Di podium tinggi penuh wibawa,
Paman Usman berdiri dengan suara menggema,
Ia, sang penjaga kitab suci negeri,
Tapi kini, sejarah mencatat, ia menggores nurani.
Konstitusi, janji agung kemerdekaan,
Ditulis oleh darah dan pengorbanan,
Namun ia, dengan palu di tangannya,
Meloloskan keputusan yang menciderai bangsa.
Wajahnya tenang, ucapannya berlapis hukum,
Tapi di balik tirai, rakyat melihat kezaliman tersusun,
Ia membiarkan aturan dilipat seperti kertas,
Memberi jalan bagi dinasti kuasa yang tak terbatas.
Apakah arti sumpah yang pernah terucap?
Saat keadilan dijual dalam selimut gelap,
Apakah ia lupa bahwa rakyat menyaksikan?
Bahwa palu itu menghantam mimpi kemerdekaan?
Paman Usman, nama yang kini bergema,
Namun bukan karena kebanggaan atau cinta,
Ia melangkah di jalan yang gelap dan licin,
Menghianati kitab yang seharusnya ia peluk dengan disiplin.
Kejahatan konstitusional, begitu rakyat menyebutnya,
Tapi siapa yang berani menghadapinya?
Hukum bungkam, lembaga bisu,
Sementara rakyat menahan pilu.
Paman Usman, kau mungkin tak gentar,
Namun ingatlah, sejarah tak pernah kabur,
Namamu tercatat, bukan sebagai penjaga,
Tapi sebagai pengkhianat konstitusi bangsa.
Maka, rakyat menunggu hari penghakiman sejati,
Di mana keadilan tak bisa dibeli,
Karena konstitusi bukan milik segelintir kuasa,
Tapi warisan suci seluruh anak bangsa.







