Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Tuturut Munding: Kecenderungan dalam Pemikiran dan Keimanan

munira by munira
November 1, 2024
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di antara keindahan alam Jawa Barat, terdapat ungkapan “tuturut munding” yang mengingatkan kita akan perilaku mengikuti arus, seperti seekor burung gagak. Ketika 999 orang mengklaim bahwa gagak itu hitam, bahkan si orang ke-1000 pun akan cenderung sepakat, meski di hadapannya ada gagak albino yang tak sesuai dengan keyakinan umum. Inilah kecenderungan kita untuk menerima sesuatu tanpa mempertanyakan kebenarannya, hanya karena mayoritas menyatakan demikian.

Pola pikir ini berimplikasi luas dalam kehidupan, termasuk dalam hal keimanan. Seiring dengan arus zaman, banyak di antara kita yang menjalani praktik agama sekadar “ikut-ikutan”, tanpa memahami makna mendalam di balik setiap amalan. Contohnya, saat bulan Ramadan tiba, banyak yang berpuasa bukan karena kesadaran dan keyakinan, tetapi hanya mengikuti apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks ini, perlu diingat sabda Rasulullah ﷺ: *”Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing seperti semula. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing (ghuraba’).“* Hadis ini mengajarkan kita bahwa keimanan sejati tidak selalu berada dalam keselarasan dengan norma masyarakat. Sebaliknya, keimanan yang kokoh lahir dari kesadaran dan ketulusan hati.

Seorang mukmin sejati, layaknya gagak albino, harus berani tampil berbeda meskipun terlihat asing. Keberanian untuk memegang teguh kebenaran, meskipun itu bertentangan dengan kebiasaan mayoritas, menunjukkan komitmen yang mendalam terhadap ajaran agama. Keimanan bukanlah soal penyesuaian dengan norma, melainkan keyakinan yang berakar pada kebenaran hakiki.

Di zaman yang penuh dengan penyesuaian sosial, penting bagi kita untuk tidak terjebak dalam pemikiran dangkal yang mengabaikan esensi iman. Mari kita renungkan dan jalani kehidupan dengan keimanan yang tulus dan berlandaskan pada pemahaman yang mendalam, meskipun hal itu membuat kita terkesan asing di mata masyarakat. Keberanian untuk berbeda, untuk tidak hanya menjadi bagian dari mayoritas, adalah cermin kedalaman iman dan kesetiaan kepada ajaran yang hakiki.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Konsep Burung Gagak dalam Keimanan: Beriman atau Sekadar Ikut-Ikutan?

Next Post

Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan Bukanlah Hanya Kenyamanan atau Ketenangan, Melainkan Makna

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post
Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan Bukanlah Hanya Kenyamanan atau Ketenangan, Melainkan Makna

Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan Bukanlah Hanya Kenyamanan atau Ketenangan, Melainkan Makna

Museum Putus Cinta di Zagreb: Pelajaran dari Patah Hati

Museum Putus Cinta di Zagreb: Pelajaran dari Patah Hati

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira