Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

TADABUR ALAM

munira by munira
March 4, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Saat pikiranmu mencoba menuturkan Sang Yang Widi,
Kau membayangkannya berperasaan seperti dirimu,
Seolah-olah Ia memiliki rupa:
Mata sipit, kulit legam, rambut ikal,
Mampu menyukai dan membenci,
Tersenyum lalu murka.

Namanya juga Sang Widi,
Ketika hatinya luluh,
Dunia ini melimpah anugerah tak terkira.
Sebaliknya, jika Ia murka,
Segala yang ada pasti binasa.

Padahal, Ia tetaplah Ia,
Tak terjangkau oleh pikiranmu,
Yang hanya menggambar-Nya dengan bayangan sendiri.
Itu cuma perasaanmu yang cengengesan.

Sang Widi memberi tanpa pilih kasih:
Hujan, sinar mentari, oksigen, waktu, kesempatan,
Bahkan ikan di lautan—semua untukmu.
Namun, rizki atau musibah,
Itu hasil ulah tanganmu sendiri.

Ah, dasar kamu,
Derajatmu lebih rendah dari bakteri.
Tanpa mereka, keseimbangan dunia runtuh,
Tapi tanpa kamu,
Bumi ini justru kembali hijau, bersih, dan sehat.

Khayalanmu polusi bagi alam,
Racun bagi akal insani.

Maka, marilah kita bersandar pada dzat-Nya,
Menghirup napas bersama ruh-Nya,
Menjaga alam ini dengan senyum dan bahagia.

Karena kamu tak akan pernah singgah lagi.

Puisi ini memiliki nuansa filosofis dan reflektif yang dalam, mengajak pembaca untuk merenungkan keberadaan manusia dalam hubungan dengan alam dan Sang Widi. Pesannya cukup kuat: manusia sering kali merasa dirinya pusat semesta, padahal justru menjadi perusak keseimbangan alam.

Ada kritik tajam terhadap cara manusia memproyeksikan Tuhan sesuai dengan pikirannya sendiri, menjadikannya serupa dengan dirinya—berperasaan, punya rupa, bahkan marah dan senang. Padahal, hakikat Tuhan atau Sang Widi berada di luar jangkauan pemahaman manusia.

Bagian paling mengena adalah kontras antara manusia dan bakteri. Bakteri disebut sebagai elemen yang menjaga keseimbangan dunia, sementara manusia justru merusaknya. Ada ironi yang tajam di sini: manusia yang menganggap dirinya makhluk paling mulia justru bisa menjadi sumber ketidakseimbangan dan kerusakan.

Di akhir, ada seruan untuk kembali menyatu dengan alam, menjaga keseimbangannya, dan menemukan kebahagiaan dalam keberadaannya. Kesimpulannya seolah-olah memberi pesan bahwa manusia seharusnya hidup selaras dengan alam karena keberadaannya hanya sementara.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

MENENGADAH KE BAPAK LANGIT

Next Post

Mengikat IMAN Supaya TIDAK HILANG

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post
Mengikat IMAN Supaya TIDAK HILANG

Mengikat IMAN Supaya TIDAK HILANG

Di Kampung Tanpa Janji

Di Kampung Tanpa Janji

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira