Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Opinion

Yudi Latif : “Kota Tanpa Jiwa: Antara Modernitas dan Kehilangan Identitas”

Nasihat Untuk Para Calon Gubernur/Bupati/Walikota

munira by munira
October 3, 2024
in Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Saudaraku, wajah Jakarta kini tampak berubah begitu cepat, seakan melepaskan bayang-bayang masa lalunya yang megah sebagai **”Ratu Dunia Timur”** (the Queen of the East) dalam imaji Belanda, menuju wujud yang lebih kelam—**”kota kengerian”** (the dreadful city), sebagaimana dilukiskan Rudyard Kipling. Kota ini tak lagi beresonansi dengan keanggunan yang pernah dimilikinya, melainkan berkembang dalam kekacauan, membiarkan ketidakpastian dan kerusakan moral merasuki setiap sudutnya.

Jakarta, dan mungkin kota-kota lain di Indonesia, tumbuh tanpa arah yang jelas, melawan arus teori pembangunan kota yang seharusnya berakar pada keteraturan dan rasionalitas. Dalam pandangan **Max Weber**, kota ideal adalah ruang yang direncanakan bagi mereka yang **berbudaya** dan **rasional**, tempat tatanan sosial dan intelektual bertemu, membentuk harmoni antara manusia dan lingkungan. Namun, di sini, harmoni tersebut terasa jauh.

Alih-alih menjadi kota **ortogenetik**—seperti Cordova di masa keemasan Islam, Kyoto di bawah naungan Buddha, Roma dengan nuansa Katoliknya yang sakral, atau Banaras yang dipenuhi spiritualitas Hindu—Jakarta dan kota-kota kita tumbuh dalam disonansi. Mereka tidak mengekspresikan keindahan moral yang luhur, tetapi sebaliknya, menjelma menjadi **”chaotic heterogenic cities”**—kota-kota yang penuh ambiguitas, disintegrasi, dan ketidakteraturan. Di dalamnya, nilai-nilai luhur tenggelam dalam lautan hiruk-pikuk tanpa arah, bagaikan **hollow cities**—kota-kota hampa sebagaimana dibayangkan Clifford Geertz, ruang-ruang tanpa jiwa, tanpa visi, tanpa makna.

Geertz sendiri, dalam **The Social History of an Indonesian Town** (1965), mengungkap akar persoalan ini. Menurutnya, kekacauan, kepadatan, dan disorientasi yang melanda sebagian besar kota di Indonesia bukanlah fenomena baru. Ini adalah akibat dari jurang besar antara sektor komersial yang dikuasai modal asing dan sektor subsisten yang dipegang erat oleh penduduk lokal. Hasilnya adalah segregasi yang begitu mencolok antara **ekonomi modern** yang bersifat kosmopolitan dan **tradisi lokal** yang terpinggirkan.

Urbanisasi yang terjadi di Indonesia bukanlah proses alami di mana desa perlahan berubah menjadi kota. Sebaliknya, ini adalah **intrusi** dari kekuatan asing yang mengadopsi watak kosmopolitan tanpa memperhitungkan akar budaya setempat. Proses ini menekan masyarakat lokal, memaksa mereka menerima struktur sosial dan ekonomi yang benar-benar asing, tanpa memberikan ruang bagi identitas mereka untuk berkembang secara organik.

Kota-kota Indonesia akhirnya tumbuh dalam ambiguitas, terombang-ambing di antara dua kutub. Di satu sisi, karakter kota tradisional dunia Timur perlahan memudar. Di sisi lain, rasionalitas dan modernitas kota-kota Barat belum sepenuhnya menjelma. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, apartemen mewah dibangun di sana-sini, tetapi di balik fasad megah ini, **mentalitas udik** tetap bertahan. Kota ini bak hutan beton tanpa jiwa, di mana pembangunan fisik tak disertai oleh pembangunan ideasional. Di bawah bayangan modernitas, kota-kota kita kehilangan jiwanya—menjadi ruang yang kering, tanpa keindahan, tanpa moral, tanpa semangat yang mempersatukan masyarakatnya.

Di tengah hutan beton ini, yang tersisa hanyalah kerinduan akan sebuah kota yang tak hanya tumbuh dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam jiwa, visi, dan karakter yang kuat.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengapa Tahajud Itu Malam Hari?

Next Post

Iblis yang Membanggakan Nasabnya: Sebuah Renungan tentang Kesombongan dan Pertanggungjawaban Amal

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Iman, Otoritas, dan Kebenaran

by munira
January 4, 2026
0

Beragama pada hakikatnya menuntut believe—iman. Tetapi apa sebenarnya iman itu? Dalam pengertian paling mendasar, iman adalah tindakan meyakini sesuatu yang...

Bunga di Tembok Tua: Sebuah Renungan tentang Kehidupan

Bisikan untuk Empat Jiwa yang Kuat

by munira
December 17, 2025
0

Ada masa ketika kata-kata kehilangan suaranya. Ia tak lagi ingin didengar manusia, hanya ingin diperdengarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa....

Peta Kebahagiaan: Dari Timur ke Barat, Dari Jiwa ke Jiwa

by munira
December 11, 2025
0

Setiap manusia di manapun ia dilahirkan, dari bangsa mana pun ia berasal, selalu membawa satu kerinduan yang sama: kerinduan untuk...

Next Post
Iblis yang Membanggakan Nasabnya: Sebuah Renungan tentang Kesombongan dan Pertanggungjawaban Amal

Iblis yang Membanggakan Nasabnya: Sebuah Renungan tentang Kesombongan dan Pertanggungjawaban Amal

Merawat Harapan: Memeluk Anak untuk Siapa – Bukan untuk Apa yang Kita Inginkan

Merawat Harapan: Memeluk Anak untuk Siapa - Bukan untuk Apa yang Kita Inginkan

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira