Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Destination

Semua Aktivitasku Diorientasikan untuk Mengantarku ke Titik Sampai

munira by munira
July 10, 2025
in Destination, Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Aku percaya, hidup—meski tampaknya bergerak liar, penuh detour, dan gemuruh distraksi—sebetulnya diam-diam taat pada satu garis. Garis itu tak selalu lurus. Ia meliuk, kadang menanjak, kadang seperti kembali ke titik awal. Tapi garis itu selalu menuju ke sesuatu. Ke sebuah titik sampai.

Dan aku, dengan segala kesadaran yang kadang terlambat, mulai merasa bahwa semua yang kulakukan, semua aktivitas kecil dan besar, semua keputusan yang kuambil—dan bahkan yang kutunda—seolah diarahkan untuk satu maksud yang aku sendiri tak selalu tahu: sampai.

Sampai ke mana?

Mungkin aku tidak tahu. Atau pura-pura tidak tahu. Tapi barangkali bukan “tempat” yang penting, melainkan “kesampaian” itu sendiri: suatu keadaan yang membuat kita bisa berkata, “aku sudah di sini.” Suatu saat ketika napas terasa penuh, dan kosong dalam waktu yang bersamaan.


Ada orang yang hidupnya seperti jalan tol. Terang, rapi, dan penuh papan petunjuk. Ada pula yang seperti gang kecil—sempit, berkelok, dan tak ada dalam peta. Tapi apa pun bentuk jalannya, semua sedang menuju “sampai”.

Aku, seperti banyak dari kita, sering tersesat. Dalam keinginan. Dalam ketakutan. Dalam kegagalan yang tak bisa kuterangkan kepada siapa pun. Tapi bahkan saat tersesat pun, kaki ini tetap berjalan. Mungkin memang begitu cara dunia bekerja: kita tak harus paham arah untuk terus bergerak.

Setiap aktivitasku—menulis, berbicara, diam, mencintai, membenci, memaafkan, membangun, meruntuhkan—semuanya seperti disusun sebagai fragmen-fragmen kecil yang akan tersusun menjadi satu narasi panjang. Entah bagaimana, narasi itu mengantarku pada kelegaan, atau luka, atau keduanya.


Mereka bilang, hidup harus punya tujuan. Tapi tujuan itu sering kali berubah, kabur, atau bahkan lenyap. Maka aku belajar untuk tak terlalu terikat pada satu definisi tujuan. Aku tidak ingin terjebak dalam konsep “berhasil” yang ditentukan oleh orang lain, atau “gagal” yang hanya hitungan waktu.

Yang kupahami kini: semua ini adalah perjalanan mengantarku ke titik di mana aku bisa menjadi diriku—tanpa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Titik di mana aku bisa duduk, menengok ke belakang, dan tahu bahwa bahkan saat aku jatuh, itu pun adalah bagian dari pengantaran.


Barangkali, itulah “titik sampai” itu:
Bukan menaklukkan dunia, tapi memahami ke mana kita sebenarnya diarahkan.
Bukan memenangkan segala hal, tapi berdamai dengan kehilangan.
Bukan menjadi orang lain, tapi menjadi lebih dekat pada diri sendiri.

Dan ya, hari ini, saat aku menulis ini, aku percaya: semua aktivitasku—yang kulakukan dengan sadar, yang terjadi tanpa rencana, yang kusesali dan yang kusyukuri—telah, sedang, dan akan terus mengantarku ke titik itu.

Titik sampai.
Titik cukup.
Titik diam.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Mekar Menjadi Revolusi yang Lembut

Next Post

Merayakan Ulang Tahun: Antara Doa, Refleksi, dan Pemikiran Sempit

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post

Merayakan Ulang Tahun: Antara Doa, Refleksi, dan Pemikiran Sempit

Apa Itu Dosa Menurut Tuhan, Manusia, dan Agama?

Apa Itu Dosa Menurut Tuhan, Manusia, dan Agama?

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira