Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Percaya Boleh, Tapi Mengerti Itu Berbeda

munira by munira
April 10, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di sebuah desa kecil di tepi bukit, hiduplah seorang anak yang suka bertanya. Namanya Langit. Ia bukan pemberontak, hanya seorang pencari arti. Suatu hari, ia bertanya pada gurunya, “Guru, berapa hasil dari satu ditambah satu?”

Gurunya tersenyum dan menjawab, “Dua, tentu saja.”

Langit mengangguk. Tapi ketika ia pulang ke rumah, ibunya berkata, “Nak, kalau kau memberi satu roti pada saudaramu, lalu saudaramu membalas dengan satu pelukan, bukankah itu lebih dari dua?”

Langit tercenung.

Malamnya, ia bermimpi bertemu malaikat. Malaikat itu berkata, “Langit, 1 + 1 bisa jadi 5, atau 7, jika engkau percaya.”

Langit tersenyum dalam mimpi itu. Tapi saat ia terbangun, ia merasa kosong.

Paginya, ia kembali ke sang guru. “Guru,” katanya, “malaikat berkata bahwa 1 + 1 bisa jadi 5. Ibuku berkata bisa jadi cinta. Apa yang benar?”

Sang guru tidak segera menjawab. Ia menggambar dua titik di tanah. “Ini satu. Ini satu lagi. Jika kita gabungkan, kita punya dua. Tidak lebih. Tidak kurang. Dunia bisa bicara seribu kemungkinan, tapi bagi mereka yang mengerti, angka bukan ilusi.”

Langit perlahan mulai paham. Percaya adalah membiarkan dunia menjadi seperti yang kita harapkan. Tapi mengerti adalah menerima dunia sebagaimana adanya.

Dari situ ia sadar, mereka yang beriman bisa percaya Tuhan ada, meski tak mampu menjelaskannya. Tapi bagi yang mengerti, keberadaan Tuhan bukan perkara percaya atau tidak—ia harus bisa diterima oleh akal yang sadar. Harus logis, harus nyata dalam pikiran, bukan hanya dalam rasa.

Langit tumbuh menjadi lelaki dewasa, dan ketika ditanya, “Apakah Tuhan itu ada?”

Ia menjawab, “Tanyakan pada hatimu jika ingin percaya. Tapi tanyakan pada akalmu jika ingin mengerti. Keduanya sah, tapi tidak sama. Yang satu membawa harapan, yang satu membawa kepastian. Dan aku memilih yang kedua, karena bagiku… harga dari mengerti adalah kepastian yang tak tergoyahkan.”

Dan begitulah, Langit hidup. Tidak melawan mereka yang percaya bahwa 1 + 1 bisa menjadi apa saja. Tapi ia berdiri di atas tanah yang kokoh, mengatakan dengan tenang:

“Tapi bagiku, 1 + 1… tetaplah 2.”

 

ADVERTISEMENT
Previous Post

Di Antara Percaya dan Mengerti: Ketika 1+1 Tak Selalu Sama dengan 2

Next Post

Sesungguhnya, Anda Tidak Mengirim Anak Anda ke Sekolah untuk Belajar

munira

munira

Related Posts

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

by munira
September 14, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an menggunakan bahasa ketika berbicara tentang perjalanan manusia. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan...

Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?

by munira
September 13, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan dengan serius: kalau doa memang bisa menjadi jalan utama...

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

by munira
September 12, 2026
0

By Ali Syarief Ada paradoks tua dalam kehidupan manusia: Semakin tinggi seseorang diminta meninggalkan dunia, semakin besar pula pertanyaan tentang...

Tidak Semua Orang Harus Berjalan Cepat

Tidak Semua Orang Harus Berjalan Cepat

by munira
September 3, 2026
0

Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan hidup, bukan untuk menyerah, melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, mengapa...

Next Post
Sesungguhnya, Anda Tidak Mengirim Anak Anda ke Sekolah untuk Belajar

Sesungguhnya, Anda Tidak Mengirim Anak Anda ke Sekolah untuk Belajar

Teruslah Hidup – Mau Bagaimana Lagi, Sudah Hidup?

Teruslah Hidup – Mau Bagaimana Lagi, Sudah Hidup?

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”
  • Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira