Ketika dunia bergelut dengan absurditas, kita bertemu dengan sebuah istilah tiga huruf: LOL. Ah, betapa sederhana, namun sarat ironi. Dalam kultur digital yang memburu kebahagiaan instan, istilah ini hadir seperti seorang badut di panggung tragedi Yunani. Ia memancing tawa, tetapi di baliknya, tersembunyi luka eksistensial.
“Laughter is the language of the soul,” kata Pablo Neruda. Tapi, LOL? Ini bukan tawa jiwa, melainkan produk kapitalisme emosional. Ia tumbuh dari kebutuhan akan validasi cepat, dopamine rush, dan keterasingan sosial yang disamarkan sebagai koneksi. Dalam satu ketikan, kita tertawa keras — atau setidaknya berpura-pura melakukannya.
Bayangkan ini: seorang pengguna media sosial melihat meme tentang pengangguran. Dengan cepat, ia mengetik “LOL,” meski dalam realitasnya, ia sedang melamar pekerjaan dengan CV yang ia ubah lima kali dalam sehari. Apakah ini lucu? Tidak, ini adalah theater of the absurd dalam wujudnya yang paling banal.
LOL adalah simbol bagaimana manusia modern berupaya menyangkal realitas pahit melalui humor. Ia seperti Schadenfreude, menikmati penderitaan orang lain, meski penderitaan itu hanya ilusi yang diproyeksikan melalui layar. Filosof Albert Camus mungkin akan menyebut ini sebagai bentuk lain dari pemberontakan absurd: tertawa ketika tahu bahwa tawa itu sendiri adalah sia-sia.
Namun, apakah LOL itu palsu? Tidak sepenuhnya. Ia adalah cara kita menahan kehampaan. Seperti deus ex machina dalam drama klasik, LOL datang untuk menyelamatkan kita dari dialog serius yang seringkali tak berujung. Ia adalah pelarian sementara, namun dalam pelarian itu, kita lupa bahwa kita tidak pernah benar-benar lari.
Akhirnya, LOL adalah refleksi. Ia adalah memento mori dalam dunia digital—pengingat bahwa hidup ini rapuh, dan tawa, betapa pun singkatnya, tetap menjadi upaya terbaik kita untuk menghadapi absurditas ini.
Jadi, tertawalah, LOL-lah, tetapi ingatlah: di balik setiap hurufnya, ada dunia yang mencoba menertawakan dirinya sendiri agar tidak menangis.









