Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

munira by munira
September 15, 2026
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

*Kita berperang sengit di dalam diri, lalu apa gunanya perang dengan orang lain?*
— Jalaluddin Rumi

Ada perang yang tidak pernah terdengar suara senjatanya.
Tidak ada asap mesiu, tidak ada darah yang tumpah, tidak ada barisan tentara yang berhadap-hadapan. Namun perang itu berlangsung setiap hari, bahkan setiap saat—di dalam diri kita sendiri.

Kita berperang melawan kecewa. Melawan kesombongan. Melawan iri hati yang diam-diam tumbuh ketika melihat keberhasilan orang lain. Melawan amarah yang ingin segera dilampiaskan. Melawan ego yang selalu merasa paling benar.

Dan mungkin, justru perang itulah yang paling sulit.

Sebab musuh yang berada di luar diri mudah dikenali. Kita dapat menunjuknya, menghindarinya, bahkan menjauhinya. Tetapi bagaimana kita melawan sesuatu yang bersemayam di dalam dada sendiri?

Bagaimana kita mengalahkan ego yang memakai wajah kita?
Bagaimana kita menenangkan amarah yang lahir dari pikiran kita sendiri?
Bagaimana kita berdamai dengan luka yang selama ini kita sembunyikan?

Sering kali kita begitu sibuk memenangkan perdebatan, sampai lupa bertanya: **apa yang sebenarnya sedang kita menangkan?**

Kita ingin membuktikan bahwa kita benar.
Kita ingin orang lain mengakui kesalahan.
Kita ingin menjadi yang terakhir berbicara.
Kita ingin membalas kata-kata dengan kata-kata, luka dengan luka.

Padahal, tidak semua pertarungan harus dimenangkan.

Ada kalanya kemenangan justru berupa kemampuan untuk diam.
Ada kalanya keberanian bukan membalas, melainkan menahan diri.
Ada kalanya kebesaran hati bukan ketika kita berhasil menjatuhkan seseorang, tetapi ketika kita memilih untuk tidak melakukannya—meski kita mampu.

Rumi seakan mengingatkan bahwa sebelum menuding dunia, barangkali kita perlu lebih dahulu menengok ke dalam.

Sebab dunia di luar diri kita sering kali hanyalah cermin. Apa yang begitu mengganggu dari orang lain, terkadang adalah sesuatu yang belum selesai kita damaikan dalam diri sendiri.

Kita marah kepada seseorang karena kesombongannya, tetapi mungkin kita pun masih bergulat dengan kesombongan kita sendiri. Kita kecewa karena seseorang tidak memahami kita, sementara kita sendiri belum cukup belajar memahami orang lain.

Maka perjalanan paling jauh bukanlah perjalanan menuju tempat yang belum pernah kita datangi.

Melainkan perjalanan menuju **diri sendiri**.

Di sana kita menemukan ketakutan yang selama ini kita sembunyikan. Menemukan luka yang belum sembuh. Menemukan keinginan-keinginan yang terlalu lama kita biarkan menguasai hidup. Dan di sana pula kita belajar bahwa menjadi manusia bukan berarti tidak memiliki kekurangan, melainkan memiliki keberanian untuk mengakuinya.

Mungkin itulah sebabnya hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi lebih kuat.

Kadang hidup hanya meminta kita menjadi lebih **tenang**.

Tenang menghadapi orang yang tidak menyukai kita.
Tenang ketika disalahpahami.
Tenang ketika kebaikan kita tidak dibalas.
Tenang ketika dunia tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan.

Karena pada akhirnya, kita tidak mungkin memenangkan semua peperangan di luar sana.

Tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk berdamai dengan peperangan di dalam diri.

Dan ketika perang itu mulai reda, kita akan menemukan sesuatu yang selama ini mungkin kita cari ke mana-mana:

**kedamaian.**

Bukan karena dunia telah berubah menjadi lebih baik, tetapi karena hati kita tidak lagi mudah dikendalikan oleh buruknya dunia.

Mungkin itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Bukan ketika orang lain akhirnya kalah oleh kita,
melainkan ketika **ego kita akhirnya kalah oleh kebijaksanaan.**

Selamat pagi.
Semoga hari ini kita tidak terlalu sibuk memenangkan dunia, hingga lupa memenangkan hati kita sendiri.

ADVERTISEMENT
Previous Post

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

munira

munira

Related Posts

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”

by munira
September 14, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an menggunakan bahasa ketika berbicara tentang perjalanan manusia. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan...

Kalau Doa Sudah Cukup, Mengapa Nabi Harus Berperang?

by munira
September 13, 2026
0

Oleh Ali Syarief Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan dengan serius: kalau doa memang bisa menjadi jalan utama...

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

DI ANTARA JUBAH, HASRAT, DAN PERNIKAHAN – Ketika Kesucian Berhadapan dengan Tubuh Manusia

by munira
September 12, 2026
0

By Ali Syarief Ada paradoks tua dalam kehidupan manusia: Semakin tinggi seseorang diminta meninggalkan dunia, semakin besar pula pertanyaan tentang...

Tidak Semua Orang Harus Berjalan Cepat

Tidak Semua Orang Harus Berjalan Cepat

by munira
September 3, 2026
0

Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan hidup, bukan untuk menyerah, melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, mengapa...

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
  • BERJALANLAH DI BUMI, BUKAN SEKADAR KE BAITULLAH – Ketika Al-Qur’an Memerintah “Fasīrū” dan “Fantashirū”, tetapi Tidak Berkata “Berhajilah!”
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira