Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Di Antara Percaya dan Mengerti: Ketika 1+1 Tak Selalu Sama dengan 2

munira by munira
April 10, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam dunia yang terus mencari makna, angka bisa menjadi bahasa universal. Namun, bahkan angka pun tidak selalu mutlak bagi setiap pikiran. Ada orang yang percaya bahwa 1 + 1 bisa sama dengan 3, 4, 5, bahkan 7. Ia percaya, dan karena itu, tidak bisa dikatakan salah. Karena dalam ruang keyakinan, logika bukanlah satu-satunya landasan. Tetapi bagi orang yang mengerti bahwa 1 + 1 = 2, maka seluruh semesta bisa mengusulkan angka lain, bahkan Malaikat sekalipun berkata “hasilnya lima”, tetap tidak akan diterima. Karena “mengerti” menuntut kepastian, bukan kepercayaan.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara iman dan pengertian. Iman menerima tanpa perlu bukti yang masuk akal. Ia percaya, karena memang ingin percaya. Maka orang yang beriman akan berkata, “Tuhan itu ada,” seperti seseorang yang percaya bahwa 1+1 bisa lebih dari dua jika semesta memperkenankannya. Tetapi bagi orang yang “mengerti”, keberadaan Tuhan bukan hanya urusan percaya atau tidak percaya. Ia harus masuk akal, harus rasional, dan harus berdiri di atas bukti atau setidaknya argumentasi yang dapat diuji dalam kesadaran manusia.

Karena itu, dalam logika orang yang mengerti, “ada Tuhan” atau “tidak ada Tuhan” bukan soal posisi iman. Keduanya netral. Sama-sama bisa dibahas. Sama-sama bisa dipertanyakan. Sama-sama bisa ditolak jika tidak logis. Di titik inilah iman dan akal berpisah jalan: Iman menerima meski tidak tahu, sedangkan akal menolak jika tidak tahu.

Kepercayaan memberi keleluasaan, sementara pengertian memberi batas. Dalam percaya, segala kemungkinan bisa menjadi kenyataan. Tetapi dalam mengerti, segala kenyataan harus dibatasi oleh kemungkinan yang masuk akal. Di sinilah harga dari “mengerti” menjadi mahal. Karena sekali kita mengerti bahwa 1+1 pasti 2, kita tidak bisa dibujuk oleh argumentasi apapun bahwa hasilnya adalah lima, bahkan jika yang menyampaikannya adalah makhluk surgawi.

Jadi, iman adalah ruang bebas di mana kenyataan bisa dibengkokkan oleh harapan. Sedangkan pengertian adalah garis lurus yang mengikat pikiran pada konsistensi. Maka bagi orang yang beriman atau tidak beriman, keberadaan Tuhan mungkin sama: tergantung pada apa yang dipercayai. Tapi bagi orang yang mengerti, keberadaan Tuhan harus lolos uji akal sehat. Tidak cukup hanya dipercayai—ia harus dimengerti.

Dan dalam dunia yang penuh dengan suara-suara klaim kebenaran, mungkin hanya satu yang bisa kita pegang erat: bahwa harga dari mengerti adalah kepastian. Dan kepastian itu tidak bisa dibeli dengan sekadar percaya.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ie wa Kokoro no Furusato dan Baiti Jannati: Rumah dalam Dua Bahasa Cinta

Next Post

Percaya Boleh, Tapi Mengerti Itu Berbeda

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post

Percaya Boleh, Tapi Mengerti Itu Berbeda

Sesungguhnya, Anda Tidak Mengirim Anak Anda ke Sekolah untuk Belajar

Sesungguhnya, Anda Tidak Mengirim Anak Anda ke Sekolah untuk Belajar

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira