Barangkali yang kerap disalahpahami bukanlah Tuhan, melainkan agama itu sendiri. Sebab jika ditelisik lebih dalam, agama sebagai entitas tunggal nyaris tak pernah hadir dalam sejarah manusia. Yang ada justru tafsir—berlapis, beragam, dan saling menegasikan. Dalam Islam, misalnya, Islam yang dijalani Nabi Muhammad sebagai pengalaman eksistensial yang utuh, hampir mustahil kita temukan kembali secara murni. Yang tersisa adalah Islam versi mazhab: Syafi’i, Hanafi, Hambali, Maliki. Masing-masing mengklaim kedekatan paling sah dengan Nabi, seolah kebenaran ilahiah dapat diwariskan melalui garis metodologis yang beku.
Fenomena serupa menjalar ke seluruh keyakinan. Kristen terbelah dalam denominasi, Katolik berdiri dengan hierarki sakramennya, dan di dalamnya tumbuh sekian banyak sekte—“cult”—yang sama-sama mengklaim kebenaran wahyu. Maka agama bukan lagi jalan sunyi menuju makna, melainkan medan perebutan tafsir yang riuh dan sering kali berdarah.
Di Indonesia, Islam hadir dengan wajah-wajah lokal: Islam Kejawen, Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam PERSIS, Islam Al-Washliyah, dan seterusnya. Nama Tuhan satu, tetapi wajah-Nya berubah-ubah sesuai kepentingan sosial, politik, bahkan kultural. Tuhan menjadi cermin tempat manusia memantulkan kehendaknya sendiri.
Ironisnya, di tengah pertikaian tafsir itu, Tuhan tetap digambarkan sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Segalanya. Namun sejarah justru memperlihatkan paradoks yang getir: Tuhan tampak tak berpihak, bahkan ketika umat-Nya saling bunuh-membunuh atas nama-Nya. Perang Islam–Kristen telah lama tercatat. Konflik Hindu–Islam masih berlangsung di India. Genosida terhadap Muslim Rohingya terjadi di negeri yang mengklaim ajaran Buddha sebagai jalan welas asih. Konflik Islam–Yahudi tak pernah sepi korban. Bahkan Islam melawan Islam pun sesekali meletup, membuktikan bahwa musuh paling kejam sering lahir dari rahim keyakinan yang sama.
Maka patut dicurigai, barangkali pemicunya bukan Tuhan yang transenden, melainkan “tuhan-tuhan kecil”: ego kolektif, fanatisme mazhab, hasrat kuasa yang disakralkan. Tuhan yang seharusnya menjadi sumber kasih justru direduksi menjadi legitimasi kekerasan.
Wahabisme di Arab Saudi pernah mengusung mimpi besar: mengembalikan Islam pada kemurnian ajaran Nabi. Namun ironi sejarah kembali bekerja. Gerakan itu kini ditentang oleh banyak kaum Muslim sendiri, karena alih-alih menghadirkan rahman~rahim, ia justru melahirkan wajah Islam yang kaku, eksklusif, dan tak jarang brutal. Di titik ini, klaim “Tuhan Maha Kasih” terdengar seperti slogan kosong—bahkan bagi sebagian orang, terasa sebagai kebohongan yang dipelihara bersama.
Pengalaman personal sering kali mempertegas keraguan itu. Sejuta umat berdoa agar pertumpahan darah tak terjadi—namun darah tetap mengalir. Doa-doa melangit, realitas tetap membumi dengan luka. Di sebuah rumah sakit berbasis agama, doa dipanjatkan sebelum operasi kecil dilakukan. Namun pisau bedah tetap mengiris, dan tagihan tetap harus dibayar. Tuhan hadir dalam ritual, tetapi absen dalam kepastian hasil. Di hadapan fakta semacam itu, iman tampak tak lebih dari penghiburan simbolik.
Maka menjadi agnostik—tidak mempersoalkan ada atau tidaknya yang Maha Gaib—bagi sebagian orang bukanlah pemberontakan, melainkan keniscayaan intelektual. Ranah gaib bukan ranah akal sehat; ia wilayah angan-angan, harapan, dan ketakutan manusia sendiri. Akal berhenti di batas pengalaman, sementara iman melayang di ruang yang tak dapat diverifikasi.
Di titik inilah manusia dihadapkan pada pilihan sunyi: tetap beriman dengan segala paradoksnya, atau jujur pada akal dengan segala kekosongannya. Keduanya sama-sama berisiko. Namun mungkin, justru di antara iman yang retak dan akal yang ragu, manusia bisa kembali belajar satu hal paling sederhana—hidup tanpa membunuh atas nama apa pun, termasuk atas nama Tuhan.




