Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Sungguh, Tuhan Tidak Memiliki Penilaian

munira by munira
April 8, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tuhan, dalam kebesaran dan keheningan-Nya, adalah sumber dari segala yang ada. Dia melingkupi alam semesta dengan kasih yang tak berpihak, dengan cinta yang tak memilah. Sungguh, jika kita mengamati dunia dengan mata hati, kita akan memahami bahwa Tuhan tidak menilai—karena kasih-Nya melampaui logika hitam-putih yang kerap kita gunakan untuk menghakimi.

“Seperti hujan diturunkan untuk setiap orang—yang baik dan yang jahat, pun matahari bersinar untuk yang beriman dan yang kafir. God has no judgment.”

Inilah rahasia Ilahi yang jarang kita sadari. Hujan tidak bertanya kepada tanah apakah ia subur atau gersang. Matahari tidak menyaring sinarnya kepada siapa ia menyinari. Alam raya tunduk kepada kehendak kasih yang netral, yang tidak memihak, yang tidak menghukum. Bukankah ini gambaran bagaimana Tuhan memperlakukan kita semua—dengan keadilan yang tidak berasal dari kalkulasi pahala dan dosa semata, tetapi dari rahmat-Nya yang luas, tak terjangkau nalar?

Tuhan melihat hati yang luka, bukan hanya tangan yang bersalah. Dia mendengar bisikan niat sebelum kita sempat bertindak. Dia memahami keraguan kita, kebimbangan kita, bahkan kesesatan kita—bukan untuk menjatuhkan vonis, tetapi untuk menyentuh nurani yang terlupa.

Manusia menilai karena keterbatasannya. Kita ingin tahu siapa yang pantas dan siapa yang tidak. Siapa yang benar, siapa yang salah. Tapi Tuhan, yang Mahatahu, tidak butuh itu semua. Dalam ilmu-Nya yang tak terbatas, tidak ada kesalahan yang layak dihina, dan tidak ada kebenaran yang patut disombongkan. Yang ada hanyalah perjalanan. Proses. Tumbuh.

Penilaian adalah kebutuhan manusia, bukan sifat Tuhan. Tuhan tidak memiliki agenda untuk membandingkan atau menghukum dengan ego. Sebaliknya, Ia membelai lembut jiwa-jiwa yang rapuh, memberi waktu, memberi ruang, memberi harapan—meski kita sering lupa arah pulang.

Dalam sunyi yang menggetarkan, Tuhan mengajarkan bahwa kasih sejati adalah ketika kita mampu mencintai tanpa syarat. Menerima tanpa menghakimi. Menyembuhkan tanpa bertanya siapa yang layak. Maka, ketika kita berhenti menilai sesama, di sanalah kita mulai menyerupai cahaya-Nya.

Hujan tetap turun di atap rumah si pendosa. Matahari tetap bersinar di ladang si pembangkang. Nafas tetap mengalir dalam tubuh yang tak pernah berdoa. Semua itu adalah tanda—bahwa kasih Tuhan tak mengenal syarat.

Sungguh, Tuhan tidak memiliki penilaian. Bukan karena Ia tak mampu menilai, tetapi karena Ia terlalu mencintai. Di hadapan cinta yang agung itu, siapa kita hingga merasa pantas menghakimi?

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Iri Kepada Nabi

Next Post

Ie wa Kokoro no Furusato dan Baiti Jannati: Rumah dalam Dua Bahasa Cinta

munira

munira

Related Posts

Rumah yang Tidak Mengenal Bentakan

by munira
July 25, 2026
0

Ada warisan yang tak pernah tercatat dalam akta kelahiran. Ia tidak disimpan di lemari besi, tidak pula diwariskan melalui harta...

Celup Celana Corduroy

by munira
July 24, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Celana corduroy adalah celana favorit saya. Bahannya lembut, hangat, dan semakin lama dipakai justru semakin nyaman. Celana...

Pohon yang Tak Pernah Menyerah

by munira
July 21, 2026
0

Ada masa ketika hidup terasa seperti musim gugur. Satu demi satu yang kita cintai terlepas dari genggaman. Kesempatan menghilang, harapan...

Dunia Bukan Ruang Tunggu, Melainkan Tempat Membangun Peradaban

by munira
July 19, 2026
0

Oleh: Nazaruddin Ada cara pandang yang diam-diam membuat manusia kehilangan makna hidup. Dunia dipersepsikan sekadar ruang transit, terminal keberangkatan, atau...

Next Post
Ie wa Kokoro no Furusato dan Baiti Jannati: Rumah dalam Dua Bahasa Cinta

Ie wa Kokoro no Furusato dan Baiti Jannati: Rumah dalam Dua Bahasa Cinta

Di Antara Percaya dan Mengerti: Ketika 1+1 Tak Selalu Sama dengan 2

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Rumah yang Tidak Mengenal Bentakan
  • Celup Celana Corduroy
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira