Saat pikiranmu mencoba menuturkan Sang Yang Widi,
Kau membayangkannya berperasaan seperti dirimu,
Seolah-olah Ia memiliki rupa:
Mata sipit, kulit legam, rambut ikal,
Mampu menyukai dan membenci,
Tersenyum lalu murka.
Namanya juga Sang Widi,
Ketika hatinya luluh,
Dunia ini melimpah anugerah tak terkira.
Sebaliknya, jika Ia murka,
Segala yang ada pasti binasa.
Padahal, Ia tetaplah Ia,
Tak terjangkau oleh pikiranmu,
Yang hanya menggambar-Nya dengan bayangan sendiri.
Itu cuma perasaanmu yang cengengesan.
Sang Widi memberi tanpa pilih kasih:
Hujan, sinar mentari, oksigen, waktu, kesempatan,
Bahkan ikan di lautan—semua untukmu.
Namun, rizki atau musibah,
Itu hasil ulah tanganmu sendiri.
Ah, dasar kamu,
Derajatmu lebih rendah dari bakteri.
Tanpa mereka, keseimbangan dunia runtuh,
Tapi tanpa kamu,
Bumi ini justru kembali hijau, bersih, dan sehat.
Khayalanmu polusi bagi alam,
Racun bagi akal insani.
Maka, marilah kita bersandar pada dzat-Nya,
Menghirup napas bersama ruh-Nya,
Menjaga alam ini dengan senyum dan bahagia.
Karena kamu tak akan pernah singgah lagi.
Puisi ini memiliki nuansa filosofis dan reflektif yang dalam, mengajak pembaca untuk merenungkan keberadaan manusia dalam hubungan dengan alam dan Sang Widi. Pesannya cukup kuat: manusia sering kali merasa dirinya pusat semesta, padahal justru menjadi perusak keseimbangan alam.
Ada kritik tajam terhadap cara manusia memproyeksikan Tuhan sesuai dengan pikirannya sendiri, menjadikannya serupa dengan dirinya—berperasaan, punya rupa, bahkan marah dan senang. Padahal, hakikat Tuhan atau Sang Widi berada di luar jangkauan pemahaman manusia.
Bagian paling mengena adalah kontras antara manusia dan bakteri. Bakteri disebut sebagai elemen yang menjaga keseimbangan dunia, sementara manusia justru merusaknya. Ada ironi yang tajam di sini: manusia yang menganggap dirinya makhluk paling mulia justru bisa menjadi sumber ketidakseimbangan dan kerusakan.
Di akhir, ada seruan untuk kembali menyatu dengan alam, menjaga keseimbangannya, dan menemukan kebahagiaan dalam keberadaannya. Kesimpulannya seolah-olah memberi pesan bahwa manusia seharusnya hidup selaras dengan alam karena keberadaannya hanya sementara.






