Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Figure

Pada Usia 70: Tidak Perlu Lagi Membuktikan, Melainkan Menikmati

munira by munira
August 14, 2026
in Figure, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Besok saya berusia 70 tahun.

Sebuah angka yang bagi sebagian orang mungkin terasa sangat jauh. Bagi saya, ia datang hampir tanpa terasa. Tiba-tiba saja, saya sudah berada di titik ini—menengok ke belakang, melihat jalan panjang yang pernah saya tempuh, orang-orang yang pernah saya jumpai, tempat-tempat yang pernah saya datangi, tulisan-tulisan yang pernah saya buat, keputusan-keputusan yang pernah saya ambil, juga kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan.

Tujuh puluh tahun.

Dulu saya membayangkan usia setua ini sebagai sebuah garis akhir. Sekarang saya justru melihatnya sebagai sebuah cara baru untuk memandang kehidupan.

Semakin bertambah usia, semakin saya merasa bahwa hidup ternyata bukan perlombaan untuk menjadi sesuatu.

Bukan perlombaan untuk menjadi paling berhasil.

Bukan untuk menjadi paling kaya, paling berpengaruh, paling terkenal, atau paling dihormati.

Bahkan bukan untuk terus-menerus membuktikan bahwa kita benar kepada dunia.

Ada suatu masa dalam hidup ketika kita begitu sibuk membuktikan diri. Kepada orang tua, kepada keluarga, kepada teman, kepada lingkungan, kepada masyarakat, bahkan kepada diri sendiri.

Kita ingin menunjukkan bahwa kita mampu.

Kita ingin diakui.

Kita ingin dianggap berhasil.

Kita ingin nama kita dikenal.

Kita ingin karya kita dihargai.

Kita ingin pendapat kita didengar.

Barangkali itu semua memang bagian dari perjalanan hidup. Manusia membutuhkan pengakuan. Manusia ingin merasa dirinya berarti.

Tetapi semakin tua saya justru semakin memahami satu hal:

**pengakuan dari dunia tidak pernah benar-benar selesai.**

Hari ini kita dipuji, besok orang lupa.

Hari ini kita dianggap penting, besok datang orang lain.

Hari ini tulisan kita dibaca, besok tulisan itu menjadi arsip.

Hari ini kita memenangkan perdebatan, besok muncul perdebatan baru.

Dunia terus bergerak. Dunia tidak pernah benar-benar berhenti untuk memberikan kita sertifikat bahwa kita telah berhasil menjadi seseorang.

Lalu, untuk apa kita mengejar semuanya begitu keras?

Pada usia 70, saya mulai menemukan jawaban yang lebih sederhana.

Mungkin hidup tidak terutama tentang **membuktikan siapa diri kita**, melainkan tentang **menikmati siapa diri kita**.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi saya ia lahir dari perjalanan yang panjang.

Menikmati siapa diri kita berarti menerima bahwa kita tidak sempurna.

Ada bagian dari diri kita yang berhasil, ada yang gagal.

Ada keputusan yang patut kita syukuri, ada pula keputusan yang kalau boleh diulang mungkin akan kita pilih dengan cara berbeda.

Ada orang-orang yang masih berjalan bersama kita, ada yang telah pergi.

Ada impian yang terwujud, ada yang tetap menjadi impian.

Dan semua itu adalah kita.

Kita tidak perlu menghapus bagian-bagian yang tidak indah untuk merasa bahwa hidup kita berharga.

Barangkali justru semua itulah yang membuat kita menjadi manusia.

Saya menyadari hal itu semakin kuat karena perjalanan hidup saya sendiri membawa saya ke banyak dunia.

Jurnalisme mengajarkan saya untuk bertanya.

Perjalanan mengajarkan saya untuk melihat.

Pertemuan dengan banyak orang mengajarkan saya untuk mendengarkan.

Kebudayaan mengajarkan saya bahwa cara manusia hidup tidak pernah hanya memiliki satu bentuk.

Dan waktu mengajarkan saya bahwa banyak hal yang dahulu terasa begitu penting ternyata akhirnya menjadi kecil.

Sebaliknya, hal-hal yang dulu saya kira kecil justru sering menjadi sesuatu yang paling saya ingat.

Sebuah percakapan.

