Dua puluh hari telah berlalu dalam perhitungan puasa. Tubuh yang menahan lapar dan dahaga mulai berkompromi dengan kekosongan, menemukan irama yang serupa dengan angin—kadang lembut, kadang menggigit. Di Indonesia, di tanah kelahiran, Ramadhan menjelma menjadi festival spiritual. Udara dipenuhi suara azan, lantunan tadarus, dan wangi kue kering yang mulai dipanggang. Kota-kota berpendar dengan cahaya keimanan; warung-warung menutup setengah hati di siang hari, dan malam-malam dipadati langkah-langkah yang mencari surga.
Lalu, pesawat mendarat di Haneda. Jepang, negeri yang akrab dengan keteraturan, tapi asing dengan doa. Dunia yang tenang, namun sunyi dari keberkahan yang biasa dikecap di tanah air. Tidak ada spanduk bertuliskan “Marhaban ya Ramadhan,” tidak ada suara bedug yang menggema. Puasa di sini bukan kebiasaan, bukan bagian dari ritme sosial. Orang-orang makan seperti biasa, minum di siang bolong tanpa ragu. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang peduli bahwa di sudut kecil kota ini, seorang asing sedang melawan rasa haus dengan kesunyian.
Di Indonesia, puasa adalah peristiwa kolektif. Di Jepang, ia menjadi perjalanan sunyi. Jika di kampung halaman iman berakar pada kebersamaan, di negeri ini, ia menjadi monolog dengan diri sendiri. Tidak ada yang bertanya apakah aku sudah sahur, tidak ada yang menawariku kurma di penghujung hari. Hanya kesadaran personal yang menjaga api kecil ini tetap menyala.
Di sini, tidak ada tuhan yang mengatur ruang publik. Keyakinan adalah urusan masing-masing, nyaris tidak berjejak dalam keseharian. Orang-orang Jepang hidup dalam ritme yang tak pernah terganggu oleh seruan ilahi. Mereka tidak menahan lapar demi pahala, tapi demi produktivitas. Mereka tidak bangun dini hari untuk sahur, tapi untuk menyiapkan kehidupan yang telah diatur dengan presisi. Tidak ada surga yang mereka kejar, hanya hasil yang bisa mereka ukur.
Namun, bukankah itu bentuk lain dari keteguhan? Jika di Indonesia, manusia beribadah demi ganjaran akhirat, di sini mereka berdisiplin demi kehidupan yang lebih baik. Jika di negeri sendiri spiritualitas hadir dalam ritual, di sini ia bersembunyi dalam dedikasi dan keikhlasan bekerja. Barangkali, ini adalah jalan sunyi menuju makna yang berbeda.
Setelah dua puluh hari menahan diri dalam kebersamaan, kini puasa menjadi perjalanan pribadi. Aku duduk di kereta, dikelilingi wajah-wajah yang tak mengenal lapar karena iman. Tapi bukankah pada akhirnya, baik yang berpuasa maupun tidak, semua orang sedang mencari arti dari hidup? Entah melalui doa atau kerja keras, entah di masjid atau di kantor, entah dalam suara bedug atau dalam keheningan neon kota Tokyo.
Di antara dua dunia ini, aku menemukan satu kesimpulan: spiritualitas bukan soal tempat, bukan soal kebiasaan, bukan soal jumlah orang yang melakukannya bersamamu. Ia adalah tentang bagaimana kita memahami diri sendiri—di tengah kesunyian, di tengah keterasingan, di negeri yang tak mengenal Tuhan, tapi tetap menjalani hidup dengan kesungguhan.
Shinjuku – Maret 24, 2025






