Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak kokoh. Padahal, bila kita jujur menelusuri jejaknya, tak ada perpisahan yang benar-benar terjadi tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari benih-benih kecil yang dibiarkan, disiram, lalu membesar—hingga akhirnya memecah fondasi cinta itu sendiri.
Perkawinan bukan sekadar pertemuan dua hati, melainkan pertemuan dua kehendak. Dan kehendak selalu melibatkan pilihan. Sejak awal seseorang memilih untuk mencintai, memilih untuk berkomitmen, memilih untuk bertahan, atau memilih untuk menyerah. Maka ketika ujungnya adalah perceraian, sesungguhnya itu bukan nasib. Itu adalah rangkaian pilihan yang terus diambil—atau diabaikan—hingga sampai pada titik akhir.
Sering kali orang berlindung di balik kata “takdir” untuk menenangkan luka. Padahal takdir dalam kehidupan manusia tidak pernah berdiri sendiri tanpa ikhtiar. Takdir adalah ruang kemungkinan, sedangkan pilihan adalah langkah nyata yang mengisi ruang itu. Kita memilih untuk mendengar atau mengabaikan. Memahami atau menyalahkan. Merawat atau menelantarkan. Dan dari pilihan-pilihan itulah arah hidup dibentuk.
Karena itu, tidak mungkin jodoh sepenuhnya disebut sebagai takdir Tuhan bila ujungnya adalah perceraian. Sebab Tuhan mempertemukan, tetapi manusialah yang menentukan bagaimana pertemuan itu dijaga atau dihancurkan. Jika jodoh benar-benar dimaknai sebagai takdir yang mutlak, maka semestinya ia berakhir pada kesetiaan, bukan perpisahan. Perceraian adalah bukti bahwa di antara pertemuan dan perpisahan, manusia diberi kehendak bebas—dan di sanalah pilihan bekerja.
Cinta pun sejatinya bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari. Ketika keputusan itu berhenti diperbarui, cinta kehilangan napasnya. Yang tersisa hanya kebiasaan, kewajiban, atau keterpaksaan. Dari sanalah retak bermula—bukan dari nasib, melainkan dari pilihan yang tak lagi dijaga.
Pada akhirnya, takdir bukan sesuatu yang jatuh dari langit tanpa keterlibatan manusia. Ia adalah jalan yang terbentang, tetapi kakilah yang melangkah. Bila ujung sebuah perkawinan adalah perpisahan, itu bukan semata nasib. Sejak awal hingga akhir, ia adalah kisah tentang pilihan—dan cermin tentang bagaimana manusia memaknai amanah cinta yang pernah ia terima.







