Oleh: Hariono Soeharyo
Di antara riuhnya dunia yang retak, suara paling lirih datang dari kitab-kitab suci: cinta, rahmah, compassion. Hampir semua agama di muka bumi ini berangkat dari benih yang sama—kasih sayang. Sebuah ajaran yang tak pernah kering, yang turun dari langit dan seharusnya menyejukkan bumi. Tapi mengapa yang terjadi justru sebaliknya?
Islam, misalnya, lahir dari akar kata salaam—damai. Tuhan pun memperkenalkan diri dalam sebutan yang paling lembut: Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Di sisi lain, Yesus dikenal bukan karena pedang, melainkan karena pelukannya. Buddha berbicara tentang welas asih, dan para Rsi Hindu menekankan ahimsa—tanpa kekerasan.
Namun lihatlah hari ini. Atas nama Tuhan, orang membunuh. Atas nama keyakinan, orang saling melukai. Perang-perang panjang disulut bukan karena kebencian semata, tapi karena kepercayaan yang dikunci rapat—yang tak mau dibagi, apalagi dikompromikan. Tuhan pun seolah diseret ke palagan. Ia dipakai sebagai pembenaran, sebagai bendera, sebagai stempel sah untuk menjatuhkan sesama manusia.
Barangkali, kita terlalu cepat mengucap “Tuhan Maha Pengasih”, tapi terlalu lambat mewujudkannya dalam tindakan. Lidah kita mengamini cinta kasih, tetapi tangan kita menggenggam batu. Kita merapal doa setiap hari, tetapi memalingkan wajah dari mereka yang berbeda. Kasih sayang menjadi jargon, bukan laku.
Saya ingat sebuah fragmen puisi Jalaluddin Rumi:
“Apa yang kau anggap sebagai musuh adalah bagian dari dirimu yang belum kauberi cinta.”
Barangkali musuh yang sebenarnya bukanlah mereka yang berbeda agama atau keyakinan, tetapi rasa takut dan kebencian yang tumbuh di dalam hati kita sendiri. Dan karena itulah, kasih sayang menjadi tugas yang terus tertunda. Ia tak cukup hanya dinyatakan dalam khutbah, diserukan dalam doa, atau ditulis dalam kitab. Ia harus dijalani—dan itu yang paling sulit.
Tapi kita tetap harus percaya: kasih bukan sesuatu yang telah punah, melainkan sesuatu yang sedang diuji. Mungkin di tengah reruntuhan konflik dan fanatisme, masih ada sejumput harapan: seorang relawan yang mengulurkan tangan pada korban dari agama lain, seorang ibu yang mengajari anaknya menghormati perbedaan, atau bahkan seorang musuh yang memilih diam daripada membalas.
Di sana, di sela-sela retak dunia, Tuhan barangkali sedang tersenyum kecil. Sebab kasih, walau sering kalah dalam sejarah, tidak pernah benar-benar mati.
Dan jika suatu hari nanti manusia kembali mengingat bahwa tujuan beragama bukan untuk merasa paling benar, melainkan untuk lebih mampu mencintai—mungkin di saat itulah damai akan benar-benar hadir. Bukan sebagai simbol, bukan sebagai jargon, tapi sebagai kenyataan.
Karena Tuhan yang kita sembah, tak pernah memerintahkan untuk saling membunuh. Yang Ia kehendaki hanyalah: saling mencintai.





