Oleh: Ali Syarief
Celana corduroy adalah celana favorit saya. Bahannya lembut, hangat, dan semakin lama dipakai justru semakin nyaman. Celana itu saya beli di Tokyo, kota yang selalu menyisakan kenangan dalam setiap perjalanan saya. Mungkin karena terlalu sering menemani langkah, warnanya kini mulai memudar.
Orang lain mungkin akan berpikir sederhana: beli saja yang baru. Tetapi saya termasuk “produk lama”. Saya berasal dari generasi yang diajarkan untuk merawat, bukan mengganti. Ketika sesuatu masih bisa diperbaiki, mengapa harus dibuang?
Tiba-tiba saya teringat masa lalu. Dulu, jasa celup pakaian bukanlah hal yang aneh. Kaus yang kusam dicelup lagi. Jaket yang warnanya pudar kembali segar. Celana yang kehilangan pesonanya diberi kehidupan baru. Budaya memperpanjang umur barang adalah bagian dari keseharian.
Iseng-iseng saya bertanya kepada ChatGPT, adakah jasa celup pakaian yang masih bertahan? Ternyata ada. Muncullah sebuah alamat beserta nomor WhatsApp. Saya pun menghubunginya.
Jawabannya datang dengan cepat. Sangat sopan. Sangat profesional.
Ia tidak langsung berkata, “Silakan datang.” Sebaliknya, ia bertanya dengan rinci: bahan celananya apa, berapa persen katun dan poliesternya, warna asli, warna yang diinginkan, hingga kondisi kainnya sekarang. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya yakin sedang berbicara dengan seseorang yang memahami pekerjaannya, bukan sekadar menerima pesanan.
Saya pun berangkat menuju alamat yang diberikan.
Di tengah perjalanan, seorang teman menelepon.
“Lagi di mana?”
“Lagi cari tukang celup,” jawab saya santai.
Beberapa detik kemudian, terdengar tawa yang meledak dari ujung telepon.
“Masih ada tukang celup?”
Ia tertawa lebih keras lagi ketika saya menjelaskan bahwa saya sedang menuju ke sana.
“Masa sih? Dan Bapak pula yang mencarinya?”
Saya ikut tersenyum. Barangkali memang terdengar lucu di zaman ketika segala sesuatu lebih mudah diganti daripada diperbaiki.
Namun, belum lama setelah telepon itu berakhir, sebuah pesan WhatsApp masuk.
Isinya permohonan maaf.
Pemilik nomor itu menjelaskan bahwa ia baru melihat pesan saya. Lebih mengejutkan lagi, ia mengatakan bahwa usaha celup yang dulu dijalankannya sudah lama tutup.
Saya sempat bingung. Lalu saya sadar.
Percakapan awal yang begitu cepat dan begitu lengkap ternyata tidak dijawab langsung olehnya. ChatGPT telah membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya berdasarkan informasi yang dulu pernah dipublikasikan tentang usahanya. Ketika pemiliknya sendiri membaca pesan itu, ia segera meminta maaf karena tidak ingin saya datang dengan harapan yang keliru.
Saya tersenyum sendiri.
Betapa uniknya zaman ini. Teknologi mampu menjaga jejak sebuah usaha yang sesungguhnya sudah berhenti beroperasi. Artificial Intelligence masih “mengingat” keahlian seseorang, sementara orangnya sendiri sudah memilih jalan hidup yang lain.
Perjalanan saya hari itu memang tidak menghasilkan celana yang kembali hitam pekat. Tetapi saya pulang membawa sesuatu yang lebih berharga.
Saya menemukan bahwa etika ternyata tetap hidup—baik pada manusia maupun pada teknologi yang dirancang untuk membantu manusia. Saya juga kembali diingatkan bahwa kenangan tidak selalu tersimpan pada benda, melainkan pada cara kita memperlakukannya.
Celana corduroy itu masih ada di lemari saya.
Warnanya memang tak lagi setajam dulu. Namun, mungkin justru di situlah letak keindahannya. Sama seperti manusia, semakin lama dipakai oleh kehidupan, warna boleh memudar, tetapi cerita yang melekat di dalamnya justru semakin kaya.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti, saya benar-benar menemukan seorang tukang celup yang masih setia menjaga profesi lama itu. Sebab selama masih ada orang yang memilih merawat daripada membuang, selalu ada harapan bahwa nilai-nilai lama tidak pernah benar-benar hilang.


