Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya, tanpa menimbang, tanpa memeriksa. Seolah agama meminta umatnya mematikan akal demi terlihat taat. Padahal, justru di sinilah pintu kebodohan berjubah kesalehan terbuka lebar.
Sejak awal, para ulama hadis telah meletakkan pagar yang tegas. Riwayat yang bertentangan dengan fakta sejarah yang mutawatir dapat dinilai dhaif. Artinya, bila sebuah kisah menabrak peristiwa sejarah yang sudah pasti, maka riwayat itu bukan untuk diamini, melainkan untuk dicurigai. Ini disiplin ilmu, bukan opini liar.
Lebih jauh lagi, mereka menetapkan kaidah yang lebih keras: bila matan sebuah riwayat bertentangan dengan akal sehat yang lurus dan realitas yang pasti, maka riwayat itu tertolak secara makna. Dengan kata lain, agama tidak pernah meminta kita mempercayai hal yang merusak logika, merendahkan martabat Nabi, atau mencoreng keadilan Tuhan.
Namun hari ini, justru riwayat-riwayat ganjil yang paling laku. Semakin aneh isinya, semakin cepat dibagikan. Semakin tidak masuk akal, semakin dianggap “bukti keimanan”. Akal diposisikan sebagai musuh iman, padahal sejarah Islam justru memuliakan akal sebagai alat penjaga wahyu.
Maka kalimat ini layak ditegakkan sebagai prinsip intelektual umat:
Riwayat yang melawan sejarah layak dicurigai.
Riwayat yang melawan akal sehat, layak ditinggalkan.
Ini bukan sikap anti-hadis. Ini sikap pro-kemurnian hadis. Sebab membela setiap riwayat tanpa seleksi bukanlah penghormatan pada Nabi—melainkan pembiaran atas kebohongan yang disandarkan kepadanya.
Imam Bukhari menolak ribuan riwayat. Imam Muslim menyaring dengan ketat. Para ulama jarh wa ta’dil meneliti perawi seperti penyidik kejahatan ilmiah. Jika mereka begitu keras menjaga otentisitas, mengapa kita hari ini justru santai menelan apa saja?
Persoalannya sederhana: iman yang takut pada akal adalah iman yang rapuh. Sebab kebenaran tidak pernah takut diuji. Yang takut diuji hanyalah kebohongan.
Maka berhentilah menjadikan “katanya hadis” sebagai tameng kemalasan berpikir. Sebab Tuhan tidak memberi manusia akal untuk digantung, tetapi untuk digunakan. Dan Nabi tidak diutus untuk diikuti dengan kebodohan, tetapi dengan kesadaran.
Di zaman banjir informasi, kehati-hatian adalah bentuk ibadah.
Memeriksa adalah bentuk takzim.
Berpikir adalah bentuk syukur.
Karena pada akhirnya, iman yang sehat selalu berjalan seiring dengan akal yang jernih.
Kalau Anda mau, saya juga bisa:
• Buat versi lebih singkat untuk kolom koran
• Buat versi lebih “menggigit” dengan kutipan retoris pembuka
• Atau versi akademik dengan rujukan ulumul hadis
Anda tinggal arahkan.





