Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Dalam Setiap Asahan, Ada Risiko Kehilangan.

Tajam yang Terlampaui

munira by munira
December 13, 2024
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Mungkin dunia telah melupakan, bahwa setiap yang ada di dalamnya menyimpan harmoni. Layaknya yin dan yang, langit dan bumi, siang dan malam—keseimbangan adalah hukum semesta yang tak tertulis. Namun, manusia, dalam obsesi untuk sempurna, sering kali tersesat dalam ilusi. Kita mengasah, lagi dan lagi, hingga pedang kehilangan maknanya sebagai senjata.

“Sharpen a sword too much, and it will lose its edge.” Begitu kata bijak kuno yang tak lekang oleh waktu. Pedang, simbol kekuatan dan ketajaman, bukanlah tentang seberapa tajam ia mampu membelah, tetapi seberapa bijak ia digunakan. Terlampau tajam, ia akan tumpul. Begitu pula jiwa manusia yang mendamba lebih dari cukup—tak pernah puas akan capaian, terus mengasah diri hingga melewati batas kebutuhannya.

Dalam terminologi Zen, kehidupan adalah keseimbangan antara wabi (kesederhanaan) dan sabi (kedamaian dalam ketidaksempurnaan). Ketika kita terobsesi memperbaiki segala sesuatu, sesungguhnya kita justru mengikis nilai autentiknya. Bukankah hidup lebih bermakna ketika ia menerima retakan, kerutan, atau ketidaksempurnaan yang menceritakan perjalanan waktu?

Lihatlah, bagaimana manusia memoles ambisi dengan overzealousness, sebuah hasrat tanpa rem. Kita mengejar kesempurnaan material hingga kehilangan spiritualitas. Kita mengasah ego, menguatkan kehendak, tapi lupa merawat kelembutan hati. Sama seperti pedang yang diasah tanpa henti, manusia yang terlalu fokus pada ambisi akhirnya kehilangan esensi.

Sejatinya, ada seni dalam menerima batas. Seperti melukis dengan brushstroke sederhana, atau menulis puisi yang tak memerlukan terlalu banyak kata, kehidupan menjadi indah justru karena ia terbatas. Dalam bahasa Stoik, inilah yang disebut modus vivendi—gaya hidup yang selaras dengan alam dan tak menentang arusnya.

Maka, ketika godaan datang untuk terus mengasah, berhentilah sejenak. Lihat pantulan dirimu di permukaan pedang itu. Apakah kamu masih mengenali wajahmu, atau ia telah berubah menjadi sesuatu yang asing?

Ingatlah, bahwa pedang yang paling tajam tidak hanya mampu membelah, tetapi juga tahu kapan harus diam. Seperti dalam pepatah kuno Jepang: Mizu no kokoro, hati yang jernih seperti air adalah kekuatan sejati. Pedang yang tahu batasannya takkan pernah kehilangan mata—karena ia bukan alat penghancur, melainkan penjaga harmoni.

Keseimbangan adalah kunci. Jangan sampai kita lupa bahwa dalam setiap asahan, ada risiko kehilangan. Seperti pedang yang terlalu tajam, jiwa yang terlampaui hanya akan menjadi bayangan dari makna awalnya: tumpul, usang, tak lagi bermanfaat. ***

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Oikeiosis: Menemukan Harmoni Hidup di Tengah Keberagaman

Next Post

Tuhan Tanpa Penghakiman: Menemukan Kasih Universal di Balik Dualitas Baik dan Jahat

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post

Tuhan Tanpa Penghakiman: Menemukan Kasih Universal di Balik Dualitas Baik dan Jahat

Ayah dan Ibu: Dua Pilar Cinta, Pengorbanan, dan Kehidupan

Ayah dan Ibu: Dua Pilar Cinta, Pengorbanan, dan Kehidupan

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira