MENENGADAH KE BAPAK LANGIT
Ternyata terang itu hanya ada di sini.
Di Ibu Bumi.
Ada jasad.
Ada wujud.
Ada ruh-ruh melayang,
nampak apa adanya.
Ketika menengadah ke Bapak Langit,
menerawang dalam kesadaran.
Nur (terang) menjadi dzulumat (gelap),
diselubungi ketiadaan wujud.
Samar dari nafsu lahir,
aku menari seirama senyap,
dalam kegelapan yang terang.
Tak ada lagi jerit hingar-bingar,
hanya mata hati yang membaca.
Saat itu,
Sang Pemilik rautnya sumeringah.
Senyum,
karena tak diwujud-wujudkan.
Namun, ketika ia dibayangkan dalam angan,
diukir dalam bentuk jasad,
Sang Pemilik semakin jauh,
mengecil, lenyap tak bersisa.
Tak ada kekuatan kasih lagi.






