Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Ilmu Bahagia: Ketika Cukup Adalah Puncak Segala – “Stay There”

munira by munira
March 13, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Inong

Inong

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah rahasia yang jarang diungkap, sebuah kebijaksanaan yang tak banyak dipahami: bahwa kebahagiaan bukanlah perihal memiliki lebih, tetapi tentang merawat yang sudah cukup. Manusia, dalam hasratnya yang tak terbendung, sering terjebak dalam angan untuk mendapatkan lebih—lebih sukses, lebih teman, lebih harta, lebih cinta. Namun, tidakkah kita menyadari bahwa dalam keinginan itu, tersembunyi benih kegelisahan?

Ketika kita telah nyaman dalam pertemanan, mengapa ingin mencari lebih banyak teman? Bukankah semakin luas lingkaran, semakin besar pula kemungkinan ketidaksepahaman? Ketika kita telah akrab dengan saudara, mengapa ingin mendikte lebih dalam hubungan? Bukankah semakin erat genggaman, semakin sulit melepaskan jika tiba saatnya?

Begitu pula dalam keberhasilan. Jika kita telah meraih apa yang cukup, mengapa ingin melampaui batas? Dalam ketamakan, kita sering lupa bahwa puncak bukanlah tempat untuk menetap, melainkan sekadar persinggahan. Orang yang terus mengejar ketinggian tanpa jeda akan kehilangan tanah tempat ia berpijak, dan saat jatuh, ia mendapati dirinya sendirian, hampa, dan tak lagi punya tempat kembali.

Kehidupan adalah tentang keseimbangan. Menikmati yang ada tanpa terobsesi untuk menggenggam lebih. Sebab, hasrat untuk selalu lebih adalah jurang tanpa dasar—yang tak akan pernah penuh, yang tak akan pernah selesai.

Seperti yang dikatakan oleh Lao Tzu, “He who knows that enough is enough will always have enough.” (Dia yang tahu bahwa cukup adalah cukup, akan selalu memiliki cukup.) Atau seperti pepatah Zen yang berbunyi, “When you realize nothing is lacking, the whole world belongs to you.” (Ketika kamu menyadari bahwa tidak ada yang kurang, seluruh dunia menjadi milikmu.)

Maka, pelajaran tertinggi dalam ilmu bahagia adalah ini: cukup adalah segalanya. Berbahagialah dalam yang ada, sebab keinginan yang tak terkendali hanyalah jalan sunyi menuju kekecewaan. Tidak semua yang lebih itu baik, dan tidak semua yang cukup itu kurang.

Karena pada akhirnya, bahagia bukan soal memiliki segalanya, tetapi tentang menyadari bahwa kita sudah memiliki apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Global Wisdom – Anthology Pepatah Cerminan Nilai dan Kehidupan

Next Post

Dzikir dan Intelektualitas: Sebuah Perjalanan Menuju Makna Hakiki

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
Dzikir dan Intelektualitas: Sebuah Perjalanan Menuju Makna Hakiki

Dzikir dan Intelektualitas: Sebuah Perjalanan Menuju Makna Hakiki

Iqra: Reading as the Foundation of Civilization

Iqra: Reading as the Foundation of Civilization

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira