Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Di Negeri yang Ramai Doa tapi Miskin Logika

munira by munira
February 23, 2026
in Fiksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

“Di negeri yang ramai doa tapi miskin logika, yang waras sering dikira durhaka.”
— Tan Malaka

Kalimat Tan Malaka itu seperti cermin retak yang dipaksa kita tatap. Ia tidak menghina doa, tidak pula menista iman. Yang ia gugat justru ketimpangan: ketika spiritualitas dirayakan secara ritualistik, tetapi nalar dikucilkan dari ruang publik. Doa menggema di mimbar, namun logika dibisukan dalam kebijakan, diskusi, dan pengambilan keputusan.

Di negeri semacam ini, kesalehan sering diukur dari seberapa fasih seseorang melafalkan ayat, bukan dari seberapa jujur ia berpikir. Kebenaran tidak lagi diuji dengan argumen, melainkan dengan jumlah pengikut. Akibatnya, mereka yang bertanya dianggap mengganggu harmoni, mereka yang berpikir kritis dicap lancang, bahkan durhaka. Waras menjadi ancaman, karena logika membuka kedok kemunafikan.

Tan Malaka membaca satu pola lama: agama yang tercerabut dari akal akan mudah dijadikan alat kekuasaan. Ketika logika absen, dogma bisa dipelintir. Ketika kritik dibungkam, kesalahan bisa diwariskan. Maka lahirlah masyarakat yang rajin berdoa meminta keadilan, tetapi enggan berpikir untuk menciptakannya. Rajin mengutuk kezaliman, tapi menormalisasi kebohongan jika datang dari pihak yang “seiman” atau “sebarisan”.

Ironinya, dalam sejarah pemikiran Islam maupun tradisi intelektual dunia, iman dan akal justru berjalan beriringan. Tetapi di negeri yang “ramai doa tapi miskin logika”, keduanya dipertentangkan. Akal dicurigai sebagai pembangkangan, berpikir kritis disamakan dengan pembelotan moral. Padahal, tanpa logika, doa hanya menjadi pengulangan tanpa arah—ritual tanpa etika, simbol tanpa substansi.

Maka tidak mengherankan bila yang waras sering dikira durhaka. Orang yang menolak hoaks dianggap kurang iman. Mereka yang menuntut data dicap tidak tawakal. Mereka yang mengkritik kekuasaan dituduh memecah belah umat. Di titik ini, durhaka bukan lagi soal melawan Tuhan, melainkan melawan kenyamanan kolektif yang malas berpikir.

Tan Malaka tidak sedang mengajak kita meninggalkan doa. Ia menantang kita untuk memuliakan logika sebagai amanah. Sebab berpikir adalah bentuk ibadah yang paling sunyi dan paling berisiko: tidak mendapat tepuk tangan, sering berujung pengucilan. Namun justru dari keberanian berpikir itulah peradaban bergerak.

Negeri ini tidak kekurangan orang saleh. Yang langka adalah keberanian untuk jujur pada akal sehat. Dan selama logika terus dicurigai, yang waras akan tetap sendirian—berdiri di antara doa-doa yang nyaring, sambil menanggung tuduhan durhaka hanya karena memilih berpikir.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengapa Manusia Hidup? Bukan karena Jiwa atau Ruh, tetapi karena Organ-Organ Tubuhnya Berfungsi

Next Post

Tuhan, Tafsir, dan Pertumpahan Darah: Sebuah Renungan tentang Iman dan Akal

munira

munira

Related Posts

Tuhan dalam Bayangan Kesadaran

by munira
February 23, 2026
0

Kalau pun Tuhan itu ada, barangkali Ia tidak akan pernah hadir seperti yang digambarkan oleh agama-agama dan sistem keyakinan. Tuhan...

Tuhan, Tafsir, dan Pertumpahan Darah: Sebuah Renungan tentang Iman dan Akal

by munira
February 23, 2026
0

Barangkali yang kerap disalahpahami bukanlah Tuhan, melainkan agama itu sendiri. Sebab jika ditelisik lebih dalam, agama sebagai entitas tunggal nyaris...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Next Post

Tuhan, Tafsir, dan Pertumpahan Darah: Sebuah Renungan tentang Iman dan Akal

Tuhan dalam Bayangan Kesadaran

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Tuhan dalam Bayangan Kesadaran
  • Tuhan, Tafsir, dan Pertumpahan Darah: Sebuah Renungan tentang Iman dan Akal
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira