 28% orang dewasa telah berpindah agama—sebagian besar menjadi non-afiliatif secara spiritual.

Generasi muda menjadi garda terdepan dalam pergeseran ini. Di Spanyol, hampir separuh anak muda usia 18–34 tahun telah meninggalkan agama yang diwariskan. Di Singapura, jumlahnya mencapai 29%. Tren ini menunjukkan bahwa sekularisasi bukan lagi wacana pinggiran, melainkan arus utama yang mengalir deras, meruntuhkan batas antara tradisi dan pilihan bebas.

Apa yang mendorong anak muda meninggalkan agama?

Jawabannya kompleks. Bagi sebagian, agama tak lagi relevan dalam dunia yang serba rasional dan digital. Bagi yang lain, institusi agama dianggap gagal menjawab problematika kontemporer—mulai dari isu kesetaraan gender, hak LGBTQ+, hingga skandal moral para pemimpin agama. Sebagian lainnya memilih keluar dari doktrin yang mereka anggap rigid, eksklusif, dan memecah belah. Dalam dunia yang menawarkan ribuan perspektif lewat satu layar smartphone, absolutisme religius terasa menyesakkan.

Di tengah derasnya informasi, banyak anak muda menemukan spiritualitas di luar pagar institusi. Mereka memilih menjadi agnostik—meyakini adanya kekuatan lebih besar, tapi enggan tunduk pada dogma. Sementara yang lain menapaki jalan sunyi ateisme, menolak gagasan Tuhan sama sekali. Keputusan yang mungkin dianggap radikal oleh generasi sebelumnya, kini menjadi bentuk keberanian personal: untuk berpikir, memilih, dan meyakini dengan sadar, bukan karena warisan.

Namun, tidak semua berpaling dari agama. Pew juga mencatat bahwa di Korea Selatan, misalnya, 9% orang dewasa yang tidak beragama saat kecil kini justru memeluk agama, sebagian besar menjadi Kristen. Di beberapa negara seperti Afrika Selatan dan Singapura, terdapat juga yang berpindah antara dua agama—mencoba menemukan makna spiritual lewat pencarian aktif, bukan ketundukan pasif.

Tren ini membuka ruang refleksi besar, terutama bagi institusi keagamaan: apakah mereka masih relevan bagi generasi masa kini? Mampukah agama menjadi ruang dialog, bukan sekadar tempat dakwah satu arah? Bila tidak, maka keheningan bangku-bangku rumah ibadah akan makin sering terdengar, digantikan oleh perenungan pribadi di ruang-ruang digital yang sunyi.

Agama, sebagaimana budaya lain, kini bukan lagi takdir, melainkan pilihan. Dan pilihan itu, bagi generasi muda, semakin sering berarti: tidak beragama.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Cinta yang Tak Masuk Kitab Fikih

Next Post

Antara Dunia dan Bumi: Menafsir Makna Hidup dalam Cahaya Wahyu

munira

munira

Related Posts

Cinta Tanpa Penilaian

by munira
April 28, 2026
0

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni dan paling jujur, sering kali menuntut sesuatu yang terasa berlawanan dengan naluri kita: keberanian...

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Next Post
Antara Dunia dan Bumi: Menafsir Makna Hidup dalam Cahaya Wahyu

Antara Dunia dan Bumi: Menafsir Makna Hidup dalam Cahaya Wahyu

Setelah Enam Puluh: Tujuh Aturan Menjaga Hidup yang Tersisa

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Cinta Tanpa Penilaian
  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira