Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

DULANG TINANDE

munira by munira
August 18, 2024
in Cross Cultural, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Dulang, pane, atau talam adalah nampan berbentuk lingkaran yang permukaannya datar dan biasanya berbibir pada tepinya. Dulang dapat dibuat dari kayu atau kuningan. Sedangkan kata ‘tinande’ asal katanya dari ‘tande’ mendapat infiks atau sisipan –in, yang artinya menampung atau menunggu. Dulang Tinande menggambarkan sikap ikhlas dalam menerima sesuatu yang positip.

Dalam falsafah Sunda, wanita yang sudah menikah dikenal dengan “dulang tinande.” Diterjemahkan secara umum, memiliki arti “lumpang besar yang selalu menerima”. Dalam artian, apa yang suami dapat, dan apa yang dialami oleh suami harus menerimanya dengan ikhlas. Namun begitu, walaupun awewe Sunda disebut dulang tinande, bukan berarti suaminya bisa seenak jidat memperlakukan isterinya.

Keikhlasan seorang isteri atas apa-apa yang diberikan sang suami, tentu harus ditebus oleh perilaku suami yang memelihara dan menjaga keharmonisan sebuah rumah tangga. Atau bisa juga dikatakan, sekalipun banyak harta benda, emas berlian yang diberikan kepada sang i twri, tapi nilai dan keutuhan rumah tangga, bisa saja jadi amburadul, jika suaminya selingkuh dengan seorang hostes di sebuah klab malam misalnya.
Sebagai nilai kehidupan, sikap dulang tinande, masih sering kita jumpai dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Dulang tinande seorang isteri, dalam suasana kekinian, banyak yang sudah mengalami pergeseran. Hal ini terjadi, karena dengan semakin berkembangnya teknologi dan informasi, tidak sedikit para suami yang dulunya setia pada sang isteri, kini tergoda oleh tahta, harta dan wanita.

Catatan kritisnya adalah apakah perilaku dulang tinande seorang isteri masih perlu dijaga dan dipelihara, jika suaminya menceburkan diri pada perilaku yang tidak senafas lagi dengan norma kehidupan yang ada ? Sebut saja seorang suami yang statusnya tercatat sebagai Pejabat Tinggi Negara, lalu dirinya memanjakan sang isteri dengan memberi kehidupan penuh kemewahan, tapi semuanya itu diperoleh lewat hasil korupsi, haruskah seorang isteri dulang tinande ?

Sikap dulang tinande, sesungguhnya mengandung nilai kehidupan yang cukup luhur dan penuh kemuliaan. Nilai filosofinya terletak pada keikhlasan seseorang dalam menerima nasib dan kehidupan. Pertanyaannya, benarkan sikap dulang tinande akan tumbuh dan berkembang baik, sekiranya tidak ada “take and give” dari para pelakunya, sebagaimana halnya dalam kehidupan sebuah rumah tangga ?

Banyak cerita yang sering kita baca di media sosisl, terkait adanya seorang isteri yang ingin menghajar suaminya, karena kepergok sedang indehoy dengan “daun muda” di sebuah hotel. Menyikapi hal seperti ini, wajar bila sang isteri pun merenung dan mengajukan pertanyaan, masih pantaskah dirinya bersikap dulang tinande terhadap sang suami, bila suaminya telah melanggar mahligay rumah tangga yang sakral ini ?

Dulang tinande, mestinya tampil menjadi nilai kehidupan yang bersifat universal. Dulang tinande merupakan sikap yang dapat ditempuh dan dilakoni oleh siapa saja. Dulang tinande tidak ditentukan oleh pangkat dan jabatan serta status sosial seseorang. Seorang pejabat eselon 1 di sebuah Kementerian, nilainya sama saja dengan seorang petani gurem.

Sikap dulang tinande, harusnya tidak lekang oleh waktu. Tidak juga terdampak oleh berubahnya orde Pemerintahan. Apakah era Orde Lama, Orde Baru atau Orde Reformasi, nilai dulang tinande, tetap melestari dalam kehidupan. Kata kunci agar dulang tinande tetap tumbuh dan berkembang dengan harmonis, sangat ditentukan oleh keterbukaan diri seseorang.

