Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Ketika Shalawat Asyghil Menjadi Salah Arah

munira by munira
August 12, 2026
in Crime, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Ali Syarief

Ada sesuatu yang terasa janggal di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa, 11 Agustus 2026.

Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas datang menghadapi sidang perdana perkara dugaan korupsi kuota haji. Ia datang dengan rompi tahanan KPK. Jaksa kemudian membacakan dakwaan yang menyebut dugaan kerugian negara mencapai Rp622,09 miliar.

Tetapi yang terdengar menyambut kedatangannya justru lantunan **Shalawat Asyghil**.

Sejumlah pendukung Yaqut melantunkan shalawat tersebut ketika ia memasuki ruang persidangan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk mempersoalkan shalawat.

Bukan pula untuk menghakimi Yaqut sebelum pengadilan menjatuhkan putusan.

Tetapi untuk bertanya: **apakah kita masih memahami makna doa yang sedang kita baca?**

## Shalawat Asyghil Bukan Sekadar Lagu Penyambutan

Shalawat Asyghil mempunyai pesan yang sangat spesifik.

Salah satu bagian yang paling dikenal berbunyi:

**“Wa asyghili dzalimina bidzalimin, wa akhrijna min bainihim salimin.”**

Maknanya kurang lebih: *Ya Allah, sibukkanlah orang-orang zalim dengan sesama orang zalim dan selamatkanlah kami dari kejahatan mereka.*

Shalawat ini dikenal sebagai doa memohon perlindungan dari kezaliman dan orang-orang zalim.

Maka pertanyaannya menjadi sederhana tetapi mendasar:

**Ketika Shalawat Asyghil dibacakan untuk menyambut seseorang yang sedang menjalani persidangan perkara dugaan korupsi, siapa yang sebenarnya sedang kita doakan?**

Apakah kita sedang memohon agar Allah menyelamatkan umat dari kezaliman?

Ataukah secara tidak sadar kita sedang menjadikan shalawat sebagai alat pembelaan politik dan simbol dukungan kepada seseorang yang sedang berhadapan dengan proses hukum?

Di sinilah penyimpangannya.

## Jangan Jadikan Shalawat sebagai Tameng

Agama tidak membutuhkan pembelaan dengan cara seperti itu.

Shalawat adalah bentuk penghormatan dan doa kepada Nabi Muhammad SAW. Ia bukan yel-yel politik. Ia bukan spanduk pembelaan. Ia bukan pula tameng untuk melindungi seseorang dari pertanggungjawaban hukum.

Justru agama mengajarkan bahwa keadilan harus ditempatkan di atas hubungan pribadi, kelompok, organisasi, bahkan keluarga.

Kalau seseorang benar, bela dengan kebenaran.

Kalau seseorang salah, jangan dibela kesalahannya.

Dan kalau seseorang masih berstatus terdakwa, berikan kepadanya hak untuk membela diri melalui proses pengadilan—bukan dengan mengubah ruang sidang menjadi panggung pembenaran moral.

**Shalawat tidak boleh dipaksa menjadi alat untuk mengatakan bahwa seorang terdakwa pasti benar.**

Itu bukan penghormatan kepada agama.

Itu justru berpotensi merendahkan agama.

## Ironi Sebuah Doa

Ada ironi yang lebih dalam.

Shalawat Asyghil adalah doa agar orang-orang zalim disibukkan oleh orang-orang zalim lainnya dan agar kita diselamatkan dari kejahatan mereka.

Jika doa itu dibacakan di depan pengadilan, semestinya yang muncul adalah kesadaran:

**Ya Allah, jauhkan negeri ini dari kezaliman.**

**Ya Allah, tegakkan hukum dengan adil.**

**Ya Allah, jika ada yang bersalah, bukakan kebenarannya. Jika tidak bersalah, selamatkanlah ia dari fitnah.**

Itulah doa yang sehat.

Bukan mengubah shalawat menjadi semacam pagar spiritual agar seorang tokoh tidak tersentuh kritik dan proses hukum.

Sebab kalau benar kita percaya kepada Allah, kita tidak perlu takut pada kebenaran.

Kebenaran tidak membutuhkan pengerahan massa.

Kebenaran tidak membutuhkan suara keras.

Kebenaran hanya membutuhkan keberanian untuk berdiri di atasnya.

## Korupsi dan Kesalehan Simbolik

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika simbol-simbol agama mulai digunakan untuk menutupi problem moral yang justru sedang diuji.

Kita sering melihat fenomena semacam ini: semakin keras seseorang meneriakkan simbol agama, semakin sulit masyarakat mengkritik perilakunya.

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan bahwa kesalehan simbolik dapat menghapus kewajiban mempertanggungjawabkan perbuatan.

Orang bisa bershalawat ribuan kali.

Orang bisa memakai peci.

Orang bisa bersarung.

Orang bisa dipanggil *Gus*.

Tetapi hukum tetap harus berjalan.

Sebab **gelar keagamaan tidak menghapus hukum sebab-akibat moral.**

Dan ruang pengadilan bukan masjid tempat seseorang mencari ketenangan spiritual semata. Ia adalah tempat untuk mencari kebenaran hukum.