Sebuah persahabatan.

Sebuah perjalanan.

Sebuah tawa.

Sebuah rumah yang pernah menerima saya sebagai tamu.

Seseorang yang pernah menolong saya ketika saya membutuhkannya.

Seseorang yang pernah mempercayai saya.

Hal-hal seperti itulah yang ternyata tinggal lebih lama di dalam ingatan daripada banyak penghargaan dan pencapaian.

Mungkin karena pada akhirnya kehidupan bukan kumpulan prestasi.

Kehidupan adalah kumpulan pengalaman yang pernah membuat kita merasa hidup.

Saya juga semakin menyadari bahwa usia bukan hanya tentang berkurangnya waktu.

Usia adalah bertambahnya perspektif.

Ketika masih muda, kita melihat dunia dari jarak yang sangat dekat. Kita mudah marah. Mudah tersinggung. Mudah merasa harus menang.

Semakin tua, kita mulai melihat bahwa banyak pertengkaran tidak layak diperpanjang.

Tidak semua perbedaan harus diselesaikan.

Tidak semua kritik harus dijawab.

Tidak semua kesalahan orang lain harus kita simpan dalam hati.

Dan tidak semua orang harus memahami kita.

Ada kebebasan besar ketika kita berhenti membutuhkan semua orang untuk mengerti siapa diri kita.

Saya tidak lagi terlalu ingin menjelaskan diri saya kepada semua orang.

Saya tahu siapa saya.

Saya tahu apa yang saya percaya.

Saya tahu apa yang pernah saya lakukan.

Saya juga tahu apa yang tidak saya lakukan dengan baik.

Dan barangkali itu sudah cukup.

Pada usia 70, saya juga semakin menghargai kata **menikmati**.

Bukan menikmati dalam arti hidup tanpa tujuan.

Bukan pula menikmati dalam arti mengejar kesenangan.

Menikmati adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam apa yang sedang kita jalani.

Menikmati secangkir kopi.

Menikmati percakapan.

Menikmati sebuah perjalanan.

Menikmati belajar sesuatu yang baru meskipun tidak ada ujian yang harus dilewati.

Menikmati bertemu orang yang berbeda bahasa dan budaya.

Menikmati menulis sebuah kalimat yang terasa tepat.

Menikmati hari yang biasa-biasa saja.

Karena mungkin, pada akhirnya, sebagian besar kehidupan memang terdiri dari hari-hari yang biasa.

Dan justru di situlah kebahagiaan sering bersembunyi.

Kita terlalu sering menunggu peristiwa besar untuk merasa bahagia.

Padahal kehidupan lebih banyak memberikan kita momen-momen kecil.

Senyum seseorang.

Pesan singkat dari seorang teman.

Tawa di meja makan.

Pemandangan dari jendela pesawat.

Berjalan di sebuah kota yang belum pernah kita kenal.

Mendengar suara bahasa asing.

Membaca sebuah kalimat yang tiba-tiba menyentuh hati.

Atau sekadar bangun pagi dan menyadari:

**hari ini saya masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup.**

Tujuh puluh tahun juga membuat saya semakin sadar bahwa waktu tidak bisa dimiliki.

Ia hanya bisa dijalani.

Karena itu saya tidak terlalu tertarik lagi menghitung berapa tahun yang telah saya lewati.

Saya lebih tertarik pada berapa banyak kehidupan yang masih bisa saya rasakan.

Masih ada tempat yang ingin saya kunjungi.

Masih ada orang yang ingin saya temui.

Masih ada bahasa yang ingin saya dengarkan.

Masih ada buku yang ingin saya baca.

Masih ada pertanyaan yang belum saya jawab.

Masih ada tulisan yang belum selesai.

Dan mungkin justru karena itulah saya tidak merasa sedang memasuki akhir.

Saya merasa sedang memasuki fase lain.

Fase ketika kita tidak lagi harus berlari secepat dulu.

Kita boleh berjalan.

Boleh berhenti.

Boleh melihat ke kiri dan ke kanan.

Boleh menikmati pemandangan.

Boleh tersesat sedikit.

Sebab kita akhirnya memahami bahwa perjalananlah yang penting, bukan hanya tujuan.

Ketika saya melihat kembali perjalanan 70 tahun ini, saya tidak ingin menghitung berapa banyak yang telah saya capai.

Saya ingin mengingat berapa banyak yang telah saya rasakan.

Berapa banyak manusia yang telah saya jumpai.

Berapa banyak cerita yang telah saya dengar.

Berapa banyak tempat yang telah saya lihat.

Berapa banyak pelajaran yang telah diberikan kehidupan.

Dan berapa banyak kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk berbagi sesuatu kepada orang lain.

Kalau ada yang masih ingin saya lakukan, barangkali bukan lagi menambah daftar pencapaian.

Saya ingin menambah kedalaman.

Menulis lebih jujur.

Mendengar lebih banyak.

Belajar lebih lama.

Mencintai kehidupan dengan lebih sederhana.

Dan mungkin, meninggalkan sesuatu yang tidak harus besar, tetapi berguna.

Sebuah tulisan.

Sebuah pemikiran.

Sebuah pertemanan.

Sebuah pengalaman yang bisa diteruskan kepada orang lain.

Besok, ketika angka 70 itu resmi melekat pada usia saya, saya tidak ingin merayakannya sebagai kemenangan atas waktu.

Saya justru ingin menerimanya sebagai hadiah dari waktu.

Tujuh puluh tahun bukan bukti bahwa saya telah menjalani hidup dengan sempurna.

Tujuh puluh tahun hanyalah bukti bahwa saya telah diberi kesempatan untuk hidup cukup lama untuk memahami bahwa kesempurnaan bukan tujuan.

Kita datang ke dunia tanpa tahu apa-apa.

Kita tumbuh sambil belajar.

Kita berjalan sambil tersandung.

Kita mencintai sambil berisiko kehilangan.

Kita bermimpi sambil menghadapi kenyataan.

Dan pada suatu titik, kita akhirnya mengerti:

**hidup tidak meminta kita menjadi sempurna.**

Hidup hanya meminta kita untuk sungguh-sungguh menjalaninya.

Maka di usia 70 ini, saya ingin mengurangi satu hal: kebutuhan untuk membuktikan.

Dan menambah satu hal: kemampuan untuk menikmati.

Menikmati siapa saya.

Dengan segala keberhasilan dan kegagalan.

Dengan segala kebahagiaan dan kehilangan.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Dengan semua yang sudah saya ketahui—dan terutama dengan semua yang belum saya ketahui.

Sebab barangkali, setelah perjalanan yang sedemikian panjang, bentuk kebijaksanaan yang paling sederhana adalah ini:

**Kita akhirnya bisa hidup bukan untuk membuktikan siapa diri kita, tetapi untuk menikmati siapa diri kita.**

Dan mungkin, justru ketika kita berhenti sibuk membuktikan diri kepada dunia, kita akhirnya benar-benar mulai hidup untuk diri kita sendiri.

**70 tahun.**

Bukan garis akhir.

Hanya sebuah angka baru dalam perjalanan yang masih ingin saya nikmati.

Share this:

  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on X (Opens in new window) X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Let the Feeling Speak Before the Meaning

munira

munira

Related Posts

Let the Feeling Speak Before the Meaning

by munira
August 13, 2026
0

Ada kalimat yang pendek, tetapi seperti mengetuk pintu yang sangat dalam di dalam diri: Let the feeling speak before the...

Pak, Mulutnya Bau

by munira
August 12, 2026
0

Ada satu kalimat dari seorang sahabat yang sampai hari ini masih saya ingat. Kalimatnya pendek, sederhana, bahkan mungkin terdengar kurang...

Ketika Shalawat Asyghil Menjadi Salah Arah

Ketika Shalawat Asyghil Menjadi Salah Arah

by munira
August 12, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada sesuatu yang terasa janggal di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa, 11 Agustus 2026. Mantan...

Stay There: Jangan Melangkah Melewati Kenyamanan

Stay There: Jangan Melangkah Melewati Kenyamanan

by munira
August 12, 2026
0

Ada hal-hal indah yang justru lahir karena jarak. Bukan karena dingin, melainkan karena setiap orang tahu di mana sebaiknya berhenti....

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Pada Usia 70: Tidak Perlu Lagi Membuktikan, Melainkan Menikmati
  • Let the Feeling Speak Before the Meaning
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira