Ketika tangan belum mampu memberi manfaat, setidaknya jangan menjadi tangan yang melukai. Ketika lisan belum mampu menyejukkan, jangan sampai berubah menjadi pisau yang mengiris hati. Dan ketika hidup belum sanggup menjadi jalan keluar bagi masalah orang lain, jangan pula menjadi sebab bertambahnya beban yang mereka pikul.
Di zaman ketika manusia berlomba-lomba untuk terlihat baik, terkadang kita lupa bahwa ukuran kemuliaan tidak selalu terletak pada besarnya kebaikan yang mampu kita lakukan. Ada kalanya kemuliaan justru bersemayam pada kemampuan menahan diri dari keburukan.
Tidak semua orang memiliki keluasan rezeki untuk berbagi. Tidak semua orang mempunyai kekuatan untuk menolong. Tidak semua orang diberi kesempatan menjadi pelita yang menerangi kehidupan banyak manusia. Namun setiap orang, tanpa kecuali, selalu memiliki pilihan untuk tidak menyakiti.
Pilihan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan kemenangan besar atas diri sendiri.
Karena sumber penderitaan manusia sering kali bukan berasal dari bencana besar, melainkan dari luka-luka kecil yang ditorehkan sesamanya. Sebuah ucapan yang merendahkan. Sebuah sikap yang mengabaikan. Sebuah fitnah yang disebarkan. Sebuah ketidakadilan yang dilakukan demi kepentingan diri sendiri.
Luka yang tampak kecil bagi pelakunya dapat menjadi beban panjang bagi yang menerimanya.
Dalam pandangan batin, menahan diri agar tidak menyakiti makhluk adalah adab yang sangat tinggi. Sebab seseorang yang mampu mengendalikan ego, amarah, dan nafsunya untuk tidak mencederai orang lain sejatinya sedang membangun peradaban kebaikan di dalam dirinya sendiri.
Mungkin ia belum menjadi dermawan. Mungkin ia belum menjadi penolong. Mungkin namanya tidak dikenal sebagai orang besar. Tetapi selama kehadirannya tidak menjadi sumber keresahan, tidak menjadi penyebab kesedihan, dan tidak menjadi alasan orang lain menangis, maka ia sedang menanam benih kemuliaan yang tak kasat mata.
Ada amal yang disaksikan manusia dan dipuji beramai-ramai. Namun ada pula amal yang sunyi, tersembunyi dalam relung hati, hanya diketahui oleh Allah semata.
Amal itu adalah ketika seseorang memilih untuk diam daripada melukai. Memilih memaafkan daripada membalas. Memilih menahan diri daripada menuruti amarah. Memilih tidak merugikan meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Barangkali tidak ada penghargaan atas semua itu. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pengakuan. Namun justru karena tidak terlihat itulah nilainya menjadi begitu tinggi di hadapan Tuhan.
Sebab tidak semua kebaikan harus hadir dalam bentuk tindakan besar. Kadang-kadang kebaikan hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: tidak menambah luka di dunia yang sudah penuh luka.
Maka jika hari ini kita belum mampu membuat orang lain bahagia, setidaknya jangan menjadi penyebab kesedihannya. Jika belum mampu meringankan beban sesama, jangan menambah berat yang harus mereka pikul. Dan jika belum mampu menjadi cahaya, jangan menjadi kegelapan.
Mungkin itulah awal dari perjalanan menuju jalan sunyi. Jalan yang tidak dipenuhi hasrat untuk dipuji, tidak dipenuhi keinginan untuk dianggap suci, melainkan jalan yang mengajarkan bahwa sebelum menjadi manusia yang bermanfaat, kita harus terlebih dahulu menjadi manusia yang tidak membawa mudarat.
Karena pada akhirnya, dunia ini tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang hebat. Dunia hanya membutuhkan lebih banyak manusia yang tidak saling menyakiti.
Dan sering kali, dari situlah segala kebaikan bermula.


