Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Ie wa Kokoro no Furusato dan Baiti Jannati: Rumah dalam Dua Bahasa Cinta

munira by munira
April 10, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Di sebuah sudut Kyoto yang sunyi, seorang nenek tua duduk bersila di atas tatami, menatap taman kecil yang tertata rapi di luar rumahnya. Daun-daun maple merah berguguran perlahan, menari di udara musim gugur yang dingin. Sambil menyeruput teh hijau, ia berbisik, “Ie wa kokoro no furusato.” Rumah, katanya, adalah kampung halaman bagi hati.

Sementara itu, di pagi yang berbeda di Yogyakarta, seorang ibu selesai menyapu halaman kecil rumahnya dan membangunkan anak-anak untuk salat Subuh. Bau wangi kayu manis dan kopi merebak dari dapur. Di ruang tengah, terpasang kaligrafi sederhana bertuliskan: “Baiti Jannati.” Rumahku, surgaku.

Dua kebudayaan, dua bahasa, dua ruang hidup. Namun keduanya menyampaikan hal yang sama: bahwa rumah lebih dari sekadar bangunan. Ia adalah ruang spiritual. Tempat jiwa pulang dan raga beristirahat. Tempat manusia kembali menjadi dirinya sendiri.

Jepang dan Keheningan yang Merawat

Dalam budaya Jepang, rumah bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ekspresi keintiman dengan alam. Pintu geser yang nyaris tak bersuara, taman dalam rumah, hingga pencahayaan alami—semuanya dirancang untuk menenangkan batin.

“Kami diajarkan bahwa rumah harus bisa bernapas bersama alam. Rumah yang terlalu bising akan membuat hati sulit tenang,” ujar Prof. Hiroshi Ishii, peneliti budaya Jepang dari Kyoto University.

Konsep ie wa kokoro no furusato hidup dalam kesederhanaan. Bahkan arsitektur rumah-rumah Jepang tua selalu menyisakan ruang kontemplatif. Rumah adalah tempat jiwa berteduh dari dunia yang gaduh.

Islam dan Kehangatan yang Menghidupkan

Sementara itu, dalam tradisi Islam, rumah adalah pusat rahmat, ketenangan, dan keberkahan. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Rumahku adalah surgaku.” Ungkapan ini bukan metafora kosong. Dalam Islam, rumah adalah miniatur surga—tempat yang dibangun atas dasar cinta, dihuni oleh zikir, dan dipenuhi keberkahan.

Dr. Haidar Bagir, cendekiawan Muslim Indonesia, pernah menulis, “Konsep baiti jannati dalam Islam bukan sekadar spiritual, tapi juga sosial. Rumah adalah ruang kasih, tempat mendidik, melindungi, dan menyebar cinta ke luar.”

Karena itu, dalam banyak ajaran Islam, memperindah rumah tidak selalu berarti mempermegahnya. Melainkan menjadikannya ruang aman yang menyambut, menyayangi, dan menumbuhkan.

Satu Tujuan, Dua Jalan

Menariknya, kedua budaya ini menempatkan rumah bukan hanya sebagai lokasi, melainkan suasana. Bagi Jepang, rumah adalah tempat keheningan melahirkan kesadaran diri. Bagi Islam, rumah adalah tempat cinta melahirkan kehangatan hidup.

Keduanya bukan bertentangan. Justru saling melengkapi.

Dalam dunia modern yang penuh tuntutan dan kecepatan, banyak orang merasa asing bahkan di rumahnya sendiri. Kita kerap lupa bahwa rumah bukan hanya tempat pulang, tapi tempat kita dipulangkan kepada diri kita yang utuh. Kepada memori, rasa syukur, dan kasih yang bersahaja.

Seperti kata orang Jepang, “ie wa kokoro no furusato”, dan kata Muslim, “baiti jannati”, rumah sejati bukan dibangun dengan tangan, melainkan dengan hati. Ia tak harus luas, tapi harus lapang. Ia tak harus mewah, tapi harus membuat jiwa merasa cukup.

Dan mungkin, dalam rumah yang seperti itu, kita semua bisa sedikit mencicipi rasa surga—di bumi ini.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sungguh, Tuhan Tidak Memiliki Penilaian

Next Post

Di Antara Percaya dan Mengerti: Ketika 1+1 Tak Selalu Sama dengan 2

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post

Di Antara Percaya dan Mengerti: Ketika 1+1 Tak Selalu Sama dengan 2

Percaya Boleh, Tapi Mengerti Itu Berbeda

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira