Malam itu, angin semilir berhembus lembut di halaman rumah Pak Harto. Di ruang tamu yang luas, dua sosok duduk dengan penuh hormat di hadapan sang pemimpin. Jenderal Ibnu Sutowo, Direktur Pertamina, dan Lim Swi Liong, seorang pengusaha yang sedang naik daun.
Pak Harto duduk dengan tenang, mengamati kedua tamunya dengan sorot mata tajam yang penuh perhitungan.
“Ibnu, kau ada perlu apa?” tanya Pak Harto, suaranya dalam dan penuh wibawa.
Ibnu Sutowo menegakkan punggungnya. “Saya perlu modal untuk membangun Pertamina, Pak,” jawabnya penuh keyakinan.
Pak Harto mengangguk, lalu menoleh kepada tamu yang satunya. “Kamu perlu apa, Lim?”
Lim Swi Liong tersenyum sopan. “Saya perlu surat kuasa untuk mengimpor terigu, Pak,” pintanya dengan nada hormat.
Pak Harto berpikir sejenak, lalu mengangguk lagi. Ia tahu betul, di tangannya ada kekuasaan untuk mengubah nasib siapa saja yang duduk di hadapannya. Tak lama, keputusan diambil. Ibnu Sutowo diberikan tambahan modal untuk Pertamina, sementara Lim Swi Liong mendapatkan surat izin impor terigu.
Setahun berlalu, dan kedua pria itu kembali menghadap Pak Harto.
Ibnu Sutowo datang lebih dulu. Wajahnya sedikit tegang, seakan mengandung beban berat yang ingin disampaikan.
“Bagaimana kabarnya Pertamina, Ibnu?” tanya Pak Harto.
“Lha iya itu, Pak, lapor. Pertamina masih perlu tambahan modal,” kata Ibnu Sutowo tanpa ragu.
Pak Harto menghela napas panjang. Ia memahami tantangan membangun perusahaan negara, dan tanpa banyak tanya, ia berjanji akan memberikan tambahan modal.
Tak lama berselang, Lim Swi Liong masuk ke ruang tamu dengan senyum lebar. Tanpa ditanya, ia langsung membuka koper kecil yang dibawanya.
“Puji Tuhan, Pak. Bisnisnya lancar. Ini saya ingin berbagi keuntungan dengan Bapak,” katanya sambil meletakkan tumpukan uang di meja.
Pak Harto hanya tersenyum tipis. Ia tahu benar siapa yang memahami makna bisnis dan siapa yang hanya bisa meminta.
Tahun ketiga, kembali kedua pria itu datang. Kali ini, Lim Swi Liong yang lebih dulu menghadap. Dengan penuh semangat, ia menyerahkan setumpuk uang yang lebih besar dari tahun sebelumnya.
“Pak Harto, usaha terigu berkembang pesat. Saya ingin berbagi lagi,” katanya dengan penuh rasa hormat.
Pak Harto tersenyum puas. Ia menepuk bahu Lim Swi Liong dan mengangguk.
Namun, ketika giliran Ibnu Sutowo tiba, suasana berbeda. Sebelum Ibnu sempat melangkah masuk, Pak Harto bertanya kepada pembantunya yang berdiri di sudut ruangan.
“Itu siapa yang duduk di ruang tamu?”
“Pak Ibnu Sutowo, Pak,” jawab pembantu itu.
Pak Harto menghela napas, lalu berkata dengan nada datar, “Suruh dia pulang. Bilang saya tidak ada di rumah.”
Sang pembantu ragu sejenak, namun segera bergegas menyampaikan pesan itu. Dari dalam, Pak Harto hanya bisa menggeleng pelan. Ia sudah bisa menebak, Ibnu pasti akan datang lagi untuk meminta tambahan modal. Tapi sampai kapan negara harus terus memberi tanpa hasil yang jelas?
Sementara itu, di luar rumah, Ibnu Sutowo hanya bisa menghela napas panjang sebelum beranjak pergi. Malam terasa lebih dingin baginya, berbeda dengan saat pertama kali ia melangkah masuk ke rumah Pak Harto bertahun-tahun lalu.






