Oleh: Ali Syarief
Ada satu julukan yang sebenarnya tidak pernah saya sematkan sendiri kepada diri saya: **free thinker**.
Justru seorang teman yang sering memperkenalkan saya kepada orang lain dengan kalimat, *“Ini Ali, dia seorang free thinker,”* yang membuat saya kemudian bertanya-tanya:
**Benarkah saya seorang free thinker?**
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan istilah itu. Saya menganggapnya hanya sebuah label. Tetapi semakin sering teman saya menggunakannya, semakin saya merasa bahwa mungkin ada sesuatu yang ia lihat dari cara saya berbicara, bertanya, membaca persoalan, dan mengambil sikap.
Mungkin ia melihat bahwa saya tidak terlalu mudah menerima sesuatu hanya karena sesuatu itu sudah dianggap benar oleh banyak orang.
Mungkin ia melihat bahwa saya senang mempertanyakan hal-hal yang bagi sebagian orang sudah selesai.
Atau mungkin ia melihat bahwa saya cukup nyaman berada di tengah perbedaan—tanpa merasa harus segera memilih kubu.
Tetapi justru di sinilah persoalannya.
**Saya tidak ingin menjadi tawanan label.**
Termasuk label *free thinker* itu sendiri.
### Saya tidak pernah melamar menjadi free thinker
Saya tidak pernah bangun pada suatu pagi lalu berkata kepada diri sendiri:
*”Mulai hari ini saya seorang free thinker.”*
Tidak ada deklarasi.
Tidak ada manifesto.
Tidak ada kartu anggota.
Istilah itu datang dari orang lain.
Dan mungkin justru karena datang dari orang lain, saya bisa melihatnya dengan lebih jernih.
Bagi saya, *free thinker* bukanlah identitas yang harus dipertontonkan. Ia lebih merupakan cara seseorang berhadapan dengan pikiran: berani bertanya, berani mendengar, dan—yang paling sulit—berani mengubah pandangan ketika menemukan alasan yang lebih kuat.
Saya tidak selalu ingin berbeda.
Saya hanya tidak ingin **setuju secara otomatis**.
Saya tidak ingin menolak sesuatu hanya karena orang lain menyukainya. Tetapi saya juga tidak ingin menerimanya hanya karena semua orang menyukainya.
Di situlah saya merasa ada perbedaan antara **berpikir bebas** dan sekadar **ingin terlihat berbeda**.
### Bebas bukan berarti tanpa batas
Bagi saya, menjadi *free thinker* bukan berarti bebas mengatakan apa saja, melakukan apa saja, atau menolak semua bentuk otoritas.
Kebebasan berpikir justru membutuhkan tanggung jawab.
Saya tetap memiliki nilai.
Saya memiliki pengalaman.
Saya memiliki keyakinan.
Saya memiliki batas moral.
Saya juga memiliki banyak hal yang saya hormati—termasuk agama, tradisi, keluarga, kebudayaan, dan orang-orang yang telah memberi warna dalam perjalanan hidup saya.
Tetapi menghormati sesuatu tidak selalu berarti harus menerima seluruh tafsir tentangnya.
Saya bisa menghormati seseorang dan tetap berbeda pendapat dengannya.
Saya bisa mencintai sebuah tradisi dan tetap mempertanyakan sebagian praktiknya.
Saya bisa belajar dari sebuah pemikiran tanpa harus menjadi pengikutnya.
Dan saya bisa mengagumi seseorang tanpa harus menyalin seluruh cara berpikirnya.
Mungkin inilah yang dimaksud teman saya ketika ia memperkenalkan saya sebagai *free thinker*.
### Saya lebih suka pertanyaan daripada kepastian
Semakin bertambah usia, saya justru semakin menyadari bahwa kepastian kadang-kadang membuat manusia berhenti bertanya.
Padahal pertanyaanlah yang membuat kita terus berjalan.
Ketika seseorang mengatakan, **“Ini sudah pasti benar,”** saya sering kali justru tertarik bertanya:
*Benarkah?*
Dari mana kita tahu?
Apa konteksnya?
Apakah selalu demikian?
Bagaimana kalau kita melihatnya dari sisi yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan selalu tanda keraguan.
Kadang-kadang justru merupakan tanda bahwa kita sedang berusaha memahami sesuatu lebih dalam.
Saya tidak takut menemukan bahwa pendapat saya hari ini berbeda dengan pendapat saya beberapa tahun lalu.
Bukankah itu berarti saya masih tumbuh?
Saya bahkan tidak ingin menjadi orang yang selamanya konsisten hanya demi terlihat konsisten.
Ada kalanya kita harus mempertahankan pendapat.
Tetapi ada kalanya kita juga harus mempunyai keberanian untuk berkata:
**“Saya dulu berpikir begitu. Sekarang saya melihatnya secara berbeda.”**
Bagi saya, itu bukan kelemahan.
Itu kedewasaan berpikir.
### Jangan jadikan free thinker sebagai label baru
Ironisnya, saya justru berhati-hati dengan label *free thinker*.
Sebab begitu kita mengatakan, *“Saya seorang free thinker,”* kita berisiko menciptakan identitas baru yang kemudian harus kita pertahankan.
Padahal kebebasan berpikir seharusnya tidak menjadi penjara baru.
Kita bisa saja menjadi tawanan label “bebas”.
Hari ini kita merasa bebas karena menolak sesuatu.
Besok kita mungkin justru menolak sesuatu hanya karena ia datang dari kelompok yang tidak kita sukai.
Kalau itu terjadi, apakah kita masih bebas?
Atau kita hanya berpindah dari satu penjara pemikiran ke penjara yang lain?
Karena itu saya lebih nyaman mengatakan:
**Saya bukan seorang free thinker. Saya hanya berusaha untuk berpikir dengan pikiran saya sendiri.**
Kalau kemudian teman saya ingin menyebutnya *free thinker*, silakan.
Saya menerimanya sebagai sebuah pengamatan, bukan sebagai gelar.
### Perjalanan membuat saya semakin terbuka
Mungkin perjalanan hidup juga yang membuat cara berpikir saya seperti ini.
Saya beruntung bisa bertemu banyak orang, membaca banyak pemikiran, memasuki berbagai lingkungan, bepergian ke berbagai tempat, dan terutama mengalami perjumpaan lintas budaya.
Jepang, misalnya, mengajarkan kepada saya bahwa sesuatu yang kita anggap “normal” belum tentu normal bagi orang lain.
Cara orang membangun hubungan.
Cara keluarga berinteraksi.
Cara masyarakat menghormati waktu.
Cara mereka memandang pendidikan, bahasa, kebersamaan, dan tanggung jawab.
Semua itu membuat saya semakin percaya bahwa manusia tidak boleh terlalu cepat menganggap perspektifnya sendiri sebagai satu-satunya perspektif yang masuk akal.
Barangkali karena itu saya senang berada di antara perbedaan.
Saya justru menemukan banyak hal tentang diri sendiri ketika bertemu dengan orang yang berbeda dari saya.
### Jadi, apakah saya seorang free thinker?
Saya tidak tahu.
Dan mungkin saya tidak perlu tahu.
Kalau teman saya melihat saya sebagai *free thinker*, saya menerimanya sebagai sebuah cermin.
Tetapi saya tidak ingin cermin itu berubah menjadi sangkar.
Saya tidak ingin suatu hari nanti berkata:
*”Saya harus berpikir seperti seorang free thinker.”*
Karena saat itu saya sudah kehilangan kebebasan yang ingin saya pertahankan.
Saya hanya ingin tetap mempunyai ruang untuk bertanya.
Ruang untuk ragu.
Ruang untuk mendengar.
Ruang untuk berbeda.
Ruang untuk berubah.
Dan ruang untuk mengatakan:
**“Mungkin saya salah.”**
Sebab bagi saya, kebebasan berpikir bukanlah kebebasan untuk selalu benar.
Bukan pula kebebasan untuk selalu berbeda.
Kebebasan berpikir adalah keberanian untuk **mencari, menguji, mempertanyakan, dan kemudian menentukan sikap dengan kesadaran sendiri.**
Maka ketika teman saya kembali memperkenalkan saya kepada seseorang dan berkata,
*”Ali adalah seorang free thinker,”*
mungkin saya hanya akan tersenyum.
Bukan karena saya merasa hebat dengan julukan itu.
Tetapi karena saya tahu:
**Saya tidak ingin menjadi tawanan label apa pun—bahkan label yang mengatakan bahwa saya bebas.**







