Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan hidup, bukan untuk menyerah, melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya, mengapa aku begitu terburu-buru?”
Pernahkah kita merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain berjalan lebih cepat?
Kita melihat seseorang telah sampai di tempat yang kita impikan. Ada yang sudah memiliki pekerjaan, sementara kita masih mencari arah. Ada yang telah membangun rumah tangga, sementara kita masih belajar berdamai dengan kesendirian. Ada yang telah mencapai sesuatu pada usia yang sama ketika kita bahkan masih bertanya: sebenarnya, ke mana hidup ini akan membawa saya?
Lalu tanpa sadar, kita mulai membandingkan.
Kita mengukur hidup dengan kehidupan orang lain. Kita mengukur keberhasilan dengan pencapaian orang lain. Bahkan terkadang kita menganggap diri kita gagal hanya karena perjalanan kita tidak secepat perjalanan mereka.
Padahal, hidup bukan perlombaan lari.
Tidak ada pistol yang ditembakkan sebagai tanda bahwa semua manusia harus berlari dari garis yang sama menuju garis akhir yang sama.
Setiap orang memiliki jalannya sendiri.
Ada yang berjalan di jalan yang lurus. Ada yang harus melewati tanjakan. Ada yang berkali-kali jatuh sebelum menemukan cara untuk berdiri. Ada pula yang harus berhenti cukup lama, bukan karena menyerah, tetapi karena hidup sedang mengajarinya sesuatu.
Maka, jangan terlalu sibuk menghitung langkah orang lain.
Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak luka yang mereka sembunyikan di balik langkah yang terlihat begitu cepat.
Dan mereka pun tidak pernah tahu berapa banyak badai yang telah kita lewati untuk sampai pada tempat kita berdiri hari ini.
Barangkali yang kita perlukan bukan berjalan lebih cepat, melainkan berjalan lebih sadar.
Ada perbedaan antara cepat dan maju.
Kita bisa bergerak sangat cepat tetapi menuju arah yang salah. Sebaliknya, seseorang mungkin berjalan perlahan, tetapi setiap langkahnya semakin mendekatkannya kepada dirinya sendiri.
Bukankah pada akhirnya, tujuan kehidupan bukan sekadar menjadi yang pertama sampai?
Melainkan menjadi manusia yang memahami mengapa ia berjalan.
Karena itu, jika hari ini langkahmu terasa lambat, jangan buru-buru menyebut dirimu gagal.
Mungkin hidup sedang meminta kamu untuk menikmati jalan yang selama ini terlalu sering kamu abaikan.
Dengarkan suara langkahmu.
Rasakan tanah yang kau pijak.
Lihat langit yang selama ini mungkin terlalu sibuk kau lewatkan.
Tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan tergesa-gesa.
Ada perjalanan yang justru menjadi indah karena kita menjalaninya perlahan.
Dan mungkin, kebijaksanaan hidup terletak di sana: mengetahui kapan harus berlari dan kapan harus berjalan pelan.
Jangan hidup hanya karena takut tertinggal.
Berjalanlah karena engkau tahu ke mana hendak menuju.
Jika orang lain sudah jauh di depan, biarkan.
Jika ada yang berjalan lebih lambat darimu, jangan meremehkannya.
Sebab kita semua sedang menempuh perjalanan yang berbeda dengan jam kehidupan yang berbeda.
Ada bunga yang mekar pada pagi hari.
Ada yang baru membuka kelopaknya ketika senja.
Keduanya tidak pernah salah.
Begitu pula manusia.
Tidak semua orang harus tumbuh pada musim yang sama.
Maka hari ini, 3 September, jika hidup terasa berjalan terlalu lambat, tariklah napas.
Tidak apa-apa.
Kamu tidak terlambat.
Kamu hanya sedang berjalan dengan waktumu sendiri.
Dan selama kakimu masih melangkah, sekecil apa pun langkah itu, engkau masih sedang menuju sesuatu.
Berjalanlah perlahan.
Bukan karena engkau kalah.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, engkau mulai menikmati jalanmu sendiri.




