Seorang miliarder wafat pada usia lima puluh enam.
Kanker pankreas. Sunyi. Tak ada lagi rapat direksi, tak ada lagi daftar Forbes.
Yang tersisa: ranjang. Napas. Dan kalimat terakhir.
“Kekayaan hanyalah sesuatu yang terbiasa aku miliki.
Kini, terbaring begini, aku sadar: semua pengakuan dan kekayaan
tak berarti apa-apa di hadapan maut.”
Saya membacanya sekali.
Lalu diam.
Lalu membaca lagi.
Dan merasakan sesuatu yang tak tertulis: semacam getir yang lirih,
seolah dunia yang keras mendadak mengecil jadi hanya satu tarikan napas yang tersisa.
Kita hidup dalam sebuah ilusi tentang ‘lebih’.
Lebih cepat. Lebih kaya. Lebih dikenal.
Kita lupa, jam tangan tiga ribu dolar dan tiga puluh dolar sama-sama menunjuk pukul tiga sore.
Mobil lima miliar dan motor tua yang berisik,
keduanya menempuh jalan yang sama berlubang.
Rumah mewah, rumah kontrakan—pada akhirnya, kita semua tidur di satu ranjang.
Dan jika Tuhan sedang diam, mungkin juga sendirian.
Apa yang tersisa?
Seketul nasi hangat di piring plastik,
suara tawa seorang sahabat di tengah malam,
tangan kecil anakmu yang memegang ujung bajumu,
pelukan dari seseorang yang tak bertanya apa-apa, hanya hadir.
Saya kira hidup memang bukan soal apa yang kita punya,
tetapi siapa yang masih menggenggam kita saat semua hal lepas.
Hidup bukan daftar pencapaian,
melainkan daftar kehilangan yang kita peluk dengan ikhlas.
Miliarder itu memberi kita warisan paling mahal:
kesadaran bahwa hidup bukan tentang menumpuk,
tapi tentang pulang.
Pulang ke diri sendiri. Pulang ke yang sunyi, yang sejati.
Maka saya bertanya, pelan-pelan, seperti seorang penyair pada dirinya sendiri:
Apa yang sebenarnya mengisi hariku?
Dengan apa aku mengukur hidupku?
Apakah aku sedang berlari dari sepi,
atau justru menyusuri jalan pulang yang sunyi—dan menemukan damai?
Bukan, ini bukan soal bersalah.
Ini soal menemukan kembali yang penting.
Karena kadang, untuk benar-benar hidup,
kita harus belajar kehilangan.





