“Di negeri yang ramai doa tapi miskin logika, yang waras sering dikira durhaka.”
— Tan Malaka
Kalimat Tan Malaka itu seperti cermin retak yang dipaksa kita tatap. Ia tidak menghina doa, tidak pula menista iman. Yang ia gugat justru ketimpangan: ketika spiritualitas dirayakan secara ritualistik, tetapi nalar dikucilkan dari ruang publik. Doa menggema di mimbar, namun logika dibisukan dalam kebijakan, diskusi, dan pengambilan keputusan.
Di negeri semacam ini, kesalehan sering diukur dari seberapa fasih seseorang melafalkan ayat, bukan dari seberapa jujur ia berpikir. Kebenaran tidak lagi diuji dengan argumen, melainkan dengan jumlah pengikut. Akibatnya, mereka yang bertanya dianggap mengganggu harmoni, mereka yang berpikir kritis dicap lancang, bahkan durhaka. Waras menjadi ancaman, karena logika membuka kedok kemunafikan.
Tan Malaka membaca satu pola lama: agama yang tercerabut dari akal akan mudah dijadikan alat kekuasaan. Ketika logika absen, dogma bisa dipelintir. Ketika kritik dibungkam, kesalahan bisa diwariskan. Maka lahirlah masyarakat yang rajin berdoa meminta keadilan, tetapi enggan berpikir untuk menciptakannya. Rajin mengutuk kezaliman, tapi menormalisasi kebohongan jika datang dari pihak yang “seiman” atau “sebarisan”.
Ironinya, dalam sejarah pemikiran Islam maupun tradisi intelektual dunia, iman dan akal justru berjalan beriringan. Tetapi di negeri yang “ramai doa tapi miskin logika”, keduanya dipertentangkan. Akal dicurigai sebagai pembangkangan, berpikir kritis disamakan dengan pembelotan moral. Padahal, tanpa logika, doa hanya menjadi pengulangan tanpa arah—ritual tanpa etika, simbol tanpa substansi.
Maka tidak mengherankan bila yang waras sering dikira durhaka. Orang yang menolak hoaks dianggap kurang iman. Mereka yang menuntut data dicap tidak tawakal. Mereka yang mengkritik kekuasaan dituduh memecah belah umat. Di titik ini, durhaka bukan lagi soal melawan Tuhan, melainkan melawan kenyamanan kolektif yang malas berpikir.
Tan Malaka tidak sedang mengajak kita meninggalkan doa. Ia menantang kita untuk memuliakan logika sebagai amanah. Sebab berpikir adalah bentuk ibadah yang paling sunyi dan paling berisiko: tidak mendapat tepuk tangan, sering berujung pengucilan. Namun justru dari keberanian berpikir itulah peradaban bergerak.
Negeri ini tidak kekurangan orang saleh. Yang langka adalah keberanian untuk jujur pada akal sehat. Dan selama logika terus dicurigai, yang waras akan tetap sendirian—berdiri di antara doa-doa yang nyaring, sambil menanggung tuduhan durhaka hanya karena memilih berpikir.