## Jangan Membela Orang dengan Cara yang Salah

Ada satu prinsip sederhana yang sering hilang dalam fanatisme kelompok:

**membela seseorang tidak selalu berarti membenarkan seseorang.**

Pendukung Yaqut boleh saja percaya bahwa ia tidak bersalah. Itu hak mereka.

Mereka boleh hadir di persidangan.

Mereka boleh mendoakannya.

Mereka boleh memberikan dukungan moral.

Tetapi dukungan moral seharusnya berbunyi:

**“Semoga Allah memberikan kekuatan dan keadilan kepadamu.”**

Bukan menjadikan shalawat sebagai instrumen untuk menciptakan kesan bahwa proses hukum terhadapnya adalah sebuah bentuk kezaliman.

Sebab siapa pun yang percaya kepada keadilan Tuhan semestinya tidak takut pada proses pencarian kebenaran.

## Jangan Sampai Doa Berbalik Menjadi Cermin

Ada ironi yang lebih tajam lagi.

Ketika kita membaca:

**“Wa asyghili dzalimina bidzalimin…”**

kita sebenarnya sedang mengucapkan doa yang mengandung kata **dzalimin**—orang-orang zalim.

Maka sebelum menunjuk siapa yang zalim, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

**Apakah kita sedang mendoakan agar kezaliman disingkirkan, atau justru sedang menggunakan doa untuk melindungi kelompok kita sendiri?**

Di situlah shalawat menjadi cermin.

Ia tidak hanya memantulkan wajah orang yang kita doakan.

Ia juga memantulkan wajah kita sendiri.

Apakah kita benar-benar sedang mencari keadilan?

Ataukah kita hanya sedang mencari pembenaran?

## Pengadilan Harus Tetap Menjadi Pengadilan

Perkara Yaqut harus diserahkan kepada hukum.

Jaksa menyampaikan dakwaan.

Pengacara menyampaikan pembelaan.

Hakim menilai alat bukti.

Dan pada akhirnya putusanlah yang menentukan status hukumnya.

Dakwaan JPU KPK tentu bukan vonis. Yaqut tetap memiliki hak untuk membantah dakwaan dan menjalani seluruh proses pembelaan. Karena itu, kritik terhadap penggunaan Shalawat Asyghil **tidak boleh berubah menjadi vonis sosial terhadap Yaqut**.

Justru karena kita menghormati hukum, kita harus membiarkan hukum bekerja.

Tetapi kita juga berhak mengingatkan bahwa **agama jangan dibawa untuk mengaburkan batas antara doa dan pembelaan politik.**

Shalawat adalah doa.

Pengadilan adalah tempat mencari keadilan.

Keduanya sama-sama mulia.

Tetapi jangan dicampuradukkan.

Sebab ketika shalawat digunakan untuk membela kepentingan kelompok, yang rusak bukan hanya suasana persidangan.

Yang lebih berbahaya adalah **makna agama itu sendiri.**

Dan mungkin, justru dalam perkara seperti inilah kita perlu mengembalikan Shalawat Asyghil kepada tempatnya:

**bukan untuk melindungi siapa yang kita sukai, tetapi untuk memohon kepada Allah agar seluruh negeri ini—rakyat, pejabat, aparat, hakim, jaksa, dan siapa pun—diselamatkan dari kezaliman.**

Karena pada akhirnya, **keadilan tidak mengenal kubu.**

Dan Allah tidak pernah menjadi milik sebuah kelompok.

Share this:

  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on X (Opens in new window) X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Stay There: Jangan Melangkah Melewati Kenyamanan

Next Post

Pak, Mulutnya Bau

munira

munira

Related Posts

Stay There: Jangan Melangkah Melewati Kenyamanan

Pada Usia 70: Tidak Perlu Lagi Membuktikan, Melainkan Menikmati

by munira
August 14, 2026
0

Besok saya berusia 70 tahun. Sebuah angka yang bagi sebagian orang mungkin terasa sangat jauh. Bagi saya, ia datang hampir...

Let the Feeling Speak Before the Meaning

by munira
August 13, 2026
0

Ada kalimat yang pendek, tetapi seperti mengetuk pintu yang sangat dalam di dalam diri: Let the feeling speak before the...

Pak, Mulutnya Bau

by munira
August 12, 2026
0

Ada satu kalimat dari seorang sahabat yang sampai hari ini masih saya ingat. Kalimatnya pendek, sederhana, bahkan mungkin terdengar kurang...

Stay There: Jangan Melangkah Melewati Kenyamanan

Stay There: Jangan Melangkah Melewati Kenyamanan

by munira
August 12, 2026
0

Ada hal-hal indah yang justru lahir karena jarak. Bukan karena dingin, melainkan karena setiap orang tahu di mana sebaiknya berhenti....

Next Post

Pak, Mulutnya Bau

Let the Feeling Speak Before the Meaning

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Pada Usia 70: Tidak Perlu Lagi Membuktikan, Melainkan Menikmati
  • Let the Feeling Speak Before the Meaning
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira