Kalau pun Tuhan itu ada, barangkali Ia tidak akan pernah hadir seperti yang digambarkan oleh agama-agama dan sistem keyakinan. Tuhan versi kitab, mimbar, dan dogma terlalu sempit untuk sesuatu yang diklaim maha luas. Terlalu verbal untuk sesuatu yang seharusnya melampaui bahasa. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Tuhan ada, melainkan bagaimana Ia hadir.
Mungkin Tuhan tidak hadir di luar sana—di langit ketujuh, di balik tirai ghaib, atau di singgasana metafisik—melainkan justru di dalam sini: dalam bayangan otak manusia itu sendiri. Dalam kesadaran. Dalam tafsir personal yang tak bisa diwariskan, tak bisa dipaksakan, dan tak bisa dipolitisasi.
“Lha kok bisa?”
Kenapa tidak?
Jika Tuhan memang Mahakuasa, apa sulitnya Ia hadir sesuai kapasitas penerima-Nya? Apa susahnya Tuhan menampakkan diri sesuai bahasa batin masing-masing manusia? Bukankah keterbatasan ada pada manusia, bukan pada Tuhan? Maka Tuhan yang menuntut disembah hanya melalui satu bentuk, satu tafsir, satu jalan—justru tampak sangat manusiawi. Terlalu manusiawi. Bahkan, maaf, terlalu bodoh untuk ukuran Tuhan.
Tuhan yang besar tak akan tersinggung oleh tafsir. Tuhan yang cerdas tak membutuhkan pembela bersenjata. Tuhan yang benar-benar Maha tidak akan cemburu pada perbedaan persepsi. Ia tidak sibuk menghitung ritual, tidak rewel terhadap simbol, dan tidak alergi terhadap pertanyaan. Sebab pertanyaan adalah bentuk tertinggi dari kesadaran.
Jika Tuhan ada, Ia mestinya memahami bahwa otak manusia bekerja dengan imajinasi, nalar, dan pengalaman. Maka Tuhan yang hadir dalam bayangan kesadaran manusia bukanlah pelecehan, melainkan konsekuensi logis dari penciptaan itu sendiri. Tuhan menciptakan otak—lalu marah ketika otak berpikir? Itu bukan Tuhan; itu diktator kosmik.
Agama-agama kerap menyajikan Tuhan yang mudah murka, mudah tersinggung, dan gemar menghukum. Tuhan yang seperti ini bukan hanya kecil, tapi juga kikuk. Ia butuh dipuji terus-menerus, dibela oleh manusia, bahkan “dibela” dengan darah. Tuhan yang semacam ini terlalu rapuh untuk disembah.
Maka menolak menyembah Tuhan yang bego bukanlah penghinaan terhadap ketuhanan, melainkan penghormatan terhadap akal sehat. Jika Tuhan ada dan benar-benar Maha Segalanya, Ia pasti cukup cerdas untuk memahami sikap itu—bahkan mungkin tersenyum.
Sebab Tuhan yang layak disembah bukanlah Tuhan yang takut pada pikiran manusia, melainkan Tuhan yang justru hidup di dalamnya. Hehehe.