Seorang isteri akan menerima dengan lkhlas terhadap perlakuan suaminya, jika disertai dengan keterbukaan diri sebagai kepala rumah tangga. Seorang isteri, harusnya akan merasa bangga dan bahagia, bila penghasilan suaminya betul-betul diperoleh dengan cara halal dan bukan dari hasil korupsi atau dari hasil jual beli jabatan.

Akan tetapi, sah-sah saja kalau seorang isteri akan kecewa berat jika suaminya banyak berbohong kepada isterinya. Bilangnya mau lembur, sehingga harus pulang malam. Nyatanya tidak. Malah dirinya ngamar di sebuah penginepan dengan mantan kekasihnya, yang kini jadi wanita penghibur. Bilangnya ada tugas ke luar kota. Faktanya lagi-lagi pergi ke Ciater menikmati mandi air panas dengan selingkuhannya.

Selama tidak ketahuan, boleh jadi sang isteri percaya atas penjelasan suaminya. Walau penghasilannya jadi berkurang, isterinya menerima dengan ikhlas setiap bulannya. Padahal, kalau boleh jujur, uang yang diperoleh dari hasil kerja kerasnya itu, sebagian digunakan sang suami untuk berselingkuh ria dengan mantan kekasihnya itu.

Masalahnya, bagaimana kalau kepergok dan “kahongkeun” dirinya punya selingkuhan seorang wanita penghibur ? Apakah isterinya masih akan dulang tinande kepada suaminya ? Atau tidak, dimana isterinya akan marah besar terhadap kelakuan suaminya, yang nyata-nyata telah berbohong dan menodai kehidupan rumah tangganya ? Inilah yang namanya apes.

Memudarnya sikap dulang tinande seorang isteri terhadap suami, tidak bisa disangkal, kini memang tengah terjadi. Seiring perkembangan jaman, seorang isteri dengah mudah dapat mengikuti perjalanan hidup dan tingkah laku suaminya. Terlebih bagi seorang suami yang ketahuan sedang “beger” lagi. Betapa tidak ! Sebab, isterinya tahu persis ada perubahan sikap keseharian suaminya.

Terlepas dari pro kontra nilai dulang tinande dalam kehidupan sebuah rumah tangga, namun waktu yang terjadi, tidak mungkin dapat dikhianati. Pada jaman nya, sikap seorang isteri yang dulang tinande terhadap suami, memang pernah dan masih berlangsung dalam kehidupsn. Itu sebabnya, tidak terlalu berlebihan bila sikap dulang tinande, patut dijadikan cermin dalam mengarungi mahligey rumah tangga. Dijamin banyak untung, ketimbang kerugiannya. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hukum Anjing dalam Empat Mazhab: Menyelami Inkonsistensi dalam Penafsiran Hadis

Next Post

Dinasti Politik: Ambisi Anak-Anak Presiden untuk Berkuasa

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Iman, Otoritas, dan Kebenaran

by munira
January 4, 2026
0

Beragama pada hakikatnya menuntut believe—iman. Tetapi apa sebenarnya iman itu? Dalam pengertian paling mendasar, iman adalah tindakan meyakini sesuatu yang...

Bunga di Tembok Tua: Sebuah Renungan tentang Kehidupan

Bisikan untuk Empat Jiwa yang Kuat

by munira
December 17, 2025
0

Ada masa ketika kata-kata kehilangan suaranya. Ia tak lagi ingin didengar manusia, hanya ingin diperdengarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa....

Peta Kebahagiaan: Dari Timur ke Barat, Dari Jiwa ke Jiwa

by munira
December 11, 2025
0

Setiap manusia di manapun ia dilahirkan, dari bangsa mana pun ia berasal, selalu membawa satu kerinduan yang sama: kerinduan untuk...

Next Post
Dinasti Politik: Ambisi Anak-Anak Presiden untuk Berkuasa

Dinasti Politik: Ambisi Anak-Anak Presiden untuk Berkuasa

Mantra : Belum Usai Hingga Usai – It’s not over until It’s Over

Mantra : Belum Usai Hingga Usai - It's not over until It's Over

Please login to join discussion

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira