Ada sebuah pertanyaan yang mungkin semakin sering muncul ketika seseorang memasuki usia 60, 70, atau bahkan 80 tahun:
“Berapa lama lagi saya akan hidup?”
Pertanyaan itu manusiawi. Tetapi menurut Dr. Hideki Wada, psikiater Jepang yang banyak memberikan perhatian pada kesehatan mental lansia, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting: **bagaimana kita menjalani hidup yang masih tersisa?**
Pandangan itu menjadi menarik karena usia lanjut sering dipandang sebagai masa ketika manusia harus semakin banyak mengurangi kehidupan: mengurangi aktivitas, mengurangi keinginan, mengurangi perjalanan, bahkan mengurangi harapan.
Dr. Wada justru menawarkan cara pandang yang berbeda.
Menjadi tua bukan berarti berhenti hidup.
Jangan berhenti bergerak
Salah satu pesan pentingnya sederhana: **tetaplah berjalan setiap hari, meskipun perlahan.**
Tidak perlu mengejar kecepatan orang muda. Yang penting tubuh tetap bergerak.
Gerakan ringan, berjalan keluar rumah, menghirup udara segar, dan sesekali menikmati sinar matahari adalah bagian dari menjaga tubuh sekaligus suasana hati.
Usia memang mengambil sebagian kekuatan fisik kita. Tetapi kita tidak perlu menyerahkan semuanya kepada usia.
Berjalanlah.
Pelan-pelan saja.
Karena setiap langkah adalah tanda bahwa kehidupan masih berlangsung.
Jangan terlalu keras kepada tubuh
Dr. Wada juga mengingatkan bahwa kesehatan pada usia lanjut tidak selalu berarti mengejar kesempurnaan angka-angka medis.
Tekanan darah, gula darah, berat badan dan berbagai kondisi kesehatan memang perlu diperhatikan. Tetapi menurut gagasan yang dirangkum dari pemikirannya, orang lanjut usia juga perlu mempertimbangkan **kualitas hidup**, bukan hanya angka kesehatan.
Artinya bukan mengabaikan penyakit atau berhenti minum obat. Pengobatan tetap harus mengikuti nasihat dokter.
Namun hidup juga tidak seharusnya berubah menjadi perlombaan tanpa akhir melawan penyakit.
Ada saatnya kita belajar berdamai dengan tubuh yang mulai berubah.
Lakukan apa yang masih membuat hati bahagia
Salah satu pesan yang terasa sangat manusiawi adalah: **lakukan hal-hal yang kita sukai dan hindari hal-hal yang terus-menerus membuat kita stres.**
Ketika masih muda, kita sering hidup berdasarkan keinginan orang lain.
Harus sukses.
Harus dihormati.
Harus terlihat hebat.
Harus selalu menang.
Tetapi setelah melewati usia tertentu, mungkin kita mulai sadar bahwa energi kita terbatas.
Mengapa harus menghabiskannya untuk orang yang tidak menyukai kita?
Mengapa harus terus menjelaskan diri kepada mereka yang memang tidak ingin memahami?
Mengapa harus memelihara hubungan yang hanya membuat hati lelah?
Pada usia lanjut, ketenangan menjadi sangat berharga.
### Sendiri tidak selalu berarti kesepian
Dr. Wada juga membedakan kehidupan sendiri dengan kesepian.
Seseorang dapat sendirian tetapi merasa damai.
Ia dapat membaca buku, minum kopi, berkebun, berjalan, mendengarkan musik, atau sekadar duduk memandang langit sore.
Kesendirian kadang bukan hukuman.
Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat dari kebisingan dunia.
Karena itu, tidak perlu takut pada kesunyian.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kesunyian berubah menjadi keterasingan. Tetaplah berkomunikasi, bertemu orang, keluar rumah, dan mempunyai kegiatan yang membuat kita merasa hidup.
Jangan berhenti belajar
Ada satu pesan Dr. Wada yang sangat penting: **ketika berhenti belajar, kita akan lebih cepat menua.**
Belajar tidak harus selalu berarti sekolah.
Mempelajari bahasa baru, membaca buku, mengenal teknologi, bertemu orang baru, bepergian ke tempat yang belum pernah dikunjungi, mencoba makanan baru, atau memahami sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui—semuanya adalah bentuk belajar.
Otak membutuhkan rangsangan.
Begitu pula jiwa.
Barangkali tubuh kita boleh berusia 70 tahun, tetapi rasa ingin tahu tidak harus ikut berusia 70 tahun.
Selama masih ada sesuatu yang ingin kita ketahui, ada bagian dari diri kita yang masih muda.
Jangan malu dengan keterbatasan
Pesan lain dari Wada terdengar sederhana tetapi dalam: jangan malu menggunakan bantuan ketika memang diperlukan.
Jika tubuh membutuhkan alat bantu, gunakan.
Jika sudah tidak aman mengemudi, berhentilah.
Jika perlu menggunakan popok, tidak perlu merasa malu.
Kemandirian bukan berarti melakukan semuanya seorang diri.
Kemandirian justru berarti mengetahui apa yang masih mampu kita lakukan dan kapan kita membutuhkan bantuan.
Tua bukan sesuatu yang memalukan.
Yang memalukan adalah memaksakan diri hanya karena takut dianggap tua.
Jangan kehilangan keinginan
Mungkin salah satu pesan paling indah dari pemikiran Wada adalah bahwa **memiliki keinginan merupakan tanda bahwa kita masih hidup.**
Masih ingin bepergian?
Pergilah jika memungkinkan.
Masih ingin belajar?
Belajarlah.
Masih ingin bertemu seseorang?
Temuilah.
Masih ingin mencintai dan dicintai?
Jangan merasa terlalu tua untuk itu.
Usia boleh bertambah, tetapi hati manusia tidak mempunyai tanggal kedaluwarsa.
Keinginan adalah api kecil yang membuat kehidupan tetap menyala.
### Pada akhirnya, berdamailah dengan waktu
Dr. Wada juga mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus diperlakukan sebagai sesuatu yang harus kita kendalikan sepenuhnya.
Ada hal-hal yang bisa kita ubah.
Ada yang hanya bisa kita terima.
Ada penyakit yang dapat disembuhkan, ada yang hanya dapat dikendalikan. Ada kehilangan yang tidak dapat dikembalikan. Ada orang yang datang dalam hidup kita, kemudian pergi.
Kita tidak dapat memerintahkan waktu untuk berhenti.
Kita juga tidak dapat memaksa kehidupan memberikan umur tertentu kepada kita.
Karena itu, mungkin setelah usia 60, pertanyaan **“Berapa lama lagi saya akan hidup?”** perlahan perlu diganti dengan pertanyaan yang lebih bermakna:
**“Bagaimana saya akan menjalani hari-hari yang masih diberikan kepada saya?”**
Mungkin jawabannya sederhana.
Dengan berjalan lebih pelan.
Dengan lebih banyak tersenyum.
Dengan mengurangi pertengkaran.
Dengan memaafkan.
Dengan terus belajar.
Dengan menikmati secangkir kopi.
Dengan bertemu orang-orang yang kita cintai.
Dengan melakukan sesuatu yang membuat hati bahagia.
Dan dengan menerima bahwa suatu hari perjalanan ini memang akan berakhir.
Sebab panjang umur bukan semata-mata tentang **berapa banyak tahun yang berhasil kita lewati**.
Panjang umur juga tentang **berapa banyak kehidupan yang berhasil kita rasakan di dalam tahun-tahun tersebut.**
Maka, setelah usia 60, barangkali kita tidak perlu terlalu sibuk menghitung berapa lama lagi kita akan hidup.
Selama hari masih diberikan, jalani.
Pelan-pelan.
Dengan tenang.
Dengan rasa syukur.
Dan kalau masih mampu, **tersenyumlah.**
Sebab mungkin itulah cara paling sederhana untuk mengatakan kepada kehidupan:
*“Saya masih di sini. Dan saya masih ingin menikmati hari ini.”






