Saya ini bukan orang suci, tapi saya yakin seratus persen — bukan hanya yakin, haqul yaqin — saya pasti masuk syurga. Titik. Wong saya ini ciptaan Tuhan, lho. Yang menciptakan Maha Kuasa, Maha Hebat, Maha Sempurna. Masa produk-Nya afkir, rusak pabrik, atau ditolak retur di akhirat?
Coba pikir logis saja. Kalau Tuhan memang sempurna, masa bikin makhluk yang akhirnya dibuang ke neraka? Itu kayak pabrik bikin mobil tapi separuh produknya dilempar ke jurang karena “gagal uji.” Lah, ini Tuhan atau tukang besi?
Lagipula, apa susahnya bagi Tuhan bikin semua manusia seperti nabi? Kan gampang banget. Mau sabar? Bisa diinstal. Mau jujur? Tinggal update firmware. Mau ikhlas? Diatur di menu setting. Tapi kenyataannya, kita diciptakan campur-campur: ada yang saleh, ada yang maling sandal di masjid.
Lalu dibilang, yang banyak ke neraka. Lah, kalau begitu, neraka dong yang jadi proyek unggulan? Surga sepi, isinya nabi-nabi dan segelintir orang yang lulus seleksi ketat. Ini kok Tuhan kayak bikin klub eksklusif — anggota terbatas, seleksi ketat, dan tiket masuknya mahal.
Tapi saya tetap tenang. Karena saya tahu, Tuhan bukan birokrasi. Dia bukan lembaga yang senang menolak proposal dosa. Kalau saya salah, ya itu wajar, namanya juga makhluk. Tapi Tuhan kan Maha Pemaaf. Kalau Maha Pemaaf tapi masih marah terus, itu bukan Tuhan — itu mantan.
Saya percaya, yang penting hati saya masih hangat untuk kebaikan. Kadang melawan, iya. Kadang ngedumel sama langit, iya juga. Tapi bukankah melawan juga ciptaan-Nya? Kalau Tuhan nggak suka orang melawan, mestinya dari awal kita diciptakan tanpa otak, cuma pakai remote malaikat.
Jadi kalau nanti ada yang nyeletuk, “Kok pede amat masuk syurga?” Saya jawab saja, “Lho, saya ini karya Tuhan, Bos! Dan karya Tuhan itu sempurna, nggak mungkin nyasar ke neraka!”
Kalaupun nanti saya salah, paling Tuhan cuma senyum dan bilang, “Heh, dasar manusia! Tapi aku suka gayamu yang yakin.”
Dan itulah alasannya saya yakin masuk syurga. Karena mungkin Tuhan lebih suka orang yang yakin tapi lugu, daripada yang pura-pura suci tapi hatinya penuh rencana korupsi.






