Di sebuah desa kecil di tepi bukit, hiduplah seorang anak yang suka bertanya. Namanya Langit. Ia bukan pemberontak, hanya seorang pencari arti. Suatu hari, ia bertanya pada gurunya, “Guru, berapa hasil dari satu ditambah satu?”
Gurunya tersenyum dan menjawab, “Dua, tentu saja.”
Langit mengangguk. Tapi ketika ia pulang ke rumah, ibunya berkata, “Nak, kalau kau memberi satu roti pada saudaramu, lalu saudaramu membalas dengan satu pelukan, bukankah itu lebih dari dua?”
Langit tercenung.
Malamnya, ia bermimpi bertemu malaikat. Malaikat itu berkata, “Langit, 1 + 1 bisa jadi 5, atau 7, jika engkau percaya.”
Langit tersenyum dalam mimpi itu. Tapi saat ia terbangun, ia merasa kosong.
Paginya, ia kembali ke sang guru. “Guru,” katanya, “malaikat berkata bahwa 1 + 1 bisa jadi 5. Ibuku berkata bisa jadi cinta. Apa yang benar?”
Sang guru tidak segera menjawab. Ia menggambar dua titik di tanah. “Ini satu. Ini satu lagi. Jika kita gabungkan, kita punya dua. Tidak lebih. Tidak kurang. Dunia bisa bicara seribu kemungkinan, tapi bagi mereka yang mengerti, angka bukan ilusi.”
Langit perlahan mulai paham. Percaya adalah membiarkan dunia menjadi seperti yang kita harapkan. Tapi mengerti adalah menerima dunia sebagaimana adanya.
Dari situ ia sadar, mereka yang beriman bisa percaya Tuhan ada, meski tak mampu menjelaskannya. Tapi bagi yang mengerti, keberadaan Tuhan bukan perkara percaya atau tidak—ia harus bisa diterima oleh akal yang sadar. Harus logis, harus nyata dalam pikiran, bukan hanya dalam rasa.
Langit tumbuh menjadi lelaki dewasa, dan ketika ditanya, “Apakah Tuhan itu ada?”
Ia menjawab, “Tanyakan pada hatimu jika ingin percaya. Tapi tanyakan pada akalmu jika ingin mengerti. Keduanya sah, tapi tidak sama. Yang satu membawa harapan, yang satu membawa kepastian. Dan aku memilih yang kedua, karena bagiku… harga dari mengerti adalah kepastian yang tak tergoyahkan.”
Dan begitulah, Langit hidup. Tidak melawan mereka yang percaya bahwa 1 + 1 bisa menjadi apa saja. Tapi ia berdiri di atas tanah yang kokoh, mengatakan dengan tenang:
“Tapi bagiku, 1 + 1… tetaplah 2.”





