Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Kesetianku Mencintaimu Sampai Akhir

munira by munira
March 8, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Sudah tujuh belas tahun sejak Januari 2007, aku berdiri dengan payung hitam menghadap ke Istana. Setiap Kamis sore, aku hadir untuk menyampaikan pesan agar kejahatan HAM masa lalu, termasuk peristiwa Mei 1998, diselesaikan.

Kenangan tentangmu, kekasihku yang mati tertembak dalam peristiwa Trisakti 1998, membuatku bertekad untuk tetap berada di depan Istana. Kisah cinta kita yang abadi membuatku mengambil keputusan untuk tidak menikah seumur hidup, membingkai seluruh kenangan cinta kita dalam perjuanganku sebagai aktivis. Aku mendirikan yayasan yang bergerak di bidang pembelaan hukum, membela hak-hak rakyat yang mengalami diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan.

Masih kuingat perdebatan kita satu hari sebelum kematianmu—perdebatan panjang antara harapan, kecemasan, dan kekhawatiran akan keselamatanmu. Sebagai aktivis kampus dan jajaran BEM pada Januari-Mei 1998, tekanan serta ancaman penembakan dan penjemputan paksa menghantui. Aku mengkhawatirkanmu. Aku mengingatkan bahwa kita akan menikah tiga bulan lagi setelah wisudamu bulan depan. Masa pacaran kita yang panjang, sejak SMA hingga hampir delapan tahun, membuatku sangat berharap bisa melihat pernikahan kita terwujud dan anak-anak kita tumbuh besar bersama.

Ketika aku membicarakan kekhawatiranku dan memintamu mengurangi aktivitas berdemo serta pengorganisasian massa karena meningkatnya intimidasi terhadap aktivis, jawabanmu mengejutkanku hingga aku menangis.

“Novi, sejak kapan kamu berubah menjadi manusia oportunis dan munafik yang hanya mementingkan dirimu dan masa depanmu sendiri?” tanyamu dengan nada tinggi.

“Kamu mengkhawatirkan masa depan kita, tetapi mengabaikan anak-anak dan perempuan lain yang kehilangan ayah mereka tanpa tahu keberadaannya, tanpa menemukan jasadnya—seperti Wiji Thukul. Egois sekali caramu berpikir,” lanjutmu dengan ketus.

Aku terdiam. Lalu kau mengutip pidatomu dalam demonstrasi:

“Tidak ada kemerdekaan jika penjajahan dalam bentuk feodalisme dan fasisme masih menjadi wajah rezim hari ini. Fasisme adalah ideologi absolut yang memposisikan perintah pemimpin laksana titah raja. Ia tumbuh subur dalam kultur feodalistik, disemai dalam budaya hamba yang membungkuk kepada majikan secara berlebihan. Feodalisme menjauhkan rakyat dari cita-cita kesetaraan dan keadilan, sekaligus meminggirkan hak mereka untuk mengaktualisasi dirinya. Feodalisme bahkan mengundang masuk fasisme, membuka jalan bagi kebencian antar-etnis dan agama.” (Sjahrir, 1994: 11-12)

Aku ingin menolak kata-katamu, tetapi aku tahu itu benar. Lalu kau melanjutkan:

“Sudahkah kau memahami apa yang aku pidatokan hari ini, Novi? Apa yang diperjuangkan mahasiswa, buruh, dan masyarakat akar rumput adalah keadilan dan kesetaraan. Karena itulah cara kita memanusiakan manusia. Apa gunanya perayaan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus jika esensinya—mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan mencerdaskan rakyat, terutama pemuda—tidak terwujud?”

Itulah percakapan dan perdebatan terakhir kita.

Keesokan harinya, pukul lima sore, aku dan ibumu berdiri di kamar mayat rumah sakit. Kau anak tunggal. Ayahmu telah tiada sejak kau kecil. Kami hanya bisa menangis pilu di hadapan jasadmu.

Hari-hari setelahnya adalah hari-hari yang penuh luka, kenangan, dan kebanggaan. Luka karena kehilanganmu. Kenangan akan cinta kita. Kebanggaan karena kau adalah simbol perjuangan rakyat.

Keputusanku untuk tidak menikah adalah wujud kesetiaanku padamu dan bentuk penghormatan terhadap perjuanganmu. Selama tujuh tahun, aku dan ibumu berdiri setiap Kamis sore di depan Istana, menyerukan penyelesaian kasus pelanggaran HAM 1998. Sepuluh tahun terakhir, aku berdiri sendirian karena ibumu telah menyusulmu.

Aku mengabdikan hidupku untuk perjuangan mencerdaskan rakyat melalui pembelaan hukum. Aku menolak setiap jabatan yang ditawarkan untuk membungkam suaraku yang kritis. Di meja kerjaku dan di depan kantor yayasan hukum yang kudirikan, terpajang fotomu. Itu menjadi pengingat bahwa perjuanganmu tetap abadi.

Rasa cintaku kepadamu terwujud dalam kerja nyata—membela rakyat miskin, mereka yang mengalami diskriminasi, intimidasi, dan ketidakadilan. Aku menjalani hari-hariku dengan wajah yang menua dan rambut yang memutih, mengenang semua yang telah kita lalui. Aku mengarsipkan pidato-pidatomu dan fotomu dalam buku. Setiap kali aku merindukanmu, aku membuka album itu, mengingatmu sebagai aktivis pergerakan kampus sekaligus cinta abadiku.

Selesai

Hikmah: Kesetiaan pada perjuangan dan cinta adalah bukti dari komitmen sejati.


Cerita ini tidak mewakili siapa pun.

Cerpen Kesetianku Mencintaimu Sampai Akhir merupakan karya Novita Sari Yahya yang menjadi karya terpilih dalam Lomba Nasional yang diselenggarakan oleh Mahirnulis dan dipublikasikan dalam buku Ketika Cinta Menyapa. Karya ini juga mendapatkan sertifikat penulis terpilih dari berbagai Lomba Nasional dan diterbitkan dalam buku antologi cerpen berjudul Romansa Cinta.

Tentang Penulis: Novita Sari Yahya adalah ibu dari dua putra dan satu putri. Sehari-hari, ia beraktivitas sebagai penulis, peneliti, model platform digital internasional, serta National Director Indonesia.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Luka yang Berkisah – Luka adalah Tempat Cahaya Masuk ke Dalam Dirimu.

Next Post

Kesetiaan Lelakimu

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post

Kesetiaan Lelakimu

Dalam Sepasang Simbol Kasih: Melati dan Mawar

Kecantikan dan Keanggunanmu Laksana Mawar Merah.

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira