Seandainya Tuhan itu satu,
mungkin tak ada seribu warna dalam doa,
tak ada bait-bait suci yang beragam,
tak ada perbedaan yang membuat kita bertanya,
mengapa cinta-Nya dipahami dengan cara yang berbeda.
Seandainya Tuhan itu satu dalam satu nama,
mungkin tak ada nyanyian dari gereja,
tak ada suara azan yang menggetarkan dada,
tak ada dupa yang mengepul di sudut kuil,
tak ada mantra yang menyatu dengan angin.
Seandainya Tuhan itu satu dalam satu jalan,
mungkin tak ada persimpangan yang mengajarkan toleransi,
tak ada pelajaran tentang menerima,
tak ada ruang untuk bertanya,
dan tak ada kesempatan untuk memahami.
Tapi Tuhan itu banyak dalam nama,
satu dalam cinta,
banyak dalam panggilan,
satu dalam rahmat.
Perbedaan adalah lukisan-Nya,
warna-warni keyakinan adalah kanvas-Nya,
dan kita—
kita hanyalah goresan kuas yang mencoba mengerti.
Mungkin dunia tak seindah ini,
jika segalanya harus seragam.
Karena dalam perbedaan, kita menemukan harmoni,
dalam keberagaman, kita merasakan kebesaran-Nya.






